EtIndonesia. Amerika Serikat kembali diguncang isu politik besar yang diprediksi bakal menyaingi skandal Watergate pada era Presiden Nixon. Dalam beberapa hari terakhir, badai politik berembus kencang di Negeri Paman Sam, dipicu oleh sebuah unggahan kontroversial Donald Trump di platform media sosial miliknya pada 21 Juli pukul 20:11 waktu setempat.
Unggahan yang Menggemparkan
Trump menulis dengan tegas: “Obama sendiri yang menciptakan hoaks Rusia, Rusia, Rusia. Hillary yang serakah, Biden yang malas, dan begitu banyak orang lainnya, semuanya terlibat dalam kejahatan terbesar abad ini. Bukti yang tak terbantahkan. Ancaman besar bagi negara kita!!!”
Tiga tanda seru di akhir kalimat mempertegas nuansa ancaman dan keseriusan pernyataannya. Reaksi masyarakat pun terbelah—ada yang antusias, ada pula yang cemas luar biasa.
Kasus Russiagate, Akar Permasalahan
Akar masalah ini bermula dari Pilpres AS 2016. Saat itu, Barack Obama masih menjabat Presiden dan kandidat Demokrat adalah Hillary Clinton, sedangkan Partai Republik diwakili oleh Donald Trump, figur “outsider” di dunia politik. Persaingan memanas, dan isu dugaan campur tangan Rusia meledak di media, terutama setelah WikiLeaks membocorkan email internal Partai Demokrat.
Badan intelijen Amerika, didukung pemberitaan media arus utama, menyebut bahwa Rusia menggunakan hacker untuk meretas data Partai Demokrat, demi mendukung kemenangan Trump. Isu ini berkembang menjadi penyelidikan besar-besaran bertajuk “Russiagate”, dengan penunjukan Jaksa Khusus Robert Mueller pada Mei 2017.
Dua tahun penyelidikan, ribuan dokumen, dan ratusan saksi telah diperiksa. Pada akhirnya, pada April 2019, laporan Mueller menyimpulkan tidak ada bukti kolusi antara tim kampanye Trump dengan Rusia, meski benar ada upaya intervensi pemilu oleh pihak Rusia.
Bukti Baru dari Direktur Intelijen Nasional
Isu yang sempat mereda itu kini memanas kembali setelah Direktur Intelijen Nasional AS, abbard Tulsi Gabbard, secara tiba-tiba membuka sejumlah dokumen rahasia pekan lalu. Dokumen-dokumen ini diyakini sebagai “smoking gun” atau bukti kuat keterlibatan pemerintahan Obama dalam merekayasa narasi kolusi Rusia—bukan sekadar penyelidikan netral, melainkan upaya politik sistematis untuk menjatuhkan Trump yang sudah terpilih sebagai presiden.
Salah satu dokumen kunci adalah salinan Presidential Daily Brief (PDB), briefing harian yang sangat rahasia untuk Presiden AS. Pada 8 Desember 2016, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS mengirim laporan gabungan kepada CIA, FBI, dan semua badan intelijen, menyatakan:
“Kami menilai bahwa Rusia dan pelaku kejahatan siber tidak memengaruhi hasil pemilu Amerika melalui aktivitas siber terhadap infrastruktur pemilu. Ada upaya peretasan, tapi gagal. Tidak ada perubahan hasil pemilu.”
Namun, sehari kemudian, 9 Desember 2016, berlangsung rapat inner circle Obama di Gedung Putih. Semua pimpinan lembaga intelijen hadir. Dalam rapat itu, badan intelijen diperintahkan untuk menulis ulang laporan dengan menekankan “alat dan cara” intervensi Rusia, kendati bukti tidak ada.
Rangkaian peristiwa ini, menurut Gabbard, adalah konspirasi politik tingkat tinggi yang bertujuan menggagalkan mandat rakyat Amerika dan menurunkan legitimasi Presiden terpilih Donald Trump.
Trump Menyerang Balik, Deep State Terancam
Momentum ini dimanfaatkan Trump untuk menyerang balik lawan-lawan politiknya, terutama “deep state” atau jaringan birokrasi di balik layar yang diduga melindungi kepentingan kelompok kiri. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, usai menerima Presiden Philipina, Marcos, Trump kembali melontarkan tuduhan keras:
“Seluruh tim ada di sana, di satu ruangan. Presiden Obama, bukan hanya mereka, tapi juga Obama, Barack Hussein Obama, sang pemimpin tim. Dia bersalah, itu sudah pasti… Mereka mencoba mencuri pemilu, melakukan hal-hal yang tak terbayangkan, bahkan lebih buruk dari negara-negara yang paling keras di dunia.”
Trump menuduh Obama dan kroninya melakukan “pencurian hak pilih rakyat” serta membandingkan metode mereka dengan gaya politik Partai Komunis Tiongkok—licik, terorganisir, dan sangat efektif.
Penyelidikan Bergulir, Jerat Hukum Menanti
Kini, mantan pejabat tinggi seperti eks Direktur FBI, James Comey dan eks Direktur CIA, John Brennan mulai menjadi sasaran penyelidikan pidana oleh Kepala CIA, Ratcliffe dan Direktur FBI Kash Patel. Situasi ironis, karena kasus “Russiagate” yang awalnya hendak menjatuhkan Trump, kini berbalik menjadi “Obamagate” yang mengancam petinggi Partai Demokrat.
Trump bahkan menyebarkan gambar para tokoh “geng gelap” Obama—termasuk Obama sendiri, Comey, Brennan, dan Clapper—disertai sindiran keras bahwa mereka akan diproses bukan hanya secara politik, tapi juga secara ekonomi, menyinggung potensi aliran dana kotor.
Dokumen Sudah Dipublikasikan ke Publik
Demi transparansi, dokumen-dokumen rahasia tersebut kini telah dipublikasikan ke publik melalui situs resmi Kantor Direktur Intelijen Nasional serta live di media sosial, agar seluruh rakyat Amerika bisa mengakses dan menilai sendiri.
Drama Politik Amerika Baru Dimulai
Kesimpulannya, drama “Obamagate” baru saja dimulai. Banyak pihak memperkirakan ini akan menjadi kasus politik terbesar dalam sejarah modern Amerika. Jika penyelidikan berlanjut, bukan tak mungkin sejumlah tokoh politik Amerika—bahkan hingga tingkat mantan presiden—akan menghadapi jerat hukum.
Penutup
Amerika kini sedang menatap salah satu episode paling menegangkan dan menentukan masa depannya. Mampukah sistem demokrasi AS melewati ujian ini, atau justru semakin terbelah oleh perang politik tanpa akhir? Hanya waktu yang akan menjawab.


