Sebuah video yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan seorang petani tua di timur laut Tiongkok yang hidup dengan sebatang besi besar menancap di kepalanya selama lebih dari tiga setengah tahun. Diduga, ia tidak mampu menjalani pengobatan karena alasan finansial. Netizen menyebutnya sebagai keajaiban, namun juga mengecam sistem rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dinilai tidak berperikemanusiaan.
EtIndonesia. Baru-baru ini, video tersebut beredar luas di media sosial Tiongkok. Diduga direkam di sebuah daerah pedesaan di Tiongkok timur laut, karena para penutur dalam video menggunakan logat khas wilayah tersebut.
Dalam video, perekam memperlihatkan seorang pria lanjut usia yang tampak mengerikan, duduk di sebuah warung makan kecil. Di kepalanya tertancap sebatang besi besar berbentuk seperti pentungan, dengan sekitar 20 cm bagian besi yang masih terlihat di luar. Besi tersebut masuk dari bagian belakang pelipis kanan dan menembus otak, hingga ke sisi kiri belakang kepala. Meski ujung besi tidak sampai menembus keluar, tetapi terlihat jelas adanya benjolan besar di kulit kepala tempat besi itu berhenti.
Perekam video terdengar sangat terkejut dan bertanya kepada pria tua itu: “Begini saja? Tidak diobati?” Pria itu menjawab, “Sudah tiga setengah tahun.” Ketika ditanya mengapa tidak mencabut besi tersebut, ia menjawab dengan bingung, “Kalau dicabut masih bisa hidup?” Lalu berkata lagi, “Kalau dicabut bisa jadi idiot.” Ia juga menyebutkan, “(Pengobatan) butuh lebih dari 200 ribu yuan.”
Dari pernyataannya, terlihat bahwa ia khawatir pencabutan besi tersebut bisa berisiko tinggi dan tidak mampu membayar biaya pengobatan yang mahal. Sebagian netizen menduga bahwa alasan “risiko pencabutan” hanyalah dalih—masalah utama sebenarnya adalah ketidakmampuan keluarganya membayar biaya rumah sakit sebesar 200.000 yuan.
Banyak blogger Tiongkok membagikan ulang video tersebut. Di satu sisi mereka takjub dengan nasib sang pria yang begitu “kuat”, namun di sisi lain secara halus mengkritik ketidakadilan dalam sistem pemerintahan PKT. Ada yang mempertanyakan, “Uang asuransi kesehatan yang jumlahnya sangat besar itu ke mana perginya?” dan ada pula yang menyindir, “Sumbangan amal selama ini sebenarnya buat apa?”
Beberapa komentar lainnya menyebutkan, membiarkan seorang pria tua hidup dengan besi menancap di kepalanya begitu saja adalah sesuatu yang mustahil terjadi di negara normal. Mereka mengatakan, “Rakyat jelata di Tiongkok memang seperti rumput di pinggir jalan—tak ada nilainya.”
Seorang netizen menulis, “Bukan dia yang kejam, tapi masyarakat ini yang terlalu kejam padanya.”
Netizen lain mengingatkan kisah tragis serupa: dulu pernah dilaporkan seorang pria di Hebei yang karena tak mampu membayar biaya rumah sakit, menggigit handuk dan melakukan amputasi sendiri menggunakan gergaji, tanpa obat bius. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


