EtIndonesia. Mungkin, setiap dari kita memiliki setidaknya satu malaikat pelindung—ada yang menjelma sebagai orangtua, setia mendampingi kita sepanjang jalan; ada yang hadir sebagai sahabat, memberi tawa dan kehangatan; ada pula yang menjadi kekasih, memberikan cinta paling tulus. Karena mereka, kita—para “ikan kesepian” di dunia ini—memiliki sesuatu untuk kita genggam dan rindukan.
Dan inilah kisah nyata tentang tiga ekor ikan yang benar-benar menggugah hati—kisah yang penuh cinta, pengorbanan, dan ketabahan.
Ikan Salmon Besar di Laut Dalam
Ikan salmon betina yang hidup di laut dalam akan bertelur di tempat yang aman. Setelah bertelur, dia akan berjaga di dekat telurnya, menanti anak-anaknya menetas. Anak-anak ikan yang baru menetas itu belum bisa mencari makan sendiri. Untuk bertahan hidup, mereka hanya bisa menggerogoti dan memakan daging ibunya.
Sang ibu menahan rasa sakit yang luar biasa, membiarkan tubuhnya dikoyak dan digigit, hanya demi memastikan anak-anaknya tumbuh. Saat anak-anak ikan itu cukup kuat untuk berenang, sang ibu pun telah menjadi kerangka sunyi—tulang-belulang tanpa daging—diam namun penuh makna. Dia telah menafsirkan arti cinta seorang ibu yang paling agung di dunia.
Salmon besar ini adalah ikan yang melambangkan kasih seorang ibu.
Ikan Gabus
Konon, setelah bertelur, ikan gabus betina akan mengalami kebutaan. Dia tak bisa lagi mencari makan, hanya bisa menahan lapar sambil menjaga telurnya. Namun yang luar biasa, ribuan anak-anak ikan yang menetas darinya seolah memiliki naluri bawaan. Mereka menyadari sang ibu kelaparan, lalu satu per satu secara sukarela berenang ke mulut ibunya, menjadi santapan agar sang ibu tetap hidup.
Akhirnya, sang ibu bisa bertahan. Namun dari ribuan anak yang lahir, hanya kurang dari sepersepuluh yang selamat. Sebagian besar dari mereka telah mengorbankan hidupnya demi ibunya.
Ikan gabus ini adalah ikan yang melambangkan bakti seorang anak.
Ikan Salmon yang Pulang ke Asalnya
Setiap musim bertelur, ikan salmon akan menempuh perjalanan jauh—berenang kembali dari samudra luas menuju sungai tempat mereka dilahirkan. Perjalanan ini sangatlah berat, penuh rintangan dan bahaya.
Program “Dunia Satwa” di stasiun tv pernah menayangkan kisah perjalanan pulang ikan salmon yang begitu tragis dan heroik. Dalam perjalanan itu, mereka harus melompati air terjun tinggi. Di sisi air terjun, banyak beruang abu-abu lapar yang menunggu. Ikan-ikan yang gagal melompat akan menjadi santapan beruang.
Bahkan ikan-ikan yang berhasil melompat pun belum aman. Di atas sana, ribuan elang sudah siap menyergap dari langit. Hanya sedikit dari mereka yang selamat dari kejaran.
Setelah menghabiskan seluruh energi dan cadangan lemak yang ada, ikan salmon akhirnya tiba di tempat kelahirannya. Di sanalah mereka melakukan satu hal terpenting dalam hidupnya: bercinta, bertelur, lalu mati dengan tenang di tempat mereka dilahirkan.
Ketika musim semi tiba, telur-telur yang mereka tinggalkan menetas. Anak-anak salmon yang baru lahir itu pun mengikuti aliran sungai, memulai kembali perjalanan penuh perjuangan yang sama seperti leluhurnya.
Ikan salmon ini adalah ikan yang melambangkan kerinduan pada kampung halaman.
Tiga Ekor Ikan, Tiga Makna Kehidupan
Seringkali kita berpikir, bahwa di dunia ini, setidaknya ada tiga “ekor ikan” yang paling menyentuh hati kita.
· Yang pertama adalah orangtua, yang memberi kita hidup, mengantar kita pergi sejauh apa pun, dan tetap mencintai tanpa pernah meminta kembali, bahkan saat mereka tak lagi bisa memberi apa-apa.
· Yang kedua adalah anak-anak, yang sejak lahir telah terikat darah dengan kita, mempercayai kita sepenuh hati, menemani kita hingga tua.
· Yang ketiga adalah kampung halaman, tempat di mana kita dilahirkan. Tak peduli seberapa jauh atau tinggi kita terbang, pada akhirnya, kita pasti akan kembali.
Kita semua adalah ikan-ikan kesepian yang tak sengaja berenang ke dunia ini, namun dunia ini menerima kita dengan kasih. Dan kini, tiga ekor ikan itu menjadi tiga ikatan terkuat yang menghubungkan hidup kita—cinta orangtua, kasih sayang anak, dan kerinduan akan tanah kelahiran. (jhn/yn)


