Etindonesia. Sejak Juli, cuaca panas ekstrem melanda lebih dari 20 provinsi di Tiongkok, dengan suhu terasa di beberapa tempat melampaui 45℃. Banyak warganet melaporkan bahwa suhu permukaan tanah di daerah mereka mencapai lebih dari 80℃.
Menurut catatan resmi pemerintah Tiongkok, pada 15 Juli, Stasiun Gunung Fenghuang di Gongyi, Zhengzhou, Henan mencatat suhu udara mencapai 44,2℃, dan 94 stasiun cuaca di seluruh provinsi mencatat suhu di atas 40℃.
Pada 18 Juli, warga dari berbagai daerah di Henan membagikan video yang menunjukkan jendela rumah mereka retak karena panas, serta suhu permukaan tanah mencapai lebih dari 70℃. Beberapa warganet bahkan menyebutkan bahwa suhu permukaan tanah di Henan sudah melewati 85℃.
Di Chongqing, seorang pembuat konten mengunggah video yang menunjukkan suhu udara di Distrik Banan mencapai 42℃, dengan suhu permukaan tanah mencapai 86℃ — hingga bisa menggoreng telur tanpa api.
Panas ekstrem di Henan bukan hanya membunuh nyamuk, meledakkan jalan, dan memecahkan jendela rumah — bahkan membuat pipa air ledeng meledak.
Pada 16 Juli, sejumlah warganet mengunggah video yang memperlihatkan ledakan pipa air di Kota Xinyang, Provinsi Henan, yang menyemburkan air setinggi tiga hingga empat meter, hingga membuat jalanan tergenang seperti danau. Beberapa kendaraan terendam dan pasokan air di beberapa kompleks perumahan pun terputus.
Pihak layanan pelanggan perusahaan air setempat mengatakan bahwa ledakan pipa air “terkait dengan suhu tinggi”. Salah satu warga mengeluh bahwa terkena pemadaman air saat cuaca panas adalah hal yang menyebalkan. Seorang warganet bertanya: “Tidak ada proyek konstruksi, kenapa bisa meledak?” Warganet lain menjawab: “Panas sampai meledak.”
Panas ekstrem di Henan juga disertai kekeringan. Beberapa daerah tidak memiliki air untuk menyiram tanaman, sehingga jagung mengering dan mati. Seorang warga Desa Xinyang bermarga Gao mengatakan bahwa sungai di depan rumahnya telah kering total. Ada juga petani yang meninggal dunia karena kepanasan saat bekerja di ladang, sehingga kini penyiraman ladang baru dilakukan setelah pukul 19.00 malam.
Pada 18 Juli, seorang blogger dari Henan mengunggah video yang menggambarkan betapa tanah dibakar oleh panas, kekeringan dan kurang hujan membuat orang putus asa, tanaman layu, sungai menyusut, dan udara pun terasa seperti terbakar.
Blogger lain mengungkapkan bahwa Henan bukan hanya panas, tapi juga sangat kering sampai tidak ada air untuk diminum — sumur rumah warga pun kering, dan akses air bersih menjadi masalah besar.
Selain Henan, Provinsi Anhui juga mengalami gelombang panas dan kekeringan selama berhari-hari. Video pada 18 Juli menunjukkan tanaman di ladang hampir mati kekeringan, dan petani yang terus menyiram ladang menangis histeris karena keputusasaan.
Pada 17 Juli, seorang warga bermarga Luo dari Henan mengatakan kepada reporter Epoch Times bahwa keluarganya di Xinyang mengalami cuaca yang sangat panas, bahkan dua orang meninggal dunia: satu orang meninggal di dalam kota, satu lagi di pinggiran — yang terakhir adalah orang lanjut usia yang masih bekerja di ladang saat tengah hari, lalu pingsan karena panas dan saat ditemukan oleh warga yang lewat, sudah tidak bernapas.
Selain itu, Rumah Sakit Pencegahan Penyakit Akibat Kerja di Wuhan, Provinsi Hubei, juga mengumumkan bahwa sejauh ini telah ada 155 pasien yang dirawat karena heatstroke (sengatan panas) dan 5 di antaranya meninggal dunia. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


