EtIndonesia. Pada Minggu (13 Juli), Australia dan Amerika Serikat memulai latihan militer gabungan terbesar dalam sejarah mereka, yang melibatkan lebih dari 30.000 personel militer dari 19 negara.
Latihan ini diberi sandi “Talisman Sabre 2025” dan akan berlangsung selama dua minggu mulai 13 Juli. Wilayah geografis latihan ini mencakup area terluas sepanjang sejarah, dari Pulau Christmas di Samudra Hindia milik Australia hingga Laut Karang di pesisir timur Australia, dengan jarak membentang sekitar 6.500 kilometer.
Tujuan dari latihan ini adalah untuk mensimulasikan skenario operasi gabungan multi-poin, multi-domain, dan multi-nasional, termasuk persiapan pasukan, pendaratan amfibi, pertempuran darat, laut, dan udara, serta latihan perang siber dan luar angkasa—semuanya untuk memperkuat kemampuan pencegahan terhadap ekspansi militer Partai Komunis Tiongkok di kawasan Pasifik.
“Latihan ini mencerminkan keinginan bersama negara-negara peserta untuk menciptakan kawasan Indo-Pasifik yang damai, stabil, bebas dan terbuka, yang menghormati hukum internasional, dan di mana negara-negara berdaulat bisa bertindak secara mandiri tanpa tekanan atau ancaman,” kata Letnan Jenderal Greg Bilton, Komandan Operasi Gabungan Angkatan Pertahanan Australia.
Militer Australia menyatakan bahwa di masa lalu, Tiongkok pernah mengirim kapal untuk mengamati latihan ini, namun hingga saat ini belum terlihat ada tindakan serupa pada tahun ini.
Sebagai sekutu keamanan utama Australia, militer AS saat ini tengah memperluas fasilitas militernya di Australia. Pekerjaan itu termasuk peningkatan landasan pacu, fasilitas penyimpanan bahan bakar, dan hanggar perawatan untuk mendukung pembom strategis B-52, jet tempur F-22, dan memperkuat kemampuan proyeksi militer AS di kawasan Indo-Pasifik. (Hui/asr)
Laporan oleh jurnalis NTD Xu Zhe dan Zhang Ruiqi.


