Paruh Kedua dalam Hidup: Belajarlah Menyiapkan Keberanian untuk Menjadi Tua

EtIndonesia. Percayalah bahwa dirimu tetap “bernilai”, jalani hidup saat ini dengan sebaik-baiknya, dan usahakan agar dirimu hari ini lebih baik dari kemarin.

Menjelang akhir tahun, banyak orang tenggelam dalam tumpukan laporan dan catatan akhir tahun, sambil diam-diam merenung: waktu berlalu begitu cepat. Rambut beruban bertambah lagi beberapa helai, teman sebaya ada yang telah berpulang, persendian makin kaku dari tahun ke tahun, daya tahan tubuh pun kian melemah…

Semua ini menandakan: kita mulai menua. Daya fisik dan penampilan perlahan memudar, dan kemunduran pun mulai terasa mengikuti di belakang.

Bisa jadi, di paruh kedua hidup ini, kreativitas dan momen-momen luar biasa yang dulu sering kita alami, seolah mulai menjauh.

Namun, pandangan ini ditantang oleh penulis Jepang terkenal, Ichiro Kishimi. 

Dalam bukunya “Keberanian Menjadi Tua”, dia menulis:

“Dalam hidup, justru jalan menurunlah yang paling indah. Kamu tak perlu lagi memaksakan diri untuk terus mendaki, karena masa puncak telah berlalu. Tapi kamu masih bisa melangkah ke depan, dengan pola pikir menambah, bukan mengurang, menjadikan setiap pencapaian yang telah kamu kumpulkan sebagai nilai tambah untuk dirimu sendiri.”

Jangan takut menjadi tua. Pelajari cara menjadi tua. Maka, hidup pun akan menyuguhkan babak kedua yang tak kalah indah.

Penuaan Itu Tidak Ditentukan Angka

Memasuki usia paruh baya, kita sering merasa seolah ada garis tak kasat mata di depan. Dan saat melewati garis itu, semua kemampuan kita akan cepat lenyap—secepat dulu saat kita memperolehnya di masa muda.

Hanya saja, di mana garis itu berada, tiap orang punya pandangan yang berbeda. Ada yang menganggapnya di usia 35, ada yang bilang 50, bahkan ada yang merasa garis itu selalu berada di depan sana—tak pernah benar-benar terlampaui.

Dalam film dokumenter “Belajar Hingga Tua”, penulis Zhou Yijun mewawancarai 40 orang lansia di sebuah komunitas manula:

·        Seorang nenek berusia 96 tahun mulai belajar puisi klasik Tiongkok di usia 80, dan kini mengajar kelas apresiasi puisi tiap pekan, serta tengah menulis sebuah buku.

·        Seorang profesor berusia 85 tahun menghabiskan lebih dari 9 tahun untuk menulis naskah sepanjang 5 juta kata.

·        Para penghuni komunitas lain juga rutin mengikuti kelas sudoku setiap hari, melatih otak bagian prefrontal dengan perhitungan yang kompleks agar tetap tajam dan mampu belajar.

Di internet, kita sering melihat pertanyaan seperti:
#UsiaMendekati50MasihBisaBelajar?
#BelajarDiUsiaParuhBayaMasihAdaGunanya?

Di balik pertanyaan-pertanyaan itu, terselip kegelisahan yang sama:  “Apakah sudah terlambat?”

Selama Masih Bernapas, Tidak Pernah Terlambat

Kishimi sendiri mulai belajar bahasa Korea di usia 60. Meskipun tenaga dan daya ingat tak sebaik dulu, pengalaman belajarnya selama bertahun-tahun membantunya menemukan cara-cara belajar yang lebih efisien. Hasilnya? Dalam dua tahun, dia sudah bisa membaca bebas tanpa bantuan.

Dalam sebuah seminar, saat membagikan pengalamannya, seorang pria tua berdiri dan berkata bahwa dia juga mulai belajar bahasa Mandarin di usia 60-an, lalu menyemangati para peserta:

“Belajar itu tak pernah ada kata terlambat.”

Menurut Kishimi, banyak orang sulit mempercayai hal itu karena mereka belum bisa menerima “diri yang tidak sempurna”. Mereka merasa dirinya sudah terlalu tua, ingatan mulai lemah, waktu pun terbatas—mana mungkin masih bisa belajar keterampilan baru?

Padahal kenyataannya, selama kita berusaha sekeras saat muda, kita tetap bisa menguasai bahasa baru, menjelajahi bidang baru, dan meraih prestasi baru.

Kuncinya adalah:

·        Belajar menghapus nafsu berkompetisi dan hasrat untuk selalu menang.

·        Tidak terus-menerus terjebak dalam penilaian orang lain.

·        Belajar bersukacita atas hal yang dulu belum bisa kita lakukan, tapi hari ini akhirnya bisa.

Selama matahari masih terbit esok hari, kegembiraan semacam itu akan selalu bisa diulang. Dengan keberanian untuk terus maju, kita punya waktu tak terbatas untuk mewujudkan hal-hal yang dulu tertunda.

Kurangi Alasan, Tambah Keberanian

Banyak orang bilang, memasuki usia paruh baya kita harus belajar “mengurangi”: mengurangi beban, menghemat energi. Tapi kadang, pola pikir “menambah” justru lebih penting.

Saat Kishimi menjalani operasi besar di usia 50-an, proses pemulihannya sangat lambat dan membosankan. Tapi dia menemukan bahwa cara terbaik menjaga semangat adalah tidak membandingkan diri dengan orang lain, tapi cukup membandingkan diri dengan dirinya kemarin. Maka, setiap kemajuan kecil pun terasa seperti kemenangan besar.

Sebaliknya, orang yang mudah menyerah biasanya hanya menghitung kekurangan:

“Aku jauh dari versi ideal.”

 “Aku kalah jauh dari orang-orang seumuranku.”

Dan setelah hitungan itu selesai, semangat pun lenyap.

Ubah Pola Pikir: Jadikan Kemajuanmu sebagai Nilai Tambah

Awal tahun ini, seorang teman mulai mengalami tekanan darah tinggi dan berat badan yang naik drastis. Ia pun membuat target: jalan kaki 10.000 langkah per hari.

Awalnya banyak “tapi”:

·        “Aku mau keluar, tapi tumitku sakit.”

·        “Tumitnya sudah mendingan, tapi cuaca lagi buruk.”

·        “Cuaca sudah bagus, tapi kerjaan hari ini bikin capek banget.”

Namun setelah setengah tahun berjalan—walau kadang terhenti—ia mulai membentuk pola pikir baru:

“Hari ini hujan, tapi aku tetap jalan pakai payung—lebih baik dari kemarin yang ogah keluar rumah.”

 “Hari ini kerjaan berat, tapi aku tetap capai target—lebih baik dari kemarin yang cuma rebahan.”

Setahun kemudian, kebugarannya meningkat drastis. Teman-temannya pun mulai tergugah:

“Aku juga harus mulai olahraga. Tapi sekarang aku terlalu gemuk, baru jalan dikit aja udah ngos-ngosan…”

Temanku cuma tersenyum dan bilang: “Enggak apa-apa, mulai aja pelan-pelan. Yang penting terus jalan.”

 Sayangnya, si teman belum juga mulai. Mungkin masih terjebak dalam “tapi-tapi”-nya sendiri.

Dari “Tapi” ke “Mungkin Bisa”: Keberanian untuk Melangkah

Coba lepaskan semua alasan “tapi”, dan katakan pada diri sendiri:  “Mungkin aku bisa.”

 Langkahkan kaki dulu. Lihat apa yang terjadi.

Alih-alih terus mengurangi poin karena belum mencapai versi ideal, tambahkan poin dari setiap kemajuan kecil yang kamu raih hari ini.

Kamu akan sadar—usia dan penyakit hanyalah label. Nyatanya, masih banyak hal yang bisa kamu capai.

Nilai Diri Tidak Hilang Saat Tua—Kitalah yang Harus Menemukannya

Penulis Amerika Arthur Brooks pernah mendengar seorang pria tua di belakangnya di pesawat mengeluh pada istrinya: “Aku sudah tua dan tak berguna. Tak ada yang membutuhkan aku lagi.”

Sang istri menjawab dengan nada kesal. Brooks pun menoleh—dan terkejut: pria itu adalah seorang tokoh terkenal. Dia pun terdiam, merenung: “Kalau tokoh sekelas dia saja merasa tak bernilai setelah tua, bagaimana dengan orang biasa?”

Itulah kekhawatiran nyata:  Ketika menuruni puncak karier, bagaimana cara menjaga semangat hidup?

Hidup Berarti Selama Kita Masih Bermanfaat

Dalam kelas menulis online, aku bertemu seorang peserta berusia 60 tahun. Dia berkata, setelah pensiun, dia merasa sepi dan tak lagi dibutuhkan. Anaknya baru pindah keluar kota, cucu belum lahir, dan suami sibuk bekerja.

Dia sempat merasa “tak berguna”—namun semua berubah setelah ia membaca rubrik kehidupan yang menginspirasi.

Dia membayangkan dirinya di usia 80: seperti apa bentuk tubuhnya? Kesehatannya? Mentalitasnya? Lalu dia mulai merancang ulang hidupnya dari sekarang.

Dia membangun kebiasaan sehat, mengejar hobi yang tertunda, bahkan membuka akun media sosial untuk menulis. Kini dia punya komunitas pertemanan baru, menjalani hidup yang aktif, dan keluarganya merasa tenang melihat kondisi mentalnya yang stabil.

Hidup yang Bernilai = Bermanfaat, Sekecil Apa pun Itu

Kishimi menyimpulkan bahwa rasa bernilai sering muncul ketika kita merasa bisa memberi manfaat bagi orang lain. Saat kita merasa tidak bisa lagi “berkontribusi”, kita mulai merasa tidak berguna.

Padahal, setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati di saat kita masih mampu, adalah bentuk nilai tertinggi dalam hidup.

Seperti ibu berusia 60 tadi—menjaga kesehatan, tidak merepotkan keluarga, membangun kehidupan sosial positif, menginspirasi orang lain. Bukankah itu sangat bernilai?

Dua Kurva dalam Hidup: Saatnya Pindah Jalur

Arthur Brooks dalam bukunya “Midlife Awakening” menyebut ada dua “kurva” kehidupan:

1. Kurva pertama adalah masa muda: penuh semangat, pencapaian, kreativitas, dan kekuatan ingatan.

2. Kurva kedua dimulai saat semua keunggulan itu mulai menurun.

Banyak orang salah dengan terus berpegang pada kurva pertama, padahal harusnya segera beralih ke kurva kedua—yang menawarkan hal berbeda:  Kemampuan berpikir sistematis, menyampaikan ide, dan kebijaksanaan yang makin matang.

Paruh kedua hidup bukan sekadar masa penurunan. Ia juga adalah waktu untuk berganti jalur—dengan kebebasan dan kejutan baru.

Tua dengan Anggun: Tidak Perlu Takut, Asal Siap

Aktris legendaris Anita Yuen pernah ditanya, bagaimana cara menua dengan elegan?

Dia justru balik bertanya: “Kenapa kamu yang masih muda sudah khawatir soal menua?”

Sang pembawa acara menjawab: “Karena bisa menyambut usia tua dengan tenang adalah kemampuan yang ingin dimiliki setiap orang paruh baya.”

Jawaban itu benar adanya.

Seperti yang disampaikan Anita Yuen dalam video itu:

“Jangan hanya fokus pada menua itu menakutkan. Tatap ke depan dengan berani. Nikmati setiap pencapaian yang berhasil diraih hari ini.  Lewati tembok ‘tapi’, bangun semangat dengan pola pikir ekstra.  Percayalah dirimu tetap berharga. Rawat hidup saat ini sebaik mungkin. Jadikan hari ini sedikit lebih baik dari hari kemarin.”

Akhir kata, semoga kita semua ingat:

Paruh kedua kehidupan, meskipun mungkin dibayangi kehilangan dan kelemahan, tetap penuh peluang untuk bertumbuh dan bertransformasi. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine