Cerita Pendek Mengharukan: Pemungut Barang Bekas

EtIndonesia. Ibunya Lin Hai sudah meninggal sejak dia masih kecil. Sejak itu, hanya ayahnya yang membesarkannya seorang diri hingga dewasa. Ayahnya adalah seorang pemungut barang bekas. Musim berganti dari semi ke panas, gugur ke dingin, dan begitu terus, suara lantangnya memanggil “Pemungut barang bekas, ooo!” senantiasa mengiringi perjalanan hidup Lin Hai dari kecil sampai besar.

Waktu berlalu, Lin Hai pun tumbuh dewasa, lulus ujian masuk perguruan tinggi, kemudian bekerja. Sementara itu, sang ayah semakin menua dari hari ke hari. Tubuhnya membungkuk seperti udang, tampak rapuh, seolah tertiup angin saja bisa jatuh. Tapi dia tetap memungut barang bekas. Lin Hai sudah berulang kali membujuk agar ayahnya beristirahat, namun ayahnya bersikeras tetap bekerja. Dia ingin meringankan beban anaknya meski hanya sedikit, bahkan berusaha membantu menabungkan uang untuk membeli rumah Lin Hai.

Sekejap kemudian, Lin Hai pun menikah dan membangun keluarga kecilnya. Hidupnya sudah mulai stabil. Dia pun tak ingin lagi membiarkan sang ayah menderita, dan berencana membawanya tinggal di kota agar bisa menikmati hidup. Namun siapa sangka, tepat saat itu ayahnya tiba-tiba jatuh. Dokter mengatakan dia meninggal karena serangan jantung mendadak yang disebabkan oleh kelelahan kronis selama bertahun-tahun.

Kepala Lin Hai terasa kosong, hatinya penuh dengan penyesalan dan kebencian. Tapi dia tidak membenci orang lain—dia hanya membenci dirinya sendiri: Mengapa aku tidak memaksa ayah berhenti memungut barang bekas? Kenapa aku tidak lebih cepat membawanya ke kota untuk menikmati hidup? Mengapa? Kenapa?

Di kampung halaman, ayah Lin Hai terbaring diam di atas selembar pintu kayu yang dijadikan usungan. Hingga detik itu, tubuhnya yang membungkuk seperti busur belum juga bisa diluruskan. Lin Hai memandanginya dalam diam. Dia menatap lama tanpa berkata apa pun, mencoba mengukir jelas wajah ayahnya yang terakhir kali itu ke dalam benaknya.

Saat itulah, paman tua yang memimpin upacara pemakaman mengingatkan: “Hai Zi, sudah waktunya jenazah ayahmu dimasukkan ke dalam peti. Sesuai adat di kampung, sebagai anak yang berbakti, kamu harus menangis keras dulu.”

Lin Hai membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Semua orang menunggu, berharap. Tapi Lin Hai tak bersuara. Bahkan sepatah pun tidak.

Pamannya mendorong lagi, orang-orang pun mulai menyemangati. Salah satu bibi bahkan maju, meneteskan air mata sambil membujuk: “Hai Zi, ayahmu itu seumur hidup nyaris menduda. Di dunia ini tak ada yang lebih menderita darinya…”

Lin Hai teringat semua kesusahan yang dialami ayahnya. Dadanya terasa bergemuruh, gelisah luar biasa. Tapi tetap saja, dia tidak bisa menangis. Mungkin, semakin dalam rasa sedih, justru air mata makin sulit keluar.

Paman yang memimpin upacara pun mulai kesal. Wajahnya berubah gelap, dan dengan nada keras dia berkata: “Nak, kamu harus menangis hari ini, tak bisa tidak. Kalau tidak, nanti arwah ayahmu akan menderita di alam baka. Kasihan dia, semasa hidup belum pernah menikmati kasih sayang anak, masa setelah mati pun harus menderita juga?”

Semua orang langsung mengerti maksud paman itu—dia tengah menegur Lin Hai yang tak segera menunjukkan bakti pada orangtuanya.

Seseorang menenangkan: “Paman, waktunya sudah hampir tiba. Sepertinya Hai Zi memang tak sanggup menangis. Bagaimana kalau kita langsung mulai proses penguburan saja?”

Orang lain juga ikut membujuk. Akhirnya, sang paman pun luluh. Dia menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan dan berseru: “Baiklah, mulai pemakaman!”

Begitu kata itu keluar, musik duka langsung menggema dari kelompok pengiring upacara. Beberapa orang segera maju, dan dengan hati-hati mengangkat tubuh ayah Lin Hai, lalu meletakkannya ke dalam peti mati.

Pamannya berkata: “Hai Zi, cepat lihat terakhir kalinya. Setelah tutup peti ini ditutup, kamu tak akan bisa melihatnya lagi…”

Hati Lin Hai terasa seolah disayat. Dia memegangi pinggiran peti mati erat-erat dan terus menatap wajah ayahnya. Dada Lin Hai naik turun dengan cepat. Semua orang mengira, akhirnya dia akan menangis.

Tapi tiba-tiba, Lin Hai malah berkata: “Paman… bolehkah aku berteriak satu kali saja?”

Pamannya tertegun, begitu juga semua orang yang hadir. Dengan ragu-ragu, sang paman menjawab: “Kau mau berteriak? Berteriak apa? Ya sudah, teriak saja…”

Lin Hai menatap wajah ayahnya, bibirnya bergetar hebat. Dan tiba-tiba, dengan suara menggelegar, dia berteriak sekuat tenaga:  “PEMUNGUT BARANG BEKAAAAS…!”

Nada suara, intonasi, bahkan seretan panjang di akhir kata, persis seperti suara ayahnya dulu.

Semua orang tercengang. Dalam sekejap, emosi Lin Hai pun meledak seperti banjir bandang yang menerjang bendungan. Dia meraung sejadi-jadinya, memukul tanah dan menangis dengan suara parau dan memilukan…

Cerita ini menjadi potret nyata tentang kasih sayang seorang ayah, pengorbanan tanpa pamrih, dan penyesalan seorang anak yang datang terlambat. Terkadang, air mata bukan satu-satunya bentuk kesedihan. Tapi satu kalimat sederhana yang menyimpan seluruh kenangan—bisa menjadi jeritan paling memilukan yang pernah terdengar. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine