Psikologi: Anak yang Tidak Cukup Diperhatikan Ibu Sejak Kecil, Saat Dewasa Rentan Alami Tiga Masalah Kepribadian

EtIndonesia. Orang yang beruntung akan mengandalkan masa kecilnya untuk menyembuhkan seluruh hidupnya. Sementara yang kurang beruntung, harus menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyembuhkan masa kecilnya.

Bagi para psikolog yang mendalami pendekatan psikoanalitik, khususnya mereka yang percaya pada penyembuhan dengan cara “menelusuri akar masalah”, kutipan ini mengandung kebenaran yang mendalam.

Dalam pendekatan ini, proses terapi berfokus pada menelusuri asal-usul luka batin—yakni pada masa kecil dan lingkungan keluarga tempat seseorang tumbuh—untuk menemukan akar dari masalah psikologis yang dialami saat ini. Tujuannya bukan hanya memahami, tapi juga menemukan “obat” yang sesuai secara psikologis.

Tentu saja, lingkungan keluarga bukan satu-satunya penentu kepribadian seseorang. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga, terutama dalam tahap awal kehidupan, memberi fondasi yang sangat kuat—positif maupun negatif—bagi pola dasar kepribadian seseorang.

Dan di antara semua figur penting dalam keluarga, ibu memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap pembentukan karakter anak.

Jika sejak kecil seorang anak tidak mendapatkan perhatian atau pengasuhan yang cukup dari ibu, maka besar kemungkinan dia akan mengalami tiga jenis masalah kepribadian berikut saat dewasa:

1. Cenderung Mengalami Disosiasi (Dissociation)

Dalam teori psikologi hubungan antarobjek (Object Relations Theory), kegagalan ibu sebagai “cermin pertama” bagi anak akan berdampak pada pembentukan struktur diri yang cacat.

Sederhananya, jika seorang anak tidak dirawat dengan baik atau sering diabaikan oleh ibunya, maka akan sulit baginya untuk membentuk struktur kepribadian yang sehat dan utuh.

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut “topeng kepribadian” (personality mask)—istilah penting dalam psikologi Carl Jung. Ini merujuk pada peran-peran sosial yang kita kenakan di berbagai situasi untuk menyesuaikan diri, namun sesungguhnya hanya mencerminkan sebagian kecil dari kepribadian sejati kita.

Sebuah riset dari Tavistock Clinic di Inggris menunjukkan bahwa sekitar 68% pasien yang pernah mengalami pengabaian oleh ibu menunjukkan kecenderungan disosiasi:

·        Mereka merasa terputus dari lingkungan sosial

·        Sulit menyadari kebutuhan batin sendiri

·        Cenderung mengembangkan banyak “topeng kepribadian palsu” (pseudo self) untuk menyenangkan orang lain.

Akibatnya, orang seperti ini terlihat “normal” di permukaan, tapi sesungguhnya tidak merasakan koneksi yang nyata dengan kehidupan atau dirinya sendiri. Ia tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, dan kepribadiannya pun terasa kosong dan terpecah.

2. Mengalami Kecemasan Sosial (Social Anxiety)

Bagi seorang bayi, ibu adalah sosok pertama yang dia kenali dan menjadi pusat dari keterikatan emosionalnya. Naluri ibu pun biasanya mendorongnya untuk melindungi anak secara total di tahap awal kehidupan.

Namun jika proses keterikatan ini terganggu—baik karena pengabaian atau justru overprotektif, dampaknya akan terasa saat anak mulai memasuki usia sosial.

Jika seorang ibu terlalu mencampuri urusan anak, ini akan menghambat proses penting bernama subject separation (pemisahan identitas).

Akibatnya bisa muncul dua pola ekstrem:

1. Anak menjadi terlalu bergantung pada ibu (over-dependence)

o   Dia tumbuh menjadi “bayi raksasa” yang tak siap bersosialisasi

o   Sulit mandiri, gampang merasa cemas dan canggung dalam interaksi

2. Anak menolak semua bentuk campur tangan (avoidance)

o   Dia merasa tertekan jika terlalu dekat dengan ibu

o   Akhirnya memilih mengurung diri dan menolak bersosialisasi

Studi remaja dari Korea Selatan menunjukkan bahwa 67% siswa yang mengalami kecemasan sosial menyebutkan penyebab utamanya adalah intervensi ibu yang berlebihan selama masa tumbuh kembang.

Baik itu terlalu dikekang atau terlalu diabaikan, keduanya bisa memicu kecemasan sosial—sebuah masalah kepribadian yang umum namun sering tidak disadari akar dalamnya.

3. Kurangnya Kemampuan Berempati (Low Empathy)

Penelitian dari Autism Research Centre di Universitas Cambridge menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami pengabaian emosional di masa kecil:

·        Tertinggal hingga 11 bulan dalam tugas kognitif dan perkembangan moral dibandingkan anak seusianya

·        Cenderung melakukan kesalahan dalam memahami situasi sosial dan sering tidak menyadari bahwa mereka menyakiti orang lain

Masalahnya bukan karena mereka jahat, melainkan karena sistem empatinya tak terbentuk sempurna.

Dalam sudut pandang neurosains, hal ini berkaitan dengan sistem neuron cermin (mirror neuron system) dalam otak yang tidak aktif secara optimal.

Misalnya, saat mereka melihat seseorang sedang sedih atau marah, aktivitas otaknya—terutama di bagian gyrus inferior frontal dan lobulus parietalis inferior—menunjukkan intensitas sinyal yang 29% lebih rendah dibandingkan otak orang normal.

Akibatnya:

·        Mereka tidak merasakan empati dengan cara yang alami

·        Kalaupun mereka belajar bahwa “berempati itu penting”, itu hanya menjadi alat sosial, bukan dorongan tulus

Saat dewasa, orang seperti ini cenderung dingin, defensif, dan sulit memahami perasaan orang lain secara emosional—mereka bisa tampak logis, tapi hampa dalam rasa.

Kesimpulan: Terluka oleh Masa Lalu, Bukan Alasan untuk Menyerah

Tentu saja, tidak semua masalah kepribadian bisa disalahkan pada keluarga asal. Namun tak bisa disangkal juga bahwa peran ibu dalam membentuk fondasi emosional dan sosial anak sangat besar.

Seorang ibu yang hadir dengan kasih sayang, pengertian, dan kemampuan untuk membimbing anak secara bijak bisa menjadi pelabuhan yang menyelamatkan anak dari gelombang luka batin yang berkepanjangan.

Dan bagi mereka yang tumbuh dalam luka—jangan berkecil hati. Kita selalu punya ruang untuk sembuh, perlahan namun pasti.

Yang terpenting:

Milikilah keberanian untuk mencintai diri sendiri. Terimalah ketidaksempurnaan. Karena penyembuhan sejati dimulai dari penerimaan, bukan penyangkalan. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine