Polisi di Phnom Penh, ibu kota Kamboja, pada Rabu (16 Juli) menyatakan bahwa pada 14 dan 15 Juli 2025 mereka menggerebek dua gedung yang menjadi tempat persembunyian sindikat penipuan, dan menangkap 149 warga Vietnam, 3 warga Tiongkok, serta 85 warga Kamboja.
EtIndonesia. Perdana Menteri Kamboja Hun Manet pada 15 Juli memerintahkan pemberantasan “pabrik keringat kejahatan dunia maya.” Ia juga meminta aparat penegak hukum serta militer untuk “mencegah dan memberantas penipuan daring”, seraya memperingatkan bahwa mereka yang gagal bertindak akan diberhentikan dari jabatannya.
Menurut laporan AFP, PBB menyebut Asia Tenggara sebagai “ground zero” dari pusat-pusat penipuan, di mana sindikat-sindikat ini sering menggunakan metode penipuan asmara atau bisnis. Diperkirakan menghasilkan hingga 40 miliar dolar AS per tahun lewat media sosial.
Laporan Amnesty International yang dirilis bulan lalu mengungkap bahwa terdapat setidaknya 53 lokasi penipuan yang dioperasikan oleh organisasi kriminal di Kamboja. Bahkan, tempat-tempat tersebut terlibat dalam penyiksaan berskala besar, termasuk perdagangan manusia, kerja paksa, pekerja anak, penyiksaan, penahanan ilegal, dan perbudakan.
Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) pada April lalu memperingatkan bahwa industri penipuan kini telah menyebar dari Asia Tenggara ke berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Eropa, serta beberapa pulau di Pasifik. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


