EtIndonesia. Ibu kota Suriah, Damaskus, kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah militer Israel secara tiba-tiba melancarkan serangan udara presisi ke sejumlah titik vital pada Selasa (15/7) dini hari waktu setempat. Target utama serangan ini mencakup markas besar Kementerian Pertahanan Suriah, kantor Staf Militer, serta kawasan strategis di sekitar istana kepresidenan. Akibat serangan tersebut, setidaknya lima prajurit Suriah tewas, sementara lebih dari 30 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk di antaranya warga sipil.
Motif Balasan dan Solidaritas untuk Druze
Pemerintah Israel, melalui Menteri Pertahanan, Israel Katz, menegaskan bahwa operasi militer tersebut merupakan respons langsung atas aksi militer Suriah di wilayah Suwayda—daerah yang dikenal sebagai pusat komunitas minoritas Druze di Suriah. Katz menyoroti bahwa Israel tidak akan tinggal diam menyaksikan penindasan terhadap kelompok Druze yang selama ini menjadi sasaran represi Pemerintah Suriah.
“Serangan ini adalah pesan tegas dan tekanan nyata bagi rezim Suriah. Kami tidak akan membiarkan penindasan terhadap warga Druze berlanjut,” ujar Katz dalam pernyataan resmi.
Respons Global dan Ketegangan Diplomatik
Serangan udara Israel ini sontak mengundang reaksi keras dari berbagai pihak. Seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan Israel mengungkapkan kepada media internasional Axios bahwa Amerika Serikat telah meminta Israel untuk menghentikan serangan di Damaskus dan memberi ruang diplomasi guna meredakan eskalasi.
Di sisi lain, Pemerintah Suriah segera mengajukan protes resmi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menuduh Israel telah melanggar kedaulatan negaranya. Namun, di tengah ketegangan, sejumlah sumber keamanan Israel meyakini bahwa konflik tidak akan berlangsung lama.
“Kami memperkirakan Presiden Suriah akan segera mengumumkan gencatan senjata dan menarik pasukannya dari Suwayda,” ujar salah satu pejabat keamanan Israel.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan bahwa telah tercapai kesepakatan langkah-langkah konkret untuk menghentikan kekerasan dan membuka jalan dialog antara Pemerintah Suriah dan komunitas Druze.
Druze: Minoritas Terjepit dalam Konflik
Druze merupakan kelompok minoritas yang tersebar di Suriah, Israel, dan Lebanon. Dalam sejarahnya, mereka selalu berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata, khususnya perang saudara Suriah. Namun kenyataannya, pemerintah militer Suriah justru sering memaksa pemuda Druze untuk bergabung dalam dinas militer, bahkan tak segan melakukan penangkapan, operasi militer, hingga serangan menggunakan tank dan senjata berat ke desa-desa Druze.
Beberapa waktu terakhir, aparat keamanan Suriah dilaporkan semakin gencar melakukan penggeledahan dan intimidasi terhadap rumah ibadah serta sekolah di komunitas Druze. Tindakan represif ini memicu gelombang perlawanan, aksi unjuk rasa, dan bentrokan hebat, yang telah menewaskan sekitar 240 orang—mayoritas merupakan warga sipil.
Dimensi Lintas Batas dan Imbauan Pemerintah Israel
Situasi menjadi semakin kompleks setelah beredar laporan bahwa sejumlah pemuda Druze asal Israel berupaya menyeberang ke Suriah demi membantu sanak keluarga mereka yang terjebak konflik. Merespons hal itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu secara terbuka meminta seluruh warga Israel, khususnya keturunan Druze, agar tidak menyeberangi perbatasan. Dia menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat berbahaya, berisiko menyebabkan kematian, penculikan, atau bahkan mengganggu operasi militer Israel di kawasan tersebut.
“Keselamatan kalian lebih utama. Serahkan proses penyelamatan dan bantuan kemanusiaan kepada militer. Kami mohon semua kembali ke rumah masing-masing,” tegas Netanyahu dalam konferensi pers.
Tekanan Internasional dan Kepentingan Geopolitik
Komunitas internasional kini semakin gencar mendesak semua pihak untuk menahan diri, memprioritaskan keselamatan warga sipil, serta mencegah meluasnya konflik di kawasan. Menteri Luar Negeri Israel juga telah berkomunikasi dengan Uni Eropa, menegaskan bahwa penindasan terhadap minoritas di Suriah tidak bisa ditoleransi dan dapat merusak stabilitas kawasan, sekaligus bertentangan dengan nilai dan kepentingan Eropa.
“Stabilitas Suriah adalah kunci perdamaian regional. Ketidakadilan terhadap kelompok minoritas harus segera dihentikan,” ujar pejabat Kemenlu Israel dalam pertemuan diplomatik dengan utusan Uni Eropa.
Situasi di Damaskus dan wilayah Druze masih terus berkembang. Dunia menanti langkah nyata dari seluruh pihak untuk menghentikan pertumpahan darah dan membawa perdamaian bagi rakyat Suriah.


