Pasar layanan antar makanan di Tiongkok saat ini tengah mengalami perang harga yang sangat sengit. Perusahaan-perusahaan besar seperti JD.com, Meituan, dan Taobao menggelontorkan dana besar untuk memberikan subsidi demi merebut trafik (jumlah pesanan). Namun, beban dari subsidi ini justru ditanggung oleh para pelaku usaha kecil-menengah di sektor kuliner. Banyak pelaku industri makanan dan minuman mengeluhkan, “Kami hampir tidak bisa bertahan.”
EtIndonesia. JD.com memulai bisnis layanan antar makanannya pada bulan Februari tahun ini, menawarkan “bebas komisi sepanjang tahun” guna menarik banyak restoran untuk bergabung. Kemudian, pada 11 April, mereka meluncurkan program subsidi senilai 10 miliar yuan untuk setahun, yang membuat pesanan meningkat tajam.
Menanggapi hal ini, Meituan dan Taobao Flash Sale milik Alibaba juga mengumumkan program subsidi sebesar 50 miliar yuan, dan hingga akhir pekan lalu, mereka bahkan meningkatkan promosi dengan tawaran seperti “belanja nol yuan” dan “gratis pembelian”, untuk merebut pangsa pasar.
Namun, para pelaku usaha kecil-menengah justru harus menanggung sebagian beban subsidi. Selain itu, karena harga layanan antar lebih murah dibanding makan di tempat, pelanggan lebih memilih memesan antar makanan, yang menyebabkan penurunan drastis pengunjung dine-in dan menekan margin keuntungan, bahkan hingga mengalami kerugian.
Li, seorang pemilik perusahaan kuliner di Shenzhen, menyatakan bahwa tahun ini industri kuliner menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya: dimulai dari perlambatan ekonomi, penurunan daya beli konsumen, dan kewajiban membayar pajak tambahan—setiap toko dikenakan minimal 20.000 yuan. Mulai Juli, perusahaan juga harus menanggung tambahan biaya 200 yuan per karyawan untuk jaminan sosial. Beberapa restoran miliknya akhirnya tutup dan berhenti beroperasi.
“Setelah perang layanan antar makanan dimulai, dine-in jadi mati total. Saya sudah berhenti jualan bubble tea dan makanan cepat saji. Tahun ini, tidak ada bisnis untuk makan di tempat, dan layanan antar pun tidak menghasilkan. Pemeriksaan pajak di Shenzhen menargetkan beberapa merek besar. Ditambah tekanan dari merek besar dan inspeksi, benar-benar bikin bangkrut, tidak tertahankan,” katanya.
Bu Wang, pemilik usaha kuliner di Guangdong, menyebutkan bahwa bergabung dengan platform layanan antar justru meningkatkan biaya karena harus memberikan komisi kepada platform. Pajak pun tidak bisa dihindari, sehingga harga makanan pasti akan naik. Hal ini bisa menyebabkan gelombang kebangkrutan restoran.
“Tahun ini banyak pengusaha kuliner yang gagal bayar utang dan gulung tikar. Setelah perang antar platform, banyak toko fisik bangkrut. Sekarang karena platform terkoneksi dengan otoritas pajak, pajak yang sebelumnya bisa dihindari, kini tidak bisa lagi. Harga makanan juga naik, satu nasi kotak bisa jadi 15 yuan. Semakin banyak orang yang tidak mampu makan,” ujarnya.
Bu Huang, pemilik usaha kuliner di Shandong, mengungkapkan bahwa permainan modal memaksa pelaku usaha untuk ikut terlibat dalam perang layanan antar makanan.
Beberapa toko yang sukses di layanan antar bahkan tidak memiliki gerai fisik. Toko fisik harus membayar sewa tinggi, dan setelah bergabung ke platform, mereka masih harus membayar komisi 20%–25%, yang membuat usaha nyaris tidak menghasilkan keuntungan.
“JD.com bakar uang 10 miliar yuan dan hanya mengundang restoran yang memiliki toko fisik untuk bergabung. Jika tidak ikut, pelanggan akan beralih ke JD. Jadi, perusahaan besar lain pun harus ikut terjun. Setiap akhir pekan mereka habis-habisan memberi subsidi, orang tidak pergi ke restoran, semuanya pesan makanan lewat aplikasi,” kata Ba Huang.
Selain itu, Meituan mengumumkan peluncuran “Kantin Rakun” (Raccoon Cafeteria), dengan rencana investasi dalam 3 tahun ke depan untuk membangun 1.200 gerai di seluruh negeri, mencakup seluruh rantai industri makanan. Sejak diluncurkan sebagai proyek percontohan pada Desember tahun lalu, kini sudah ada 10 gerai yang beroperasi di Beijing, Hangzhou, dan kota lainnya, dengan lebih dari 100 mitra restoran bergabung.
“Sebagian besar toko yang membayar sewa tinggi sekarang beralih ke layanan antar. Meituan mendirikan Kantin Rakun, memanfaatkan gedung-gedung kosong. Mau tidak mau, restoran kecil harus sewa tempat di sana. Tapi ini akan menghancurkan banyak toko fisik,” kata Li. (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan NTD, Xiong Bin dan Chen Jianming


