Dari Anak Peternak Babi Hingga Miliarder: Zhu Renzong – “Hidup Harus Punya Harga Diri”

EtIndonesia. Dalam bukunya Building Book, Zhu Renzong menulis: “Kalau dipikir-pikir, hubungan saya dengan babi memang sangat erat. Nama belakang saya ‘Zhu’ berbunyi sama dengan ‘babi’. Shio saya pun babi. Bahkan keluarga saya memang peternak babi sejak dulu.”

Sejak keluarga Zhu mulai beternak, kedua orangtuanya mengerahkan seluruh tenaga di kandang babi. Awalnya hanya beberapa ekor, lalu terus berkembang jadi 100 ekor, 300, 500… Hingga pada masa puncaknya, mereka memelihara lebih dari 1.000 ekor babi di kandang milik keluarga.

Dari Kandang Babi Menjadi Rumah Mewah

Pada tahun 2020, Zhu membangun kembali rumah leluhur keluarga Zhu di daerah Dashu, Distrik Xinshi. Rumah barunya bergaya modern minimalis, tampak anggun layaknya sebuah galeri seni. Di dinding luar berwarna abu-abu semen ekspos, terpampang tulisan besi tempa berwarna hitam bertuliskan “桂田” (Gui Tian), di bawahnya tertulis nama perusahaannya dalam bahasa Inggris: “THE GREATENS”.

Begitu melewati gerbang, pengunjung akan disambut taman bergaya Jepang yang rimbun dan anggun. Ada pohon pinus Jepang yang gagah serta sebuah pohon mangga besar di tengah lorong—pohon yang dahulu, 30–40 tahun lalu, digunakan untuk menambatkan sapi. Tak ada yang menyangka, taman damai nan indah ini dulunya adalah kandang babi yang bau dan bising.

Hidup Dikejar oleh Uang

Lingkungan Dashu masih terasa kental nuansa pedesaannya. Ketika Zhu lahir, daerah ini bahkan lebih sederhana—murni desa tempat kebanyakan warga bertani. Meski keluarganya tidak tergolong miskin ekstrem, tapi masa kecil Zhu selalu diliputi kekhawatiran soal keuangan.

Ayah Zhu berasal dari keluarga besar dengan enam saudara kandung. Kakeknya pernah gagal dalam usaha kecil, meninggalkan utang besar. Saat sang ibu menikah, ayahnya benar-benar tak punya apa-apa: tak ada rumah, tak ada tanah—bahkan jas yang dia pakai saat menikah pun hasil sewa.

Setelah semua saudara kandung berkeluarga sendiri, sisa utang masih menjadi beban, dan ayah Zhu dengan penuh tanggung jawab memutuskan untuk menanggung semuanya.

Dia sering berkata: “Manusia boleh miskin, tapi tekad tak boleh lemah.” 

Demi menghidupi keluarga dan membayar utang, sang ayah bekerja keras tanpa kenal lelah.

Salah satu mas kawin ibunya adalah sepeda. Ayahnya lalu mulai berjualan ikan kering dari pasar, berkeliling menjajakannya dari rumah ke rumah. Karena pintar dan rajin, usaha kecil itu cukup berhasil. Meski ada yang meniru usahanya, tidak semua bisa berhasil seperti dirinya.

Tak puas dengan satu pekerjaan, ayah Zhu mencoba berbagai macam usaha: jadi sales batu bata, membuka usaha pabrik bata kecil, jual mesin penggiling padi, bahkan jadi buruh di kebun tebu. Meski penghasilan bertambah, uang selalu habis untuk bayar utang, hanya cukup untuk makan sekeluarga.

Remaja yang Hidup Bersama Babi

Rumah keluarga Zhu pada awalnya hanya rumah dari tanah liat. Setelah Zhu lahir, rumah tersebut dibangun ulang menjadi rumah gaya tiga sisi khas Taiwan (sanheyuan), meski masih terasa sempit karena jumlah anggota keluarga yang banyak.

Sekitar usia enam tahun, ayahnya memutuskan memperbesar usaha peternakan babi. Dia membeli sebidang tanah kecil di samping rumah untuk mendirikan kandang babi. Dari hanya beberapa ekor, berkembang menjadi 100, 300, 500, hingga lebih dari 1.000 ekor.

Namun, banyak orang salah paham bahwa memiliki ribuan ekor babi berarti kaya. Faktanya, bisnis ini sangat berisiko. Harga babi fluktuatif, penyakit seperti flu babi atau PMK bisa menghanguskan seluruh investasi. Biaya kandang, pakan, dan perawatan sangat tinggi. Tak bisa pinjam ke bank, satu-satunya cara adalah berutang lewat arisan atau keluarga, seringkali dengan bunga tinggi.

Untuk menghemat, ayah Zhu bahkan membeli tomat busuk dari pabrik kecap untuk dijadikan pakan babi. Semua kerja keras ini tak mudah dijelaskan pada orang luar. Keluarga mereka nyaris tak pernah liburan. Bahkan sampai SMA, Zhu hanya beberapa kali bisa keluar kota bersama keluarga.

Sebagai remaja, Zhu sempat malu. Setelah sekolah, dia harus langsung pulang bantu kasih makan babi, bahkan akhir pekan tak bisa santai. Bau babi melekat di baju, membuatnya tidak percaya diri. Tapi melihat ayah ibunya bekerja keras, kakak-kakaknya ikut membantu meski juga belajar malam, dia tak tega untuk berpangku tangan. Dia belajar menyuntik babi, membantu kawin silang babi, dan membantu induk babi melahirkan.

Saat Keluarga Tak Lagi Lengkap

Suatu hari saat Zhu masih SD, ibunya mengalami komplikasi parah karena batu empedu. Operasi gagal, dua bulan dirawat, nyaris meninggal. Luka besar tertinggal di perut. Selama dua tahun, ibunya bolak-balik rumah sakit karena infeksi dan komplikasi. Suatu hari, pihak sekolah memberi tahu bahwa ibunya kritis. Zhu lari pulang dan menangis di pelukan ibunya, memohon agar sang ibu jangan meninggalkannya.

Sejak itu, setiap pagi dia berdoa agar ibunya selamat. Malam hari, dia menangis diam-diam di bawah selimut. Karena pengobatan lokal tak kunjung membaik, keluarga memohon petunjuk dari Dewa Xuantian Shangdi—dewa pelindung lokal. 

Jawaban dewa adalah: “Bawa ke rumah sakit besar di Taipei.”

Ibunya akhirnya dirawat di Rumah Sakit Veteran Taipei, dan sang ayah menemani. Sementara itu, sang paman datang membantu di rumah dan mengurus kandang babi.

Masa itu sangat berat. Rumah terasa kosong. Namun peristiwa ini membuat semua anak cepat dewasa. Zhu yang tadinya tidak suka beternak babi justru mulai merindukan saat-saat mereka sekeluarga bekerja bersama. Dia berjanji pada dirinya: jika ibunya pulih, dia akan pulang tepat waktu dan membantu sebisa mungkin.

Akhirnya, ibunya sembuh perlahan dan kembali ke rumah. Sejak itu, Zhu makin menghargai waktu bersama keluarga. Dia sadar, tak ada yang lebih penting dari seluruh keluarga yang sehat dan utuh.

Yang Saya Rindukan: Kekompakan Keluarga, Bukan Bisnisnya

Usaha ternak keluarga Zhu bertahan hingga Zhu menikah. Saat dia akan lulus SMA, ayahnya pernah bertanya: “Mau bantu perluas peternakan ini setelah kamu wamil nanti?” 

Zhu menjawab setengah bercanda, setengah serius: “Jangan, nanti saya nggak laku-laku.”

Bukan karena dia takut kerja keras. Dia hanya merasa tidak ada ketertarikan sama sekali pada dunia peternakan. Dia ingin membangun usaha sendiri di bidang lain—sesuatu yang lebih “klik” dengannya. Setelah wamil, Zhu memulai jalur wirausaha dan peternakan pun akhirnya ditutup. Dia pun melangkah ke dunia yang benar-benar berbeda.

Meski begitu, setiap kali dia melintasi jalan tol dan melihat truk pengangkut babi, atau mencium bau khas dari peternakan, hatinya selalu diliputi rasa haru. Dia teringat saat-saat bersama keluarga: dia mengaduk pakan, ibu membersihkan kandang, ayah menyuntik babi, dan para kakak memasak di dapur. Bahkan jika induk babi melahirkan di malam hari, seisi rumah turun tangan membantu.

Hidup saat itu memang susah dan serba kekurangan. Tapi kasih sayang di antara anggota keluarga sangat dalam. Mereka saling memahami, saling menguatkan. Rasa hangat itulah yang selalu melekat dalam hatinya—dan itulah harta paling berharga dalam hidup Zhu Renzong.

Prinsip Hidup ala Zhu Renzong

1. Hidup harus punya harga diri. Asal ada niat, tak ada masalah yang tak bisa diatasi.

2. Meski tak suka sesuatu, jika dilakukan dengan cinta, hidup tetap punya makna.

3. Kesehatan dan kebersamaan keluarga adalah fondasi utama dalam merintis usaha.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine