Anak-anak yang tinggal dekat dengan pepohonan dan taman menunjukkan perubahan yang terukur pada area otak yang terkait dengan perhatian, bahasa, dan motivasi
oleh Cara Michelle Miller
Taman lingkungan mungkin lebih dari sekadar menyediakan tempat bermain bagi anak-anak. Analisis terbaru dari Inggris menggunakan data pemindaian otak di Amerika Serikat menunjukkan bahwa paparan singkat terhadap ruang hijau dapat membentuk perkembangan otak anak—terutama pada area yang terkait dengan pembelajaran, fokus, dan regulasi emosi.
Temuan ini, yang dipublikasikan dalam Biological Psychiatry, berasal dari peneliti di King’s College London yang mengkaji data lebih dari 7.000 anak yang mengikuti studi Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD), studi jangka panjang terbesar tentang perkembangan otak di Amerika Serikat.
Para peneliti sudah lama mengamati bahwa anak-anak yang tumbuh di dekat taman dan ruang alam cenderung lebih baik di sekolah dan melaporkan lebih sedikit masalah kesehatan mental.
“Studi kami menunjukkan bahwa paparan ruang hijau berhubungan dengan hasil neurodevelopmental anak-anak, bahkan setelah mempertimbangkan faktor-faktor lain di tingkat keluarga dan lingkungan sekitar,” kata Divyangana Rakesh, salah satu peneliti utama di Institute of Psychiatry King’s College London dan dosen psikologi dan neuroscience, kepada The Epoch Times lewat email.
Ini berarti, dibandingkan dengan pendapatan rumah tangga, pendidikan orang tua, dan kondisi lingkungan, berada di alam memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap perkembangan otak anak.
Alam bukan sekadar kemewahan—melainkan bagian penting dari perkembangan masa kanak-kanak yang sehat.
Efek Perlindungan Alam pada Otak yang Sedang Berkembang
Untuk memahami pengaruh alam pada otak anak, para peneliti menganalisis data dari studi ABCD. Analisis ini difokuskan pada anak usia 9 sampai 12 tahun.
Gambar satelit digunakan untuk memperkirakan jumlah ruang hijau di sekitar rumah setiap anak pada usia 9 sampai 10 tahun. Dua tahun kemudian, anak-anak tersebut menjalani pemindaian magnetic resonance imaging (MRI).
Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang memiliki akses lebih banyak ke ruang hijau memiliki peningkatan luas permukaan dan volume di beberapa area otak penting. Area tersebut meliputi yang terkait dengan pemrosesan sensorik, motivasi, bahasa, dan kontrol emosi—seperti lobus temporal dan korteks insular.
Dampak paling kuat ditemukan pada luas permukaan korteks prefrontal, yang krusial untuk perhatian dan perencanaan, serta pada striatum, bagian otak yang terlibat dalam motivasi, penghargaan, dan penetapan tujuan.
Anak-anak yang tinggal di area hijau juga menunjukkan ketebalan kortikal yang lebih besar di wilayah terkait bahasa dan peningkatan luas permukaan di area seperti insula, yang membantu mengatur emosi dan perhatian.
Paparan alam juga tampak memberikan efek perlindungan selama periode rentan perkembangan otak. Pada masa remaja, beberapa area otak mengalami penipisan materi abu-abu secara alami sebagai bagian dari pemangkasan dan reorganisasi normal otak. Namun, anak-anak di area hijau menunjukkan penipisan yang lebih sedikit dari biasanya.
Pada bagian otak yang biasanya tumbuh selama periode ini, ruang hijau mendukung perluasan tersebut, menurut para peneliti. Dan pada area yang biasanya menyusut, ruang hijau terkait dengan perlambatan penurunan.
Penelitian sebelumnya mengaitkan lingkungan berpenghasilan tinggi dengan penipisan kortikal yang lebih cepat—mungkin mencerminkan penuaan otak.
Sebaliknya, studi ini menemukan bahwa ruang hijau memiliki efek sebaliknya. Para peneliti berpendapat bahwa lingkungan berpenghasilan tinggi biasanya melibatkan gaya hidup yang lebih terstruktur dan menuntut kognitif lebih tinggi, sementara lingkungan alami lebih bersifat restoratif.
Selain itu, paparan ruang hijau juga berhubungan dengan kesehatan mental dan prestasi akademik yang lebih baik pada anak-anak.
“Interaksi kecil dan rutin dengan ruang hijau—seperti berjalan-jalan di taman—dapat memiliki pengaruh berarti pada perkembangan otak,” kata Rakesh.
Bagaimana Alam Mungkin Memulihkan Otak
Para peneliti percaya waktu di alam dapat mendukung perkembangan otak dengan membantu anak mengelola stres. Salah satu teori berpusat pada sistem respon stres tubuh, yang disebut aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA).
Ketika anak mengalami stres kronis, tubuhnya memproduksi lebih banyak kortisol, hormon yang—seiring waktu—dapat mengganggu pertumbuhan otak yang sehat, terutama di area yang terkait dengan perhatian, emosi, dan memori.
Para peneliti menyarankan bahwa berada di lingkungan alami dapat membantu menurunkan kadar kortisol dan mengurangi peradangan. Ini menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi otak untuk tumbuh dan berubah. Hal ini juga bisa menjelaskan mengapa anak yang terekspos lebih banyak ruang hijau mengalami penipisan korteks yang lebih lambat dan pertumbuhan luas permukaan yang lebih besar—tanda dari perkembangan yang lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Para peneliti juga mengusulkan bahwa alam memberikan stimulasi otak yang berbeda yang memungkinkan perkembangan otak yang lebih protektif.
Penelitian lain mengemukakan bahwa alam memberi otak jeda dari kelelahan mental—teori yang disebut teori restorasi perhatian.
Area perkotaan penuh dengan rangsangan—sirene, tanda, layar—yang menuntut perhatian penuh. Alam bekerja secara berbeda. Suara burung atau daun bergesekan menangkap perhatian anak dengan lembut tanpa membebani otak, sehingga membantu otak mengisi ulang energi.
Psikolog Gloria Mark, profesor informatika di University of California–Irvine, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penelitiannya menunjukkan bahwa bahkan 20 menit di alam bisa membuat orang merasa lebih sedikit stres dan berpikir lebih kreatif.
Dalam sebuah eksperimen lama, orang yang berjalan selama 50 menit melalui taman berhutan tampil lebih baik dalam tugas memori dan perhatian dibanding yang berjalan di jalan kota yang ramai.
“Itu membantu orang fokus lebih baik,” kata Mark. “Kamu kembali dengan kesegaran mental.”
Menghabiskan Lebih Banyak Waktu di Luar Ruangan
Temuan terbaru ini memberikan panduan untuk peluang kesehatan masyarakat yang mungkin sangat penting untuk perkembangan otak anak.
Namun, anak-anak sekarang menghabiskan waktu lebih sedikit di alam dibanding generasi sebelumnya, dengan sebagian besar waktu dialihkan ke aktivitas berbasis layar dan di dalam ruangan. Membalikkan tren itu, walau sedikit, bisa membawa manfaat yang tahan lama.
Halaman sekolah, misalnya, dapat didesain ulang untuk memasukkan lebih banyak pohon, taman, dan area bermain alami, kata Rakesh. Perencana kota dapat memprioritaskan jalan berderet pohon, atap hijau, dan acara komunitas yang melibatkan alam—terutama di lingkungan dengan akses terbatas ke taman.
“Ini bukan sekadar biaya, tapi investasi jangka panjang untuk kesejahteraan anak-anak.”


