Pada Jumat (18 Juli), Uni Eropa mengesahkan putaran ke-18 sanksi keras terhadap Moskow, yang mencakup larangan terhadap proyek pipa Nord Stream, penurunan drastis batas harga minyak Rusia, pengejaran terhadap “armada bayangan”, serta pembatasan jalur pendanaan bagi bank-bank Rusia. Tujuannya adalah untuk melemahkan anggaran perang Kremlin dan menekan Rusia agar segera mencapai perdamaian.
EtIndonesia. Tampak dalam video, tentara Ukraina sedang menjalani latihan militer di daerah Kyiv, berjalan perlahan dengan senapan di tangan di dalam parit sambil sesekali membalas tembakan. Seiring dengan kemajuan pasukan Rusia ke garis depan, banyak rekrutan muda bergabung ke dalam Brigade Serbu Independen ke-3 Ukraina.
Seorang rekrutan dengan sandi “Goth” mengatakan: “Berharap yang terbaik, bersiaplah untuk yang terburuk. Jika bantuan ini benar-benar sampai ke tangan kami, itu luar biasa.”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pekan ini menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Patriot buatan AS telah dikirim ke Ukraina melalui koordinasi dengan NATO.
Perdana Menteri Ukraina yang baru dilantik, Yulia Svyrydenko, juga mengkonfirmasi pada Jumat bahwa Ukraina dan AS sedang melakukan negosiasi rinci terkait kerja sama produksi drone.
Washington bersiap membeli drone buatan Ukraina yang telah teruji di medan perang, sebagai imbalan agar Kyiv membeli persenjataan dari AS. Drone telah menjadi alat utama Ukraina dalam mempertahankan diri dari invasi Rusia selama lebih dari tiga tahun.
Pada hari yang sama, Uni Eropa mengesahkan sanksi putaran ke-18—yang disebut paling keras sejak 2022—termasuk menurunkan batas harga minyak Rusia dari 60 dolar menjadi 47,6 dolar per barel.
Inggris juga mengumumkan langkah serupa bersama Uni Eropa.
Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menyatakan: “Ini adalah kerja sama dengan sekutu Eropa kami untuk memberikan tekanan maksimal kepada Rusia dan melemahkan kemampuannya dalam mendanai perang.”
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa sanksi ini akan semakin mengurangi anggaran perang Kremlin, menargetkan 105 kapal “armada bayangan” serta para pendukungnya, dan membatasi saluran pendanaan bank-bank Rusia. Selain itu, bank-bank Tiongkok yang membantu Rusia menghindari sanksi akan menghadapi tekanan lebih besar.
Dalam paket sanksi terbaru ini, akses Moskow terhadap teknologi sipil dan militer ganda (dual-use) juga semakin dibatasi. Di antara entitas dari negara ketiga yang terkena sanksi, terdapat 7 perusahaan Tiongkok dan 3 perusahaan yang berbasis di Hong Kong.
Sementara itu, untuk menghadapi serangan drone dan rudal Ukraina, pihak berwenang di Krimea yang dikuasai Rusia mengumumkan pada Jumat bahwa mereka memberlakukan pembatasan informasi, melarang publik menyebarkan informasi apa pun yang dapat mengungkap lokasi sistem pertahanan udara, senjata, perlengkapan militer, atau posisi personel Rusia, termasuk melarang publikasi serangan Ukraina ke wilayah Krimea.
Di wilayah Rusia yang sudah mengalami pembatasan besar-besaran terhadap internet, Kremlin juga menerapkan kebijakan lebih ketat dengan dalih keamanan.
Sejumlah blogger militer Rusia mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir, jaringan ponsel di puluhan wilayah Rusia—dari zona perang hingga Siberia dan bahkan Timur Jauh—mengalami gangguan parah atau sering kali dimatikan, dan Wi-Fi juga kerap terputus. (Hui/asr)
Laporan oleh Yi Jing, New Tang Dynasty Television – Disusun secara komprehensif


