Pelukan yang Sempurna  Meningkatkan Imunitas dan Mengurangi Stres

Sebuah pelukan sederhana bertindak seperti obat gratis, bahkan terhadap virus

Mercura Wang

Di sebuah laboratorium yang sangat terkontrol di Universitas Carnegie Mellon di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, para peneliti mengekspos lebih dari 400 relawan sehat pada virus flu biasa. Namun sebelum paparan virus tersebut, selama dua minggu para peneliti dengan cermat melacak sesuatu yang mungkin diabaikan oleh sebagian besar ilmuwan: apakah para peserta dipeluk setiap harinya.

Fokusnya bukanlah pada hal-hal sentimental, melainkan untuk melihat apakah pelukan sederhana dapat berfungsi sebagai semacam vaksin mini terhadap penyakit. Penelitian ini, bersama dengan studi lainnya, menunjukkan bahwa frekuensi dan durasi pelukan yang tepat dapat mempersiapkan sistem imun, meningkatkan kesehatan jantung, dan bahkan membantu menyembuhkan luka emosional.


Bisakah Pelukan Mengalahkan Virus?

Peneliti utama dalam studi Carnegie Mellon, Sheldon Cohen, memiliki dugaan bahwa sentuhan fisik mungkin merupakan salah satu cara utama dukungan sosial melindungi kita dari penyakit yang dipicu oleh stres.

Timnya mengekspos para peserta pada virus flu biasa dan, selama 14 hari berturut-turut, menanyakan kepada mereka tentang konflik harian, interaksi sosial, dan ya—apakah mereka dipeluk hari itu.

Hasilnya: Hipotesis Cohen terbukti benar. Peserta yang dipeluk hampir setiap hari memiliki kemungkinan sekitar 60 persen lebih rendah untuk terinfeksi dibandingkan mereka yang jarang dipeluk. Selain itu, mereka yang tetap jatuh sakit pulih lebih cepat dan menunjukkan respons kekebalan yang lebih kuat daripada mereka yang menerima pelukan lebih sedikit.

Temuan ini menunjukkan bahwa pelukan, selain menjadi perilaku penuh kasih sayang, juga merupakan pertahanan yang mengejutkan efektif terhadap penyakit yang berhubungan dengan stres, dan membantu meningkatkan sistem imun.


Ilmu di Balik Pelukan

Ketika kita memeluk seseorang, rangkaian reaksi terjadi dalam tubuh dan otak kita, memengaruhi kita di berbagai tingkat—neurobiologis, neurokimia, dan sosial.

Secara neurobiologis, pelukan merangsang jaringan saraf sensorik di bawah kulit, terutama kelompok khusus yang disebut C-tactile afferents, kadang disebut sebagai “saraf pelukan”.

Saraf ini sangat responsif terhadap sentuhan lembut dan penuh kasih sayang, serta mengirim sinyal langsung ke korteks insular, pusat otak untuk pemrosesan emosi. Ketika dirangsang, saraf pelukan juga melepaskan endorfin, pereda nyeri alami tubuh yang membantu memperbaiki suasana hati. Saraf ini dioptimalkan untuk menciptakan rasa nyaman, memperkuat dorongan kita untuk mencari dan menikmati kontak fisik dekat dengan orang lain.

Secara neurokimia, pelukan memicu pelepasan beberapa bahan kimia “pembawa perasaan baik”. Yang utama di antaranya adalah oksitosin, yang sering disebut “hormon cinta”, karena meningkatkan rasa kedekatan, kepercayaan, dan keamanan.

Pelukan juga melepaskan dopamin (terkait kenikmatan) dan serotonin (menstabilkan suasana hati dan meningkatkan kebahagiaan). Dari sudut pandang sosial dan psikologis, pelukan menyampaikan dukungan tanpa kata-kata, sebagai bentuk afirmasi emosional dan memperkuat ikatan sosial.

Ketika para peneliti menguji berbagai gaya dan durasi pelukan, mereka menemukan bahwa pelukan satu detik terasa tidak memuaskan dan hanya memberi sedikit manfaat. Sebaliknya, pelukan 5 hingga 10 detik terbukti paling optimal sebelum mulai terasa tidak nyaman.
Untuk hubungan intim, pelukan selama 20 detik memberikan efek yang paling kuat secara terukur.


Manfaat Kesehatan di Setiap Pelukan

Dalam sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health, lebih dari 100 mahasiswa baru yang menerima lebih banyak pelukan setiap hari dari teman, teman sekamar, dan anggota keluarga mengalami tingkat stres pagi hari yang lebih rendah dibanding hari-hari ketika mereka menerima lebih sedikit pelukan.

Conny Wade, praktisi pengobatan fungsional dan pelatih kesehatan, mengatakan bahwa sentuhan fisik juga meningkatkan kesehatan jantung dengan meningkatkan variabilitas detak jantung (HRV).

“Variabilitas detak jantung adalah ukuran penting tentang seberapa baik tubuh Anda merespons stres. HRV Anda sebaiknya setinggi mungkin,” katanya kepada The Epoch Times.

Penelitian sebelumnya pada tahun 2003 menemukan bahwa pasangan yang berpegangan tangan selama 10 menit, kemudian berpelukan selama 20 detik sebelum memberikan pidato, memiliki tekanan darah dan detak jantung setengah lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang duduk diam tanpa kontak. Hasil ini menunjukkan bahwa sentuhan penuh kasih memberikan perlindungan fisiologis, yang sebagian menjelaskan manfaat kesehatan jantung dari hubungan yang suportif.

Kontak fisik yang konsisten memberikan manfaat yang jauh melampaui pengurangan stres dan kesehatan jantung. Orang yang rutin mendapatkan pelukan atau kenyamanan fisik—baik dari manusia, hewan peliharaan, atau bahkan selimut berbobot—tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar daripada mereka yang kurang kontak fisik.

Pelukan secara rutin juga dapat mengurangi peradangan, kata Wade. Ia menjelaskan, “Peradangan sebagian besar disebabkan oleh stres kronis, dan peradangan kronis telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk depresi dan penyakit autoimun.” Sebuah studi tahun 2020 menemukan bahwa pelukan secara signifikan terkait dengan penurunan molekul pro-inflamasi.


Menyembuhkan Trauma Melalui Sentuhan

Spesialis kesehatan mental Stacey Ross menyaksikan transformasi mendalam ketika kliennya yang mengalami kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan kecanduan menerima sentuhan yang lembut dan menenangkan.

“[Sentuhan] dapat mengingatkan otak mereka bagaimana rasanya merasa aman dan dicintai,” kata Ross kepada The Epoch Times.

Ini bukan semata-mata efek psikologis. Penelitian tentang neuroplastisitas menunjukkan bahwa pengalaman positif yang berulang dapat membentuk ulang jalur saraf.

Proses penyembuhan terjadi karena kenyamanan fisik yang konsisten menciptakan pola saraf baru yang mendukung pemulihan emosional. Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi melalui pengalaman berarti bahwa sentuhan penuh kasih secara teratur dapat secara bertahap mengatur ulang respons stres yang rusak dan sistem pengaturan emosi.

Bagi para penyintas trauma, kasih sayang fisik memberikan jalur penyembuhan yang tidak harus bergantung pada pemrosesan ingatan menyakitkan melalui kata-kata saja.


Kesimpulan: Pelukan adalah Obat

Dalam konteks apa pun, pelukan adalah alat ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan di semua usia. Resep ini tidak membutuhkan pelatihan khusus, alat mahal, atau intervensi farmasi.

 Lain kali Anda ingin mencari obat, ingatlah obat yang sudah ada di sekitar bahu Anda.

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine