Eritritol ditemukan dalam banyak produk seperti permen, permen karet bebas gula, minuman ringan, obat kumur, es krim, protein bar, dan lainnya
Jack Phillips
Sebuah pemanis pengganti gula yang digunakan secara luas dalam makanan bebas gula dan rendah kalori mungkin tidak seaman yang selama ini diperkirakan, menurut sebuah studi baru.
Jumlah kecil eritritol, yang disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada tahun 2001, dapat merusak sel-sel pembuluh darah di otak dan meningkatkan kemungkinan stroke, kata para peneliti dari University of Colorado dalam sebuah siaran pers.
Eritritol tergolong dalam alkohol gula, yang sebagian besar diproduksi melalui fermentasi jagung. Zat ini ditemukan dalam banyak produk, seperti permen, permen karet bebas gula, minuman ringan, obat kumur, es krim, protein bar, dan masih banyak lagi.
Dalam siaran pers tanggal 14 Juli, para peneliti menyampaikan bahwa setelah mengobati sel manusia yang melapisi pembuluh darah di otak selama tiga jam dengan jumlah eritritol setara dengan yang terkandung dalam minuman bebas gula biasa, mereka menemukan dampak pada berbagai aspek fungsi sel tersebut.
Sel-sel tersebut menghasilkan nitrogen monoksida dalam jumlah yang jauh lebih sedikit, padahal zat ini berfungsi melebarkan dan merilekskan pembuluh darah, serta menghasilkan lebih banyak protein yang justru menyempitkan pembuluh darah di otak. Sel otak yang diobati dengan eritritol juga menghasilkan lebih banyak radikal bebas, yang dapat memicu reaksi inflamasi dan mempercepat penuaan jaringan, menurut siaran tersebut.
Christopher DeSouza, profesor fisiologi integratif di universitas tersebut sekaligus salah satu penulis studi, mengatakan bahwa temuan ini melengkapi bukti lain yang menunjukkan bahwa pemanis non-nutritif yang selama ini dianggap aman, sebenarnya bisa membawa konsekuensi negatif terhadap kesehatan.
Ia mencatat bahwa studi ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Applied Physiology, menggunakan porsi konsumsi sehari-hari dari eritritol. Artinya, orang yang mengonsumsi beberapa porsi per hari mungkin akan mengalami dampak yang lebih merugikan. Para peneliti juga menyampaikan bahwa penelitian ini hanya dilakukan di laboratorium dan pada sel, sehingga studi yang lebih besar pada manusia perlu dipertimbangkan.
DeSouza menyarankan konsumen untuk lebih berhati-hati terhadap produk yang mengandung eritritol dan memeriksa label produk. Produk-produk populer di pasaran yang mengandung pemanis ini antara lain Truvia, Splenda, Vitamin Water Zero, dan Gatorade G2 Natural, serta banyak produk lain yang terkait dengan diet keto.
Pada tahun 2023, FDA menyebut bahwa eritritol adalah “bahan makanan yang relatif baru” dan secara alami ditemukan dalam beberapa makanan, khususnya beberapa jenis jamur. Eritritol telah digunakan sebagai pemanis sejak tahun 1990 dan juga telah disetujui penggunaannya di Jepang, Australia, Selandia Baru, Kanada, Brasil, dan Meksiko.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Colorado ini bukan yang pertama yang menemukan kaitan antara eritritol dan masalah kesehatan kardiovaskular.
Sebuah artikel yang diterbitkan pada Maret 2023 oleh National Institutes of Health (NIH) menemukan bahwa pemanis ini mungkin menimbulkan risiko terhadap kesehatan jantung, dengan mencatat bahwa “kadar eritritol yang lebih tinggi dalam darah dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke,” namun juga menyarankan bahwa studi lebih lanjut masih diperlukan.
Sementara itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Cleveland Clinic pada Agustus 2024 menemukan hubungan antara konsumsi eritritol dengan risiko serangan jantung atau stroke. Dalam studi tersebut, sepuluh orang secara acak diminta mengonsumsi air yang dicampur dengan 30 gram eritritol, sementara sepuluh orang lainnya mengonsumsi air dengan 30 gram gula biasa.
“Eritritol membuat trombosit (jenis sel darah) menjadi lebih aktif, yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah. Gula (glukosa) tidak memiliki efek seperti itu,” demikian menurut studi tersebut.
Sumber : Theepochtimes.com


