EtIndonesia. Banyak orang meyakini bahwa “liburan adalah untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh.” Karena itu, saat libur tiba, banyak dari kita memanfaatkannya untuk menjauh sejenak dari rutinitas kerja dan beristirahat. Namun, menurut sejumlah ahli, tidak semua liburan bisa membuat tubuh dan pikiran benar-benar pulih dan segar kembali. Salah satu penyebab utamanya adalah cara kita berlibur yang keliru.
Rebekka Grun von Jolk, seorang ekonom yang menekuni bidang ekonomi perilaku, sosiologi, dan psikologi empiris, dalam artikelnya di situs Psychology Today, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil berbagai penelitian, kita bisa merancang liburan yang benar-benar memberikan efek pemulihan energi dan vitalitas.
Mengapa Liburan Sering Tidak Efektif?
Penelitian menunjukkan bahwa liburan berkaitan dengan perbaikan suasana hati, peningkatan kondisi kesehatan, dan pengurangan rasa lelah. Saat kita bisa melepaskan diri dari rutinitas harian dan beban kehidupan sehari-hari, tubuh memang terasa lebih ringan dan segar.
Namun, sayangnya, manfaat tersebut seringkali hanya berlangsung singkat, yakni sekitar dua hingga empat minggu setelah liburan berakhir.
Salah satu faktor paling penting dari kualitas liburan adalah kemampuan kita untuk melepaskan diri secara mental dari pekerjaan. Artinya, bukan hanya tubuh yang menjauh dari tempat kerja, tapi pikiran juga harus benar-benar lepas.
Contohnya, jangan membaca email kantor atau terus memikirkan masalah pekerjaan saat sedang duduk bersantai di tepi pantai. Pikiran yang masih terikat pada pekerjaan akan mengurangi efek penyegaran dari liburan.
Menariknya, memikirkan pekerjaan secara positif, seperti mengenang proyek yang membanggakan atau merefleksikan kekuatan diri, justru bisa membantu proses pemulihan mental. Jadi, bukan semua pikiran tentang pekerjaan itu buruk, asalkan bernada positif dan membangun.
Kombinasi Relaksasi dan Aktivitas Menyenangkan adalah Kunci
Faktor lain yang menentukan kualitas liburan adalah gabungan antara relaksasi dan pengalaman yang menyenangkan serta sedikit menantang. Liburan terbaik biasanya melibatkan istirahat, aktivitas yang memikat perhatian, dan pengalaman baru yang menyenangkan, namun tidak terlalu melelahkan.
Misalnya:
· Belajar olahraga baru seperti paddle board
· Mengikuti kelas fotografi
· Menjelajahi kota atau tempat baru yang belum pernah dikunjungi
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman yang segar, menyenangkan, dan bersifat sosial jauh lebih efektif dalam mengembalikan semangat dan energi daripada sekadar aktivitas yang pasif seperti hanya duduk-duduk santai tanpa melakukan apa pun.
Tidur yang Berkualitas dan Minim Stres = Liburan Sukses
Kualitas tidur saat liburan juga sangat menentukan seberapa efektif liburan dalam memulihkan tubuh dan pikiran. Tidur yang nyenyak saat berlibur akan meningkatkan perasaan bahagia dan memperkuat efek pemulihan.
Sebaliknya, liburan yang penuh tekanan, jadwal yang terlalu padat, atau diwarnai dengan konflik antarpribadi, akan mengurangi atau bahkan menghilangkan seluruh manfaat liburan. Di manapun lokasinya, jika stres terus membayangi, liburan tidak akan membuat tubuh dan pikiran benar-benar segar kembali.
Durasi Bukan Segalanya: Kualitas Lebih Penting daripada Panjang Liburan
Terakhir, panjang pendeknya liburan ternyata tidak terlalu menentukan, dibanding kualitas pengalaman dan seberapa terlibat kita dalam liburan itu sendiri. Bahkan, liburan singkat sekalipun bisa memberikan efek menyegarkan yang luar biasa asal dirancang dengan baik dan dijalani sepenuh hati.
Faktanya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa liburan pendek yang sering, asalkan benar-benar membuat kita rileks dan segar kembali, lebih efektif daripada satu kali liburan panjang dalam setahun.
Tiga Rahasia Menikmati Liburan yang Efektif
Dalam rangkumannya, Rebekka Grun von Jolk menyampaikan tiga tips utama agar liburan benar-benar menyegarkan dan membangkitkan semangat:
● 1. Lepaskan Diri Sepenuhnya dari Pekerjaan
Jangan hanya sekadar menjauh secara fisik dari tempat kerja—pastikan juga secara mental Anda bebas dari beban kerja. Tetapkan batasan yang jelas. Beranilah untuk tidak membuka email atau aplikasi komunikasi kantor selama liburan. Beri izin kepada diri sendiri untuk benar-benar offline.
● 2. Gabungkan Waktu Istirahat dengan Aktivitas Menyenangkan
Tidur dan beristirahat memang penting, tapi liburan yang dikombinasikan dengan hal baru, pembelajaran, dan kegiatan menarik justru memberikan efek pemulihan yang lebih dalam.
● 3. Fokus pada Kualitas, Bukan Durasi
Liburan singkat yang berkualitas tinggi dan bebas tekanan lebih baik daripada liburan panjang yang melelahkan. Bahkan setelah liburan selesai, membiasakan diri beristirahat singkat setiap hari juga sangat bermanfaat bagi ketahanan mental dan fisik kita.
Liburan Bukan Barang Mewah, Melainkan Kebutuhan
Di akhir artikelnya, Grun von Jolk menekankan bahwa liburan bukanlah sebuah kemewahan, melainkan bagian penting dari menjaga keseimbangan hidup dan semangat kerja. Maka dari itu, saat merencanakan liburan, jangan hanya memikirkan destinasi dan waktu—pikirkan juga bagaimana cara menjalani liburan itu agar benar-benar memulihkan energi.
Sebelumnya, sejumlah pakar perjalanan juga menyampaikan, jika Anda mengalami 10 tanda berikut, itu berarti Anda sudah sangat butuh liburan: sulit tidur, mudah marah, sering melakukan kesalahan, kehilangan semangat, dan merasa iri sekaligus kecewa melihat orang lain liburan.(jhn/yn)


