EtIndonesia. Anak perempuan yang tumbuh tanpa cukup belaian kasih sayang sejak kecil seringkali kesulitan dalam hubungan asmara saat dewasa. Hanya sedikit saja kehangatan dari seorang pria bisa membuatnya rela “terbakar”, seolah cinta adalah segalanya yang dia kejar meski harus tersakiti。
1. Sejak kecil haus akan kasih sayang, setelah tumbuh dewasa rela menyerahkan segalanya demi setitik kehangatan
Film “Memories of Matsuko” menggambarkan tragisnya kehidupan seorang wanita bernama Matsuko.
Sejak kecil, Matsuko dikenal cerdas dan lembut. Namun karena sang adik yang sakit-sakitan terus-menerus jadi pusat perhatian orangtuanya, Matsuko pun terabaikan.
Dia mulai tumbuh dengan kepribadian yang sangat haus akan cinta, tidak tahan sepi, dan selalu ingin diakui.
Demi membuat ayahnya tersenyum, dia bahkan rela berdandan dan berperan seperti badut. Tapi cinta yang diharapkannya tak kunjung datang.
Kekurangan cinta saat kecil adalah kekosongan awal yang bisa menciptakan kehampaan seumur hidup.
Matsuko terus mencari cinta dan pengakuan sepanjang hidupnya. Meski berkali-kali disakiti dan dihina, dia tetap menghibur dirinya sendiri: “Tidak apa-apa, yang penting aku tidak sendirian.”
Dia lebih rela disakiti, dimarahi, bahkan dipukul, daripada harus menghadapi kesepian. Di akhir hidupnya, dia menulis di dinding: “Terlahir sebagai manusia, maafkan aku.”
Hingga napas terakhir, dia tetap menyalahkan dirinya atas semua luka yang menimpanya. Dia merasa dirinya bodoh dan menyusahkan orang lain.
2. Artis terkenal pun bisa jadi korban: Kisah nyata dari masa kecil tanpa cinta
Artis wanita Yi Nengjing (伊能静) adalah contoh nyata dari kehidupan tanpa kasih sejak dini.
Dalam program reality show “Super Mom”, penonton dibuat prihatin melihat sikap dingin suaminya, aktor Qin Hao, terhadap istri dan anak mereka. Banyak ibu-ibu penonton tidak tahan melihat betapa sensitif dan rapuhnya Yi Nengjing.
Dia dikenal sebagai sosok yang sangat mudah tersentuh, sangat peduli pada pandangan orang lain, dan sering merasa cemas. Untuk membela suaminya, dia bahkan menulis klarifikasi panjang, namun justru semakin menunjukkan betapa keras dia berusaha mempertahankan “kesan bahagia”.
Yi Nengjing pernah mengaku bahwa dia tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang orangtua. Ayah dan ibunya bercerai, dia diasuh oleh ibu angkat, dan sempat menjalani kehidupan nomaden di Jepang setelah ibunya menikah lagi.
Orang yang kekurangan cinta sejak kecil akan terus mencoba menutupi luka itu saat dewasa—dengan mencintai berlebihan, atau terus meminta dicintai.
Bahkan ketika dia menerima cinta dari orang lain, rasa tidak aman tetap menghantui:
“Jika orangtuaku sendiri saja tidak mencintaiku, siapa yang bisa bertahan mencintaiku selamanya?”
Maka tak heran jika dia tumbuh menjadi pribadi yang sulit percaya, sangat sensitif terhadap perubahan sikap orang di sekelilingnya.
Kisah cintanya dengan penyanyi terkenal Harlem Yu (哈林) selama 20 tahun pun akhirnya kandas. Meskipun Harlem sangat menyayanginya, Yi Nengjing justru mengakhiri hubungan itu melalui perselingkuhan.
Tak lama kemudian, dia jatuh cinta pada pria yang 10 tahun lebih muda, dan demi mempertahankan keluarga baru ini, dia hamil lagi di usia lebih dari 40 tahun.
Namun, seperti yang dia sendiri katakan, dia hanya ingin memberikan “rasa memiliki rumah” kepada suaminya. Sayangnya, rumah yang hangat tak bisa dibangun oleh satu orang saja. Harus dijaga bersama.
3. Bahkan pangeran pun rapuh jika tak pernah dicintai
Kisah cinta antara Pangeran Edward (Duke of Windsor) dan Wallis Simpson, yang dulunya disebut “kisah cinta paling romantis dalam sejarah”, ternyata menyimpan sisi gelap.
Demi wanita yang telah tiga kali menikah, Edward rela turun takhta sebagai Raja Inggris. Tapi di balik romansa itu, kenyataan jauh dari indah.
Wallis bukan wanita muda, juga bukan perempuan lembut. Dia dikenal galak, dominan, dan bahkan kasar terhadap Edward. Suatu hari saat makan malam, Wallis marah karena Edward memberi perintah kepada pelayan, dan membentaknya di depan tamu-tamu.
Yang mengejutkan, Edward justru buru-buru minta maaf—seperti seekor anjing yang dipanggil majikannya.
Menurut catatan sejarah, masa kecil Edward diwarnai oleh kekakuan orang tua dan sikap dingin ibunya. Dia juga diasuh oleh pengasuh yang sangat keras, sehingga membuatnya tumbuh menjadi anak yang takut, tertekan, dan selalu haus perhatian.
Kurangnya kasih sayang di masa kecil membentuk kepribadiannya saat dewasa—lemah dalam cinta, haus akan validasi, dan rela menyerahkan hidupnya demi cinta yang salah.
4. Mereka yang tumbuh tanpa cinta, cenderung menyerahkan diri dalam hubungan yang tidak sehat
Orang yang kekurangan cinta sejak kecil, cenderung terus mencari cinta di tempat yang salah. Seringkali mereka tidak tahu bagaimana mencintai secara sehat, atau membangun relasi yang seimbang.
Mereka takut ditinggalkan, mudah tersentuh oleh kebaikan sekilas, dan rela bertahan dalam hubungan yang menyakitkan hanya demi tidak merasa sendirian.
Cinta yang sehat seharusnya saling tumbuh, saling menghargai. Bukan saling menyakiti atau mengejar yang tak pasti.
Namun kabar baiknya: Cinta yang kurang di masa kecil, bukanlah takdir.
Kita bisa belajar mencintai diri sendiri, menyembuhkan luka masa lalu, dan membangun hidup yang hangat tanpa harus bergantung pada cinta dari orang lain.
Penutup:
Jika dulu kita tidak cukup dicintai, itu bukan salah kita. Tapi sekarang kita punya kendali untuk mencintai diri sendiri dan menciptakan cinta yang sehat.
Kita semua berhak untuk dicintai, dengan cara yang tepat—dimulai dari diri sendiri.(jhn/yn)


