EtIndonesia. “Sebagai orangtua, bukan takut tidak punya kasih sayang, tapi takut tahu mencintai tanpa tahu bagaimana mendidik.” — Sima Guang, filsuf Tiongkok kuno
Ada sebuah berita yang mengguncang masyarakat Tiongkok daratan:
Seorang ibu berlutut di depan anaknya selama lebih dari satu jam, memohon agar sang anak mau kembali ke sekolah. Namun si anak hanya duduk santai di kursi, menyilangkan kaki sambil bermain ponsel, bahkan mengunggah foto ibunya yang berlutut ke media sosial, lalu menambahkan keterangan: “Bahagia setiap hari!”
Kisah ini menyebar luas dan membuat banyak orang geram. Seorang guru datang langsung ke rumah anak tersebut untuk menasihati dan mengajarkan pentingnya bersyukur dan menghargai orangtua.
Namun apa respons sang ibu?
Dia malah berulang kali menyela guru itu dan berkata: “Saya berlutut karena saya sendiri yang mau, bukan karena dipaksa oleh anak. Jadi tolong, jangan salahkan dia…”
Anak yang tega menginjak harga diri ibunya, dan ibu yang tak memiliki batas untuk mempertahankan anak seperti itu—itulah bentuk kesedihan paling dalam di dunia ini.
Ada kisah lain tentang seorang pria yang kecanduan judi. Setelah kalah besar saat bermain kartu, dia meminta ibunya untuk memberinya uang Rp 40 juta sebagai modal berjudi lagi. Ketika sang ibu bilang tak punya uang, pria itu menyuruh ibunya meminjam ke luar. Ketika ibunya menolak, dia mendorong ibunya hingga terjatuh di jalan.
Seorang paman yang melihat kejadian itu berkata: “Anak ini sejak kecil memang sudah susah diatur. Semua ini karena ibunya—apa pun yang diminta, selalu diberi.”
Sekilas, memang anak seperti ini pantas dicela. Tapi jika ditilik lebih dalam, bukankah justru kesalahan pendidikan sang ibu yang melahirkan anak seperti itu?
Mendidik anak bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tapi lebih penting adalah menanamkan nilai moral dan rasa syukur. Orangtua yang hanya tahu mencintai tanpa tahu mendidik, akan membesarkan anak yang tidak tahu berterima kasih.
Bersyukur: Akar dari Semua Kebaikan
Menjadi manusia, hal pertama yang harus dipelajari adalah rasa syukur, dan syukur pertama yang harus kita miliki adalah kepada orangtua kita.
Rasa terima kasih pada orangtua bukan hanya cerminan karakter pribadi, tapi juga pantulan dari pendidikan keluarga. Apakah seseorang kaya atau miskin, sukses atau tidak, jika dilihat hanya dari sisi peran sebagai orangtua, pencapaian terbesar adalah mendidik anak yang tahu bersyukur.
Sebuah Kisah dari Film Iran “Surat dari Hassan”
Film ini mengisahkan seorang dermawan kaya yang datang ke sebuah desa miskin untuk menyumbangkan perlengkapan belajar.
Anak laki-laki miskin bernama Hassan adalah salah satu penerima bantuan. Dia mendapatkan lima batang pensil dalam sebuah kantong kertas warna-warni. Di kantong itu tertulis alamat toko alat tulis tempat barang itu dibeli.
Ibunya berkata kepadanya: “Nak, simpan baik-baik kantong ini. Itu satu-satunya alamat yang bisa kamu gunakan untuk menyampaikan rasa terima kasihmu.”
Sejak saat itu, Hassan menyimpan kantong itu dengan hati-hati. Setelah dia lulus SMP, dia bekerja sambil sekolah. Begitu memiliki penghasilan, dia mengirim satu kartu pos setiap bulan ke toko alat tulis itu, berisi ucapan terima kasih kepada sang dermawan, dan memohon agar pemilik toko menyampaikannya.
Hingga akhirnya setelah 27 kartu pos—selama dua tahun penuh, pemilik toko terharu. Dia pun berusaha mencari alamat si dermawan, dan akhirnya menyerahkan seluruh kartu itu kepadanya.
Sang dermawan sangat tersentuh. Dia kemudian mengundang Hassan ke kota dan menjadikannya pengelola rumah tangganya.
Orang yang tahu berterima kasih tak pernah bermaksud meminta balasan. Tapi justru mereka yang paling sering mendapatkan keberkahan tak terduga.
Anak yang Tak Tahu Bersyukur, Walau Sukses Tetap Tak Layak Disebut “Hebat”
Dalam hidup ini, orangtua memang seharusnya mencintai anak tanpa syarat. Tapi anak tidak boleh menganggap cinta itu sebagai hal yang otomatis dan sepele. Itu adalah anugerah yang harus dibalas dengan rasa hormat dan kasih.
Setiap orang wajib memiliki hati yang penuh rasa syukur:
· Bersyukur kepada orangtua, akan membentuk karakter yang berbakti—dan anak yang berbakti, pasti punya moral yang baik.
· Bersyukur kepada orang lain, akan membentuk karakter yang baik hati—dan orang baik hati, akan berjalan lebih mudah di jalan hidupnya.
Penutup
Menjadi orangtua, bukan hanya memberi cinta, tetapi juga memberi didikan. Dan menjadi anak, bukan hanya menerima cinta, tetapi belajar menghargai dan membalasnya.
Kesedihan terbesar seorang ayah atau ibu bukan ketika mereka tidak dihormati oleh dunia, tetapi ketika mereka tidak dihargai oleh darah daging mereka sendiri.
“Dari semua kebajikan, berbakti kepada orang tua adalah yang utama.”
Mari renungkan… sebelum semuanya terlambat.(jhn/yn)


