Dari Turtleneck hingga TikTok: Bagaimana Generasi Z Mendefinisikan Ulang Fashion Mewah

Oleh Babak Baniasadi, kontributor Vision Times

Pada tahun 1998, Steve Jobs naik ke panggung Apple dengan mengenakan turtleneck hitam, celana jeans biru, dan sepatu sneakers. Ia bahkan sering tak memakai sabuk. Penonton begitu antusias saat peluncuran produk itu. Jobs tidak tampil seperti CEO kebanyakan yang mengenakan setelan jas dan dasi kaku seperti eksekutif di Microsoft.

Pakaiannya menunjukkan sesuatu yang berbeda — bahwa ia adalah seorang pemikir, pencipta, seseorang yang terlalu fokus mengubah dunia hingga tak peduli pada etiket fashion.

Tampilan “Einstein” ini bukan sekadar preferensi pribadi — melainkan bentuk perlawanan halus terhadap keseragaman korporat. Pakaian Jobs menunjukkan bahwa ia lebih peduli pada ide daripada penampilan di ruang rapat.

Momen itu menanam benih, yang kemudian akan mengubah cara orang — terutama kalangan kaya — menampilkan status, dari ruang rapat Silicon Valley hingga rak-rak streetwear.

Munculnya ‘Kemewahan Sunyi’ (Quiet Luxury)

Pendekatan Jobs mulai diikuti banyak orang. Bukan sekadar tampil kasual — tapi tampil mahal tanpa usaha berlebihan.

Pada 2010-an, miliarder teknologi seperti Mark Zuckerberg membawa ide ini lebih jauh. Ia mengenakan kaos abu-abu polos dan hoodie, namun bukan sembarang pakaian. Kaos kustomnya dari merek Brunello Cucinelli kabarnya seharga $300–$400 per helai.

Inilah yang disebut sebagai “kemewahan sunyi” — kekayaan yang diekspresikan melalui kesederhanaan berkualitas tinggi, bukan logo mencolok.

Tak ada rantai emas atau motif desainer mewah yang menjerit minta perhatian. Sebaliknya, langkah berkelas kini ditandai dengan dasar-dasar fashion berkualitas tinggi yang berbisik eksklusivitas. Estetika ini cocok dengan dunia teknologi: intelektual, inovatif, dan meninggalkan simbol status kuno.

Orang-orang pun mulai memperhatikan. Bahkan yang tidak mampu membeli kaos $400 pun mencoba meniru gayanya. Pesannya jelas: kamu tak perlu jas atau merek besar untuk terlihat penting — minimalisme memiliki kekuatan.

Rumah mode pun menangkap tren ini. Tak lama, rak-rak dipenuhi pakaian mahal yang tampak sederhana: kaos putih polos bisa dihargai ratusan dolar, sementara versi serupa di toko biasa hanya $10.

Alasannya: kain dan potongan yang “lebih baik”, tapi lebih sering karena eksklusivitas.

Gaya baru yang dianggap “keren” adalah kesan effortless — tampak sederhana tapi menyiratkan kekayaan.

Seragam anti-setelan ala Jobs telah memicu revolusi fashion penuh, membuat merek-merek mewah tradisional berebut beradaptasi.

Sentuhan Gen Z

Lalu datanglah Generasi Z, dan aturan kembali berubah.

Lahir antara tahun 1997 hingga 2012, generasi ini tidak terlalu peduli dengan kemewahan tradisional. Meski mereka sadar akan kaos seharga $400 dan merek-merek desainer, mereka tidak ikut-ikutan hype.

Kecemasan finansial membayangi — Gen Z merasakan tekanan ekonomi lebih besar daripada generasi sebelumnya.

Media sosial memainkan peran besar dalam cara mereka mengekspresikan diri. Di TikTok dan Instagram, tren berganti cepat, dan Gen Z mengikuti gaya yang murah, ekspresif, dan sering kali unik.

Riset menunjukkan bahwa konsumen muda lebih suka membeli lewat platform penjualan kembali seperti Depop dan Poshmark, di mana barang-barang bekas dan “dupe” (tiruan barang mewah yang terjangkau) menjadi primadona.

Pasar barang bekas diperkirakan akan tumbuh menjadi $40 miliar pada tahun 2027, sebagian besar didorong oleh kebiasaan belanja Gen Z yang gemar mencari barang murah.

Perubahan ini mengguncang industri fashion. Merek-merek mewah mulai merasakan dampaknya.

Chanel, misalnya, pada 2023 menggugat penjual kembali “What Goes Around Comes Around” demi mempertahankan eksklusivitas merek.

Sementara itu, konglomerat seperti Kering (pemilik Gucci) melaporkan penurunan penjualan pada 2022, terutama di pasar seperti Tiongkok, di mana pembeli muda tidak tertarik lagi mengeluarkan uang untuk barang mewah tradisional.

Di saat yang sama, merek fast fashion seperti Shein justru meroket, dengan pendapatan mencapai $32,5 miliar pada 2024.
Sebanyak 62% Gen Z berbelanja setiap bulan untuk pakaian murah nan tren — sebagian besar terbuat dari bahan sintetis dan pewarna beracun atau paraben.

Mereka mencampur dupe seharga $10 dengan barang desainer dari toko barang bekas, menolak gagasan bahwa kemewahan harus selalu baru atau super mahal.

Beberapa merek mulai beradaptasi. Miu Miu mengalami lonjakan penjualan 58% pada 2023 setelah memanfaatkan tren media sosial dan menggunakan siaran langsung untuk menjangkau dan menjual langsung ke Gen Z.

Louis Vuitton dan Burberry juga ikut merambah TikTok dan platform media sosial lainnya untuk menarik pembeli muda. Namun sebagian merek masih kesulitan menyesuaikan diri.
Merek yang masih terpaku pada logo besar dan harga tinggi mulai ketinggalan zaman.

Nilai-nilai baru Gen Z — keterjangkauan, ekspresi diri, dan individualitas — sedang menulis ulang aturan kemewahan.

Arena Baru Fashion

Momen Steve Jobs di tahun 1998, ketika ia tampil dengan turtleneck dan jeans, memicu evolusi fashion.

Gayanya yang anti-korporat menginspirasi tren kemewahan sunyi — di mana kesederhanaan justru menandakan kekayaan besar.

Namun Gen Z membalikkan naskahnya.

Mereka menolak label harga selangit, dan lebih tertarik pada barang bekas bergaya dan dupe modis.

“Bagi Gen Z, bukan tentang kekayaan mencolok atau eksklusivitas, tapi tentang kejujuran emosional, penerimaan diri, dan kedalaman makna.

Kami tertarik pada hal-hal yang terasa ‘berjiwa’, bukan sekadar simbol status,” kata Oscar Emil, pendiri merek parfum eponim.

Merek-merek mewah yang tidak mampu beradaptasi — seperti Kering — mulai merasakan tekanan, sementara platform jual beli bekas dan raksasa fast fashion semakin berjaya.
Satu gaya berpakaian seorang pria memicu revolusi, dan kini kebiasaan belanja satu generasi sedang membentuk ulang industri.

Jika fashion kelas atas ingin bertahan, ia harus menemui Gen Z di tempat mereka berada: online, autentik, dan terjangkau.

Logo mencolok mulai ditinggalkan — dan mungkin, begitu juga jas-jas ruang rapat.

Ini mengundang pertanyaan:  Apakah kita semakin dekat pada masa depan fashion ala film fiksi ilmiah dan sitkom 70-an — di mana semua orang memakai jumpsuit dan sepatu bot yang sama, dan hanya warna yang membedakan peranmu?

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine