Anak Laki-laki Dimasukkan ke Bagasi Mobil oleh Ayah Kandung dan Dibawa Menempuh Ribuan Kilometer — Sang Ibu Hancur Hatinya

Baru-baru ini, kasus penyiksaan terhadap seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Guangdong, Tiongkok, oleh ayah kandungnya menarik perhatian publik. Menurut pengakuan sang anak, ia pernah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh ayahnya dan dibawa menempuh perjalanan ribuan kilometer. Sang ibu sangat terpukul setelah mengetahui hal ini

EtIndonesia. Seorang ibu pada 14 Juli,  mengunggah video melalui akun media sosialnya “木木在順德” (Mu Mu di Shunde), menyatakan bahwa ia telah lama bercerai dengan ayah dari anaknya, dan sang anak mengalami kekerasan dari ayah kandung serta ibu tirinya. 

Saat ikut bepergian bersama keluarganya, anak itu seharusnya duduk di kursi belakang, namun malah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh sang ayah, bersama dengan sebuah kereta dorong bayi.

Saat itu, di dalam mobil terdapat tujuh orang: ayah si anak, ibu tiri, kakek, nenek, anak ibu tiri, serta seorang bayi.

Sang ibu menjelaskan bahwa di tengah cuaca panas ekstrem Juli dan Agustus, anaknya harus berada di dalam bagasi mobil selama beberapa jam.

Dalam video, si anak mendemonstrasikan bagaimana ia berbaring di dalam bagasi mobil saat itu — tampak ia meringkuk dengan posisi miring di dalam ruang sempit tersebut.

Sang ibu, yang menyaksikan hal ini, sangat sedih dan bertanya, “Dia (ayahmu) memang menyuruhmu duduk di situ? Katakan pada Mama, siapa yang menyuruhmu duduk seperti itu?”

Anak itu menjawab, “Ayah. Dia menyuruhku merangkak masuk ke sana.” Setelah ia berbaring, sang ayah kemudian memasukkan kereta bayi ke dalam bagasi juga.

Ibunya melanjutkan bertanya, “(Ayahmu) memang menyuruhmu berbaring seperti itu? Hari itu kamu memang begitu? Bukan duduk?”

Anak itu berkata, “Aku bisa duduk, tapi hanya dengan susah payah.”

Mendengar pengakuan anaknya, sang ibu tampak sangat sedih dan marah, hingga suaranya bergetar.

Pada 15 Juli, dalam sebuah video, sang ibu menahan amarahnya sambil berkata, “Soal bagasi mobil itu, sebelumnya aku salah. Bukan hanya dari Foshan, Guangdong ke Guilin, Guangxi sejauh 500 kilometer, tapi itu pulang-pergi — total 1.000 kilometer. Dia membiarkan anakku yang baru 9 tahun berbaring di bagasi, menempuh perjalanan sejauh 1.000 kilometer di jalan tol. Baru saja anakku mengkonfirmasi hal ini denganku.”

Menurut penuturan sang ibu, kejadian anak berbaring di bagasi ini terjadi pada liburan musim panas tahun 2023. Pada November 2024, ia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya. Namun, selama proses peralihan hak asuh, sang anak masih mengalami kekerasan verbal dan tekanan mental dari ayah dan ibu tirinya.

Ia juga mengungkapkan bahwa setelah hak asuh anak berubah, ayah anak tersebut menolak menyerahkan dokumen dan berkas penting anak, menyebabkan anaknya putus sekolah selama beberapa bulan. Ketika ia mencoba meminta dokumen tersebut, ia justru dipukul dan dihina oleh mantan suaminya, yang kemudian malah menggugat dirinya karena dianggap mencemarkan nama baik dan menuntut ganti rugi sebesar 300 ribu yuan (sekitar Rp 660 juta).

Dalam sebuah video yang dipublikasikan tahun 2024, sang ibu mengatakan bahwa akhirnya ia berhasil mendapatkan dokumen anaknya, dan anaknya sangat ingin segera meninggalkan rumah ayahnya.  “Dia bilang, ‘Mama, aku tidak perlu datang lagi ke tempat ini.’”

Sang ibu pun menenangkan, “Nak, kamu tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan. Sekarang kamu mulai menjalani hidup bebasmu yang sesungguhnya.”

Dalam sebuah unggahan, sang ibu menulis, “Seorang ayah kandung bisa memperlakukan anaknya sendiri seperti ini, sungguh sangat jarang terjadi. Untungnya, tampaknya kepribadian anakku masih ceria. Semoga ke depan ia bisa melupakan mereka.”

Kasus anak laki-laki berusia 9 tahun yang berbaring di bagasi mobil ini menjadi trending dan memicu perhatian luas. Seorang netizen berkomentar sedih: “Anak sebaik itu, bagaimana bisa ayah kandungnya tega menyakitinya?”

Ada juga yang memberikan dukungan bagi sang ibu:  “Kamu ibu yang hebat. Ibu yang kuat. Semangat terus!”

Laporan gabungan oleh wartawan Luo Tingting /Wen Hui – NTD

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine