EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina terus menampilkan babak baru yang makin sulit diprediksi. Pada Sabtu, 20 Juli 2025, Ukraina melancarkan tiga gelombang serangan drone ke arah Moskow dalam satu hari, memperlihatkan wajah baru peperangan modern: drone kini menjadi senjata utama dalam pertahanan dan penyerangan jarak jauh antarkota bahkan antarnegara.
Hujan Drone di Atas Moskow, Sistem Pertahanan Rusia Gagal Total
Pada dini hari, lebih dari 100 drone Ukraina menyerbu Moskow. Sekitar 20 di antaranya berhasil menembus sistem pertahanan udara Rusia yang dikenal sangat kuat, bahkan sempat memasuki kawasan pusat kota. Malam itu, ledakan dan sirene serangan udara meraung di seluruh Moskow, menjadi pemandangan yang diperkirakan akan semakin sering terjadi ke depan.
Rusia sebenarnya memiliki sistem pertahanan udara canggih, Pantsir S1, yang menggabungkan rudal dan meriam antipesawat. Namun pada serangan kali ini, sistem tersebut justru mengalami kegagalan tragis—salah satu rudal yang ditembakkan untuk menghalau drone malah mengenai sebuah apartemen di Moskow, menimbulkan korban dan kepanikan warga.
Tak hanya Moskow, wilayah lain seperti stasiun kereta api dekat Rostov—jalur logistik utama militer Rusia—juga menjadi sasaran. Di lokasi tersebut, ledakan besar menghancurkan fasilitas yang diibaratkan sebagai “gudang senjata” militer Rusia.
Kiev Dihantam Rudal Hipersonik Kinzhal “ Dagger”, Warga Berlindung di Stasiun Metro
Pada waktu yang hampir bersamaan, Kiev juga tidak luput dari serangan. Namun, berbeda dengan Moskow yang dihujani drone, ibu kota Ukraina itu digempur rudal hipersonik “Dagger” buatan Rusia. Satu rudal Kinzhal “Dagger” bernilai hingga 10 juta dolar AS. Rekaman warga memperlihatkan tiga rudal “Dagger” meledak hampir bersamaan di pusat kota, memicu gelombang kejut dan kepanikan massal.
Warga Kiev kembali harus tidur di stasiun metro atau tempat perlindungan darurat lain. Ironisnya, salah satu stasiun metro penuh dengan asap tebal, diduga akibat serangan langsung atau korsleting. Padahal, banyak keluarga yang berlindung di sana dan alarm serangan udara belum juga berhenti.
Pada pagi harinya, kebakaran melanda sebuah mal, sebuah taman kanak-kanak (TK) terkena dampak, dan bahkan Kedutaan Besar Azerbaijan ikut hancur—menjadikannya kedutaan asing ke-11 yang jadi korban dalam perang ini.
Setelah delapan jam serangan non-stop, tercatat satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka di Kiev, serta sejumlah apartemen hancur akibat rudal. Jika warga tidak mendapatkan peringatan dini, jumlah korban diyakini bisa jauh lebih besar.
Amerika Serikat Tempatkan Bom Nuklir di Inggris untuk Hadapi Ancaman Putin
Di tengah eskalasi perang terbuka, langkah strategis NATO dan Amerika Serikat ikut menjadi sorotan. Dilaporkan, AS untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade kembali menempatkan bom nuklir taktis di Inggris. Beberapa hari terakhir, bom termonuklir tipe B61-12 yang memiliki akurasi tinggi dan daya ledak variatif (0,3 hingga 50 kiloton) dipindahkan ke Pangkalan Lakenheath, Suffolk, Inggris. Sebagai gambaran, bom atom Hiroshima “hanya” berkekuatan 15 kiloton dan menewaskan 140.000 orang—satu bom B61-12 mampu menghasilkan daya rusak tiga kali lipat lebih dahsyat.
Langkah ini diambil untuk merespons ancaman nuklir yang sering dilontarkan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Ini adalah penempatan pertama sejak tahun 2005, di mana bom-bom tersebut dipindahkan langsung dari pangkalan udara di New Mexico, Amerika Serikat.
Pernyataan Kontroversial Jenderal Amerika: NATO Siap Rebut Kaliningrad dari Rusia
Situasi memanas ketika Jenderal Christopher T. Donahue, Komandan Angkatan Darat Amerika untuk Eropa dan Afrika, secara terang-terangan menyatakan bahwa NATO mampu merebut wilayah strategis Rusia di Baltik, yaitu Kaliningrad, dalam waktu singkat jika diperlukan. Wilayah kecil yang terjepit antara Polandia dan Lituania itu memang sangat strategis bagi Rusia. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Moskow; Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Rusia mengancam akan menggunakan senjata nuklir jika Kaliningrad sampai diserang.
Ukraina Uji Strategi Baru, Perburuan hingga ke Benua Lain
Selain medan perang utama, Ukraina juga melakukan serangan dan operasi intelijen hingga ke luar negeri. Pada 20 Juli 2025, Mayor Jenderal Korniev—komandan Divisi Lintas Udara ke-7 Rusia yang terkenal kejam—dilaporkan meninggal secara mendadak. Versi resmi menyebut akibat serangan jantung, namun rumor yang beredar menyebutkan kemungkinan racun dari operasi intelijen Ukraina.
Di Afrika, pasukan khusus Ukraina berhasil membunuh tentara bayaran Wagner, Nescherov, yang pernah melatih petinju kelas berat Rusia dan ikut dalam invasi awal ke Ukraina. Penangkapan dan eksekusi musuh hingga ke benua lain ini dinilai sebagai bukti meningkatnya kemampuan operasi rahasia Ukraina.
Zelenskyy Puji Trump, Kritik Biden, dan Buka Program Uji Senjata Dunia
Di panggung politik, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy memberikan pujian terbuka kepada Donald Trump atas bantuan senjata miliaran dolar dan sanksi tegas terhadap Rusia, yang menurutnya lebih efektif dibanding paket bantuan Presiden Biden.
Dalam wawancara terbaru, Zelenskyy menilai Trump memiliki kapasitas untuk mengakhiri perang, dan bahkan menyampaikan anekdot menarik: selama utusan Trump, Jenderal Kellogg, berada di Kiev, kota itu tidak diserang Rusia selama dua malam berturut-turut. Dia berseloroh bahwa Kellogg sebaiknya diberikan paspor Ukraina agar Rusia tidak lagi berani menyerang Kiev.
Zelenskyy juga mengumumkan inisiatif baru bernama “Program Uji Coba Ukraina”, yang membuka pintu bagi perusahaan produsen senjata di seluruh dunia untuk menguji langsung teknologi pertahanan mutakhir mereka di medan perang nyata Ukraina-Rusia. Mulai dari sistem pertahanan udara, bom canggih, sistem perang elektronik, hingga artileri pintar, semua bisa diuji secara langsung—sebuah keuntungan besar bagi dunia industri militer sekaligus memperkuat pertahanan Ukraina.
Kesimpulan:
Perang Rusia-Ukraina kini bukan lagi sekadar bentrokan dua negara, tapi telah menjadi panggung ujian teknologi militer dan kekuatan politik global. Eskalasi serangan, penempatan bom nuklir Amerika di Inggris, manuver militer hingga perburuan musuh di luar negeri, semuanya menandai babak baru yang penuh risiko dan ketidakpastian, tidak hanya bagi kawasan, tapi juga untuk dunia internasional.


