Jin Ran
Dunia saat ini seperti labu di atas air: baru ditekan satu, yang lain langsung muncul lagi. Manusia memiliki banyak sifat, tapi mungkin yang paling khas adalah sifat “tidak pernah tenang”.
Hari ini, Timur Tengah kembali memanas! Militer Israel tiba-tiba menyerang Suriah — melakukan serangan udara ke ibu kota Damaskus, dan langsung menargetkan jantung kekuasaan: beberapa bom presisi menghantam Kementerian Pertahanan, Markas Besar Staf Angkatan Darat, bahkan fasilitas militer di sekitar Istana Kepresidenan Suriah. Yuk kita lihat dulu betapa dahsyatnya momen saat Kementerian Pertahanan dan Markas Staf Suriah dihantam.
Israel kemudian merilis rekaman serangan udara dari udara, yang memperlihatkan pemandangan kehancuran dari atas terhadap Kementerian Pertahanan dan Markas Besar Angkatan Darat Suriah.
Saat Kementerian Pertahanan Suriah dibom, di seberangnya, siaran langsung televisi pemerintah Suriah sedang berlangsung. Ketika ledakan terjadi, terlihat jelas bangunan di belakang (Kemenhan) meledak, dan karena suara ledakan datang terlambat, pembawa berita wanita di studio ketakutan dan lari keluar dari layar.
Yang terkejut bukan hanya pembawa berita. Seorang reporter yang sedang melakukan laporan langsung di dekat lokasi juga refleks menghindar, tapi karena profesionalisme, reporter perang yang memakai helm ini langsung berdiri kembali ke depan kamera dan melanjutkan laporan.
Yang dibom bukan cuma Kementerian Pertahanan Suriah. Yang mengejutkan dunia luar, militer Israel juga membombardir fasilitas militer di sekitar Istana Kepresidenan Suriah. Jelas, Israel ingin melumpuhkan sistem komando militer tertinggi Suriah.
Seberapa besar kerugian akibat serangan udara ini? Mari kita lihat kondisi luar gedung Kemenhan Suriah setelah serangan.
Setelah serangan udara, media melaporkan setidaknya 5 orang tewas dan 34 luka-luka, semuanya personel militer dan pegawai pemerintah Suriah. Komandan artileri Angkatan Darat Suriah tewas dalam serangan, bahkan ada kabar bahwa Menteri Pertahanan Suriah juga sedang berada di gedung dan ikut tewas, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Selain itu, serangan ini memaksa Presiden baru Suriah, Ahmed Al-Sharaa, melarikan diri dari istana kepresidenan dan hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Lantas, mengapa presiden baru Suriah, Shara, yang selama ini menunjukkan sikap bersahabat terhadap Israel — bahkan saat Israel membombardir Iran, ia sempat mengumumkan akan membuka wilayah udara Suriah bagi jet tempur Israel — malah diserang habis-habisan oleh Israel?
Mari kita bahas latar belakang Presiden Suriah baru ini, Sharaa. Ia dulunya adalah anggota kelompok pemberontak anti-pemerintah Suriah bernama Jabhat al-Nusra, cabang dari jaringan al-Qaeda yang didirikan Osama bin Laden.
Setelah keluar dari kelompok itu, ia membentuk faksi baru bernama Tahrir al-Sham, juga kelompok garis keras, dan menjadi pemimpin militer mereka. Walaupun setelah menggulingkan Assad dan berkuasa ia menyatakan ingin memutus hubungan dengan ekstremisme dan menerapkan pemerintahan yang lebih moderat, latar belakangnya yang terkait al-Qaeda dan fanatisme agama terus jadi sorotan dunia luar.
Terutama sejak ia berkuasa Januari tahun ini, pasukan pemerintah Suriah telah membantai ribuan warga sipil dari kelompok agama lain. Dan penyebab langsung serangan Israel kali ini adalah tindakan brutal pemerintah Suriah terhadap warga sipil Druze di wilayah selatan, Suweida.
Lalu siapa sebenarnya kaum Druze ini? Dari segi kepercayaan, Druze adalah sekte keagamaan misterius berbahasa Arab. Mereka tidak berdakwah keluar dan tidak menerima pengikut baru. Keyakinan mereka menggabungkan unsur-unsur Islam, Kristen, dan lain-lain. Walaupun hanya mencakup 3% populasi Suriah, mereka dianggap bidah oleh kelompok garis keras. Mereka banyak tinggal di Provinsi Suweida, selatan Suriah. Namun sebagian kecil juga tinggal di Israel.
Meskipun jumlahnya sedikit, kaum Druze memegang banyak posisi penting di militer Israel. Tahun 2015, seorang kolonel Druze bernama Aliyan menjadi komandan non-Yahudi pertama dari brigade infanteri paling terkenal di Israel — Brigade Golani. Dalam Perang Enam Hari, brigade ini yang merebut Dataran Tinggi Golan. Karena itu, pemerintah Israel selalu menganggap kaum Druze sebagai “orang sendiri”, dan kaum Druze di Suriah pun mendapat dukungan dari Israel.
Sampai di sini, kalian pasti paham kenapa Israel turun tangan membela kaum Druze. Hari ini, pasukan pemerintah Suriah masih bentrok sengit dengan kaum Druze di selatan.
Padahal kaum Druze sebelumnya tidak pernah menuntut kemerdekaan, mereka hanya ingin wilayah yang otonom. Maka pada dasarnya, konflik ini adalah konflik sektarian agama — kontradiksi yang sulit didamaikan.
Dalam rekaman terbaru oleh militer Suriah, terlihat seorang sesepuh Druze berusia 80 tahun dipermalukan dengan cara dicukur paksa jenggotnya. Tak lama kemudian, sesepuh itu dibunuh oleh militer Suriah.
Israel tidak bisa tinggal diam menghadapi ini. Israel juga tidak tertarik berdiplomasi dengan pemerintah Suriah. Seperti yang dikatakan PM Netanyahu, “Israel sedang mengambil tindakan untuk menyelamatkan saudara-saudara Druze kami.” Militer Israel tak hanya membombardir Kemenhan Suriah, tapi juga menyerang tank, peluncur roket, dan bahkan kendaraan tempur ringan milik pemerintah Suriah di selatan.
Dalam salah satu video, tampak pasukan Druze di Suriah selatan — penembak jitu dan operator senapan mesin berat — bertempur sengit melawan pasukan pemerintah Suriah. Perhatikan ukuran peluru besar dari senapan sniper mereka.
Sementara itu, di kota-kota Druze di Suriah selatan, warga mengibarkan bendera Israel sebagai simbol perlawanan total terhadap pemerintah pusat.
Kaum Druze dalam beberapa hal memang mirip orang Israel. Setiap kali Israel berperang, warga Israel dari seluruh dunia pulang untuk berperang. Dan sekarang, ketika Israel mulai membombardir pemerintah Suriah, ratusan hingga ribuan warga Druze dari Israel menyeberangi perbatasan untuk membantu saudara-saudara mereka.
Hari ini, PM Netanyahu muncul langsung dan menyerukan kepada warga Druze Israel untuk tidak menyeberangi perbatasan tanpa izin, serta meminta mereka kembali dan membiarkan militer Israel yang menangani situasi ini.
Setelah serangan udara Israel ke Suriah, situasi memburuk dengan cepat. Banyak masjid di Suriah secara terbuka menyerukan jihad terhadap Israel. Pemerintah Suriah pun baru saja menyatakan: karena Israel terus menyerang tentara pemerintah Suriah, maka Suriah selamanya tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel. (Hui/asr)


