Selalu Hanya Peduli pada Diri Sendiri! Pelaku Emosional Sering Kali Tak Punya Rasa Empati

EtIndonesia. Beberapa pelaku pemerasan emosional (emotional blackmailer) memiliki tingkat empati yang sangat rendah. Mereka lebih mementingkan kebutuhan diri sendiri ketimbang memahami atau memperhatikan perasaan dan kebutuhan orang lain.

Bagi mereka, yang penting adalah apa yang mereka inginkan. Mereka sangat jarang menyadari bahwa orang lain juga punya kebutuhan dan batas. Dalam benak mereka, semua harus berpusat pada dirinya.

Mengapa ada orang yang bisa menjadi pelaku pemerasan emosional? Mereka mungkin adalah anggota keluarga, pasangan, sahabat, atau bahkan atasan dan rekan kerja kita.

Apa sebenarnya yang terjadi dalam pikiran mereka, sehingga terus menuntut kita secara emosional dan membuat kita merasa bersalah terus-menerus?

Mari kita lihat ciri-ciri khas dari pelaku pemerasan emosional berikut ini.

Hanya Memikirkan Diri Sendiri: Sebuah Kisah Nyata

“Saya sudah menjalin hubungan dengan tunangan saya selama 8 bulan. Awalnya dia bekerja di luar negeri, jadi kami jarang bertemu. Rencananya, setelah dia kembali ke Taiwan tahun ini, kami akan menikah.

Tapi sejak dia kembali dan kami jadi lebih sering bersama, saya mulai merasa ada yang tidak beres. Dia sering pergi makan, meeting, atau perjalanan dinas dengan wanita lain—entah itu rekan kerja, klien penting, atau ‘teman baik’-nya.

Suatu kali, dia bilang akan makan malam dengan ‘teman baik’-nya, tapi sampai tengah malam belum pulang. Saya akhirnya tidak tahan dan berkata bahwa saya merasa tidak nyaman dengan semua pertemuan pribadi dengan wanita lain itu. Saya minta agar setelah menikah nanti, dia bisa lebih menjaga batasan.

Namun yang terjadi malah sebaliknya—dia meledak secara emosional!”

“Dia bilang, ‘Awalnya kupikir kamu wanita yang cerdas, dewasa, dan mandiri, bukan tipe cemburuan kekanak-kanakan seperti ini. Ternyata kamu sama saja dengan wanita-wanita lain—selalu curiga! Ini bikin aku sakit hati!’

Dia bahkan menuduh saya tidak mencintainya, karena tidak mempercayainya, dan hanya ingin mengontrol hidupnya.

Dia berkata: ‘Kalau kamu seperti ini, sebaiknya pernikahan kita ditunda saja. Aku nggak sanggup hidup dalam pernikahan yang istri tiap hari nyuruh laporan posisi terus.’”

Mendengar ucapannya, saya sangat sedih. Padahal saya bukan tidak percaya, hanya merasa khawatir dan tidak nyaman karena dia terlalu sering bersama wanita lain dalam konteks pribadi.

Tapi setelah mendengarnya bicara seperti itu, saya mulai merasa bersalah. Mungkin saya memang terlalu posesif dan egois, tidak cukup memahami perasaannya…?”

Kurangnya Empati: Hanya Aku yang Penting

Banyak pelaku pemerasan emosional seperti pria dalam cerita tadi memiliki empati yang sangat rendah.

Yang mereka perhatikan hanyalah perasaan dan kepentingan mereka sendiri. Mereka sulit menyadari bahwa orang lain juga memiliki perasaan, kebutuhan, dan batasan yang valid.

Bahkan saat diberi tahu atau diingatkan oleh orang lain, mereka merasionalisasi pengabaian mereka, dan tetap merasa bahwa apa yang mereka inginkan lebih benar dan lebih penting daripada apa pun yang dirasakan orang lain.

Ketika Rasa Bersalah Dihadapi dengan Menyalahkan

Saat seseorang mengingatkan mereka: “Kamu cuma peduli pada dirimu sendiri dan mengorbankan perasaanku demi keinginanmu.”

Alih-alih merefleksi dan bertanya: “Apakah aku sudah menyakiti orang lain?”

Mereka justru langsung menyerang balik. Dengan menyalahkan orang lain, mereka bisa mengurangi rasa bersalahnya sendiri.

Mereka menggunakan strategi “balik menyerang”, agar bisa meyakinkan dirinya bahwa:

“Akulah yang disakiti.”

 “Akulah korbannya.”

 “Kamu yang tidak memahami aku.”

Seperti pria dalam kisah tadi—bukannya mencoba memahami mengapa pasangannya merasa tidak nyaman, dia malah menuduh balik, menyebut sang tunangan tidak dewasa, tidak pengertian, dan penuh kecurigaan.

Kenapa Mereka Begitu Defensif?

Pelaku pemerasan emosional sangat sulit menerima gagasan bahwa dirinya mungkin melakukan kesalahan.

Perasaan bahwa “aku bisa salah” membuat mereka sangat tidak nyaman.

Alih-alih menghadapi perasaan itu dengan kedewasaan, mereka memilih untuk:

·        Membesar-besarkan perasaan mereka sendiri.

·        Memutarbalikkan logika.

·        Membuat orang lain merasa bersalah.

Mereka menggunakan tekanan emosional seperti:

“Semua ini salahmu!”

“Kamu yang tidak peka!”

“Kalau saja kamu tidak seperti ini, aku tidak akan begini!”

Mereka Tak Pernah Belajar bahwa Hubungan Butuh Komunikasi

Inilah titik buta terbesar para pelaku pemerasan emosional:  Mereka tidak pernah belajar bahwa dalam hubungan, setiap masalah bisa dan perlu dibicarakan.

Mereka tidak tahu bahwa:

·        Memperhatikan kebutuhan orang lain bukan berarti mengalah total.

·        Mengubah sedikit sikap demi kenyamanan pasangan bukan berarti dirinya salah atau buruk.

Mungkin, sejak kecil mereka hidup dalam lingkungan yang meyakinkan mereka bahwa:

“Kesalahan = kegagalan = dirimu tidak berharga.”

Jadi, saat ada orang yang memberi masukan, mereka langsung panik dan merasa terancam.

Sebagai bentuk pertahanan diri, mereka memilih menyalahkan orang lain, agar tetap merasa nyaman dan merasa “benar”.

Penutup: Jangan Terjebak Rasa Bersalah yang Tidak Perlu

Jika Anda sedang berhadapan dengan orang yang kerap memeras Anda secara emosional, ingatlah: Memiliki perasaan tidak nyaman, ingin batasan yang sehat, atau meminta pengertian bukanlah kesalahan.

Jangan biarkan rasa bersalah palsu membuat Anda kehilangan suara dan martabat Anda dalam sebuah hubungan.

Empati, komunikasi, dan saling menghormati adalah pondasi hubungan yang sehat. Jika hanya satu pihak yang selalu merasa bersalah dan mengalah,  itu bukan cinta — itu adalah manipulasi. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine