EtIndonesia. Ada tiga orang yang akan dijebloskan ke penjara selama tiga tahun. Sebelum masuk, kepala penjara memberi mereka masing-masing satu permintaan.
Orang Amerika yang gemar merokok minta tiga kotak besar cerutu.
Orang Prancis yang terkenal romantis minta ditemani seorang wanita cantik.
Orang Yahudi berkata bahwa dia hanya ingin sebuah telepon yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Tiga tahun pun berlalu.
Yang pertama keluar dari sel adalah si Amerika. Dia berteriak sambil mulut dan hidungnya penuh dengan cerutu: “Tolong kasih aku api! Kasih aku api!”
Ternyata dia lupa meminta korek.
Kemudian, keluarlah si Prancis. Dia menggendong seorang bayi, wanita cantik yang menemaninya juga menuntun seorang anak kecil, dan perutnya tampak sedang hamil lagi.
Terakhir, si Yahudi pun keluar. Dia langsung menjabat erat tangan kepala penjara dan berkata:
“Selama tiga tahun ini saya terus terhubung dengan dunia luar, bisnis saya tidak hanya tetap berjalan, tapi malah tumbuh 200%! Sebagai tanda terima kasih, saya hadiahkan Anda satu unit Rolls-Royce!”
Makna yang Bisa Diambil: Pilihan Menentukan Jalan Hidup
Cerita sederhana ini membawa pesan yang dalam: Hidup seperti apa yang kita jalani hari ini adalah hasil dari pilihan yang kita buat tiga tahun lalu. Dan keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan seperti apa hidup kita tiga tahun mendatang.
Renungan tentang Pilihan: Mana Lebih Penting, Pilihan atau Kerja Keras?
Kita sering mendengar kalimat terkenal: “Jenius adalah 1% inspirasi dan 99% kerja keras.”
Kutipan ini biasa ditempel di bawah foto Edison, diucapkan oleh para guru, dan sering muncul di esai-esai pelajar untuk menambah jumlah kata.
Sebagai seseorang yang dulu malas belajar, aku sering dijewer dengan kalimat ini. Tapi saat kuliah, saat sedang makan bareng teman, aku mendengar versi lengkapnya—dan bagian kedualah yang mengubah cara pandangku:
“Namun 1% inspirasi itulah yang paling penting, bahkan bisa lebih penting daripada 99% kerja keras.”
Saat itulah aku sadar, pertanyaan klasik “mana yang lebih penting, pilihan atau kerja keras?” sebenarnya sudah punya jawabannya: “Pilihan lebih penting daripada kerja keras.”
Mengapa Kita Harus Memilih dengan Bijak? Karena Dunia Terus Berubah
Kita hidup dalam dunia yang terus berubah. Sepuluh tahun lalu, televisi, kamera digital, sepeda gunung, dan mobil pribadi masih dianggap barang mewah. Hari ini, semua itu sudah mulai tergeser:
· Televisi digantikan ponsel pintar
· Sepeda pribadi digantikan sepeda sewaan
· Mobil bensin digantikan kendaraan listrik
Hal-hal yang tidak mau berubah sedang dilupakan oleh zaman. Begitu juga orang-orang yang tak mau berubah—akan tergilas oleh waktu.
Bukan hanya kata-kata kosong. Dalam artikel yang kubaca, dikatakan bahwa masa depan akan dikuasai oleh dunia yang serba otomatis. Sebagian besar pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Bahkan mungkin, 30 tahun ke depan, hanya 1% manusia yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pabrik dan pertanian cerdas—sisanya? Semua jadi bagian dari “industri hiburan”.
Sekarang saja, kecerdasan buatan sudah semakin canggih. Robot AlphaGo mengalahkan juara dunia catur Jepang dalam pertandingan spektakuler di “Konferensi Weiqi Internasional, Wuzhen”. Kalau mesin sudah bisa mengalahkan manusia di permainan otak, apa kamu yakin pekerjaanmu tak akan jadi korban berikutnya?
Kalau Mau Hidup Lebih Baik, Pilihlah Jalan yang Berani dan Maju
Jika kamu ingin hidup lebih baik, maka kamu harus seirama dengan perkembangan zaman. Pilih untuk terus mengakses informasi terbaru, memahami tren baru, dan gunakan itu untuk membentuk masa depanmu.
Lihat para raksasa bisnis saat ini—semuanya berani mengambil pilihan yang berbeda di awal perjalanan hidup mereka:
· Liu Qiangdong, di usia 24 tahun, masih berjualan CD di Zhongguancun dan sempat dihina pacarnya.
· Pony Ma mendirikan QQ saat usia 27, bahkan berpura-pura menjadi cewek untuk menarik pengguna.
· Jack Ma memulai biro terjemahan di usia 30, tapi bisnisnya lesu hingga harus menjual kaus kaki untuk bertahan.
· Zong Qinghou, pendiri Wahaha, baru memulai bisnis saat usia 42—naik becak menjajakan es krim dari gang ke gang.
Coba tanya dirimu sendiri: masihkah kamu punya keberanian seperti itu?
Penutup: Jadilah Penentu, Bukan Korban Perubahan
Akhir kata, izinkan aku mengutip perkataan dr. Sun Yat-sen:
“Arus zaman mengalir deras, siapa yang mengikutinya akan makmur, siapa yang melawannya akan binasa.”
Jadi sebelum dunia berubah, ubahlah dirimu dulu. Tentukan sendiri arah perubahanmu. Maka saat arus perubahan datang, kamu bukan yang tenggelam di ombak—tapi yang berselancar di atasnya.
Pilihan lebih penting daripada kerja keras.
Visi menentukan masa depan.
Pilihan menentukan kehidupan. (jhn/yn)


