Pemberontakan Senyap Generasi Berikutnya terhadap Banjir Digital

oleh Kay Rubacek

Ketika saya berbicara dengan teman-teman yang berusia 60 dan 70 tahun, keluhan yang sering muncul adalah: “Anak-anak jaman sekarang terus-menerus menatap layar. Mereka cemas, tidak stabil, dan tidak tahu nilai kehidupan nyata.” Seolah-olah jurang yang tak terlewati telah terbentuk antara generasi. Berita malam pun memperkuat perasaan itu dengan aliran tak berujung dari kemarahan, perpecahan, dan judul-judul menakutkan yang membuat kita terus menggulir layar. Namun, jika kita melangkah melewati kebisingan itu, kita akan menemukan cerita yang lebih tenang—yang seharusnya memberi harapan nyata bagi setiap generasi Baby Boomer tentang masa depan.

Pada tahun 2024, penjualan album vinil di Amerika Serikat mencapai lebih dari 44 juta unit, melampaui penjualan CD untuk tahun ketiga berturut-turut. Itu saja sudah mengejutkan—lebih mengejutkan lagi ketika diketahui bahwa sekitar setengah dari para pembelinya berusia di bawah 35 tahun. 

Generasi Z dan Milenial muda, yang tumbuh besar sepenuhnya dalam era streaming, kini antre di toko-toko rekaman untuk membeli musik yang bisa mereka pegang secara fisik. Tanyakan pada mereka alasannya, dan Anda akan mendengar jawaban serupa: “Rasanya nyata,” “Saya suka rutinitasnya,” “Itu membantu saya untuk memperlambat.” Di dunia dengan guliran tak terbatas dan gangguan algoritmik, mereka sedang mencari sesuatu yang nyata. Sesuatu yang membumi.

Ini bukan tren yang terisolasi. Anak-anak muda mulai kembali menemukan toko buku independen. Mereka mengadakan malam puisi. Mereka menulis jurnal dengan tangan. “Silent walking”—berjalan kaki tanpa musik, tanpa podcast, tanpa ponsel—menjadi tren di TikTok, dengan lebih dari setengah juta penayangan di bawah tagar itu. Sekilas, ini mungkin terlihat seperti nostalgia. Tapi lebih dari itu, ini adalah pemberontakan diam-diam terhadap kelebihan rangsangan. Sebuah cara untuk merebut kembali kendali atas sistem saraf mereka.

Ironisnya, ini semua adalah hal-hal yang justru sangat dihargai oleh banyak kalangan Baby Boomer: membaca buku, memasak makanan sungguhan, duduk di teras, berjalan kaki hanya untuk berpikir. Ternyata, generasi-generasi itu tidak terlalu berbeda—mereka hanya sedang menavigasi hidup dari dua ujung badai digital yang bising.

Tentu saja, dunia telah banyak berubah sejak para Boomer menjalani masa remaja mereka. Dan, penting diingat betapa lebih sulit proses pendewasaan itu saat ini. Pada tahun 1970-an atau 1980-an, mencoba sesuatu di sebuah pesta mungkin hanya berujung pada mabuk. Sekarang, tindakan serupa bisa berakibat fatal. Pil-pil yang mengandung fentanyl membanjiri jalanan, menyamar sebagai obat-obatan umum. Bahkan, overdosis fentanyl kini menjadi penyebab utama kematian bagi warga Amerika berusia 18 hingga 45 tahun. Sementara itu, hampir setiap aspek budaya anak muda dibentuk oleh internet 24 jam nonstop—di mana rentang perhatian rata-rata hanya 47 detik sebelum gangguan berikutnya muncul. Bahkan musik pun telah berubah. Lagu-lagu populer di dekade-dekade lalu dipenuhi cinta, harmoni, dan harapan. Lagu-lagu hits saat ini lebih gelap, lebih kesepian, dan lebih eksplisit—mencerminkan kondisi batin generasi yang berjuang untuk bertahan dalam dunia yang terpecah.

Semua ini bukan berarti generasi muda lebih lemah. Ini berarti medan perangnya telah berubah. Perjuangan mereka lebih tak terlihat, lebih terus-menerus, dan lebih pribadi. Itulah mengapa kembalinya mereka ke hal-hal analog—vinil, buku, berjalan kaki, menulis jurnal—bukan sekadar menggemaskan. Ini adalah strategi. Sebuah jalan kembali menuju ketenangan, kehadiran, dan kejernihan.

Alih-alih mengabaikan generasi muda, para Boomer memiliki kesempatan untuk menjadi mentor mereka. Bukan dengan ceramah atau penilaian, melainkan dengan kehadiran. Anak-anak muda tidak membutuhkan lebih banyak konten—mereka membutuhkan koneksi. Dan siapa yang lebih baik untuk menjadi panutan daripada mereka yang masih mengingat bagaimana rasanya hidup sebelum serbuan digital?

Jadi mungkin ajaklah anggota keluarga yang lebih muda untuk mendengarkan rekaman favorit Anda. Bacalah satu bab buku bersama. Tukar keterampilan—minta mereka menjelaskan aplikasi baru, dan ajarkan cara memperbaiki kenop pintu yang longgar atau menyeimbangkan buku cek. Semakin sering kita terhubung lintas generasi, semakin kita menyadari bahwa kita semua mendambakan hal yang sama: makna, ketenangan, tujuan, dan percakapan yang nyata.

Pada tahun 1969, warga Amerika dari semua usia menyaksikan dengan takjub saat Neil Armstrong melangkah di bulan untuk pertama kalinya. Rasa takjub kolektif itu menyatukan bangsa. Sebagai bagian dari Generasi X, saya tidak hidup saat peristiwa bersejarah itu terjadi, namun mungkin “misi bulan” kita saat ini lebih bersifat batin—kembali bersama ke kedalaman, fokus, dan kepercayaan satu sama lain. Dan kabar baiknya: itu sudah mulai terjadi. Hanya saja, lebih tenang dari yang kita bayangkan.

Anda akan melihatnya dalam kilatan piringan hitam yang berputar. Dalam tatapan seorang remaja yang menatap langit, bukan layar. Dalam puisi tulisan tangan yang diselipkan di saku belakang jaket bekas yang sudah usang. Mungkin kita tidak sejauh yang kita kira. Mungkin kita hanya butuh cara yang lebih lambat dan tenang untuk kembali satu sama lain.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Tentang Penulis

Kay Rubacek adalah pembuat film peraih penghargaan, penulis, pembicara, dan mantan pembawa acara “Life & Times” di NTD. Setelah pernah ditahan di penjara Tiongkok karena memperjuangkan hak asasi manusia, ia mendedikasikan karyanya untuk menghadapi rezim komunis dan sosialis dalam bentuk modernnya secara global. Ia juga telah menjadi kontributor di The Epoch Times sejak 2010.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine