EtIndonesia. Meskipun gencatan senjata yang diumumkan pada 19 Juli tampaknya masih berlaku hingga sekarang, sebuah lembaga pemantau pada 20 Juli melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat kekerasan di Provinsi Sweida, wilayah inti komunitas minoritas Druze di Suriah, telah meningkat menjadi 1.115 orang sejak akhir pekan lalu — naik hampir 200 orang dibandingkan hari sebelumnya.
Menurut laporan AFP, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) menyebutkan bahwa dari jumlah korban tewas:
- 427 adalah pejuang Druze
- 298 warga sipil Druze, termasuk 194 orang yang dieksekusi secara semena-mena oleh personel dari Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri Suriah
Pada 19 Juli 2025, kelompok bersenjata klan Badui dan suku-suku bersenjata lainnya masih bertempur dengan milisi Druze di kota Sweida, Suriah Selatan, bahkan terlihat mengevakuasi rekannya yang terluka dari medan tempur.
Pada hari yang sama, foto menunjukkan mayat bergelimpangan di tepi jalan di bagian utara kota Sweida, wilayah yang mayoritas dihuni komunitas Druze.
Menurut observatorium tersebut, 354 personel keamanan pemerintah dan 21 warga klan Badui juga termasuk di antara korban tewas — tiga di antaranya warga sipil yang dieksekusi oleh milisi Druze. Selain itu, 15 tentara pemerintah tewas akibat tembakan artileri Israel.
Korban tewas naik 204 orang dibandingkan hari sebelumnya, terdiri dari:
- +101 milisi Druze
- +36 warga sipil Druze
- +42 personel keamanan pemerintah
Sebelumnya, meskipun pemerintah Suriah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan mediasi Amerika Serikat guna mencegah campur tangan militer lebih lanjut dari Israel, kelompok bersenjata Badui dan sekutunya tetap melanjutkan pertempuran sengit melawan milisi Druze di pusat kota Sweida selama tujuh hari berturut-turut.
Syrian Observatory melaporkan bahwa sejak tengah malam (pukul 21:00 GMT, 19 Juli), kota Sweida berada dalam keadaan tenang namun waspada. Pemerintah Suriah pun menutup semua jalan menuju provinsi tersebut untuk mencegah masuknya milisi suku bersenjata ke wilayah itu.
Komunitas Druze dan klan Arab Badui memiliki sejarah permusuhan lama. Bahkan, perjanjian damai sebelumnya gagal meredakan ketegangan — sebaliknya justru memperburuk konflik, yang kini turut melibatkan pemerintah Suriah yang dipimpin oleh kelompok Islamis, militer Israel, serta kelompok suku bersenjata dari wilayah Suriah lainnya.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang berada di bawah naungan PBB menyatakan bahwa lebih dari 128.000 orang telah mengungsi dari Provinsi Sweida akibat kekerasan ini.
Foto udara yang diambil pada 19 Juli memperlihatkan kondisi jalanan kota Sweida yang dipenuhi oleh milisi suku bersenjata, Badui dan pejuang Druze yang terlibat baku tembak, bahkan terlihat mayat tergeletak di jalan.
Pada 20 Juli, milisi suku berdiri di samping pos pemeriksaan militer pemerintah di kota Busra al-Harir, sebelah timur Sweida — pos tersebut didirikan untuk mencegah mereka masuk lebih jauh ke dalam kota.
Pada hari yang sama, sebuah foto udara menunjukkan iring-iringan kendaraan Bulan Sabit Merah Suriah yang mengangkut bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Sementara Suriah melintasi kota Busra al-Sham menuju Sweida, tempat komunitas Druze bertahan. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


