Pada 25 Juli pagi, kembali terjadi baku tembak antara pasukan Thailand dan Kamboja di perbatasan kedua negara.
Menurut data pemerintah Thailand hingga 24 Juli malam, jumlah korban di pihak Thailand meningkat menjadi 14 orang tewas dan 46 luka-luka, dengan 100.000 warga mengungsi.
Pemerintah Kamboja sejauh ini belum merilis informasi tentang korban di pihaknya. Setelah banyak korban sipil berjatuhan akibat konflik ini, warga Thailand berbondong-bondong menuju pusat donor darah.
Etindonesia. Laporan kantor berita Reuters menyebutkan bahwa militer Thailand menyatakan bentrokan terjadi sebelum fajar di Provinsi Ubon Ratchathani dan Surin, wilayah timur laut Thailand.
“Pasukan Kamboja terus menggunakan senjata berat, artileri lapangan, dan peluncur roket multi-laras BM-21 untuk membombardir… Pasukan Thailand telah merespons sesuai taktik militer dengan dukungan tembakan yang tepat,” demikian laporan Reuters.
Pada 25 Juli, seorang jurnalis Reuters yang berada di Provinsi Surin melaporkan bahwa daerah tersebut sebagian besar berupa pedesaan, dengan suara ledakan yang sesekali terdengar. Pasukan Thailand berjaga-jaga di jalan raya dan SPBU. Konvoi militer Thailand yang terdiri dari sekitar 10 truk, kendaraan lapis baja, dan tank melintasi jalanan pedesaan menuju perbatasan.
Menurut Kementerian Kesehatan Thailand, hingga 24 Juli malam, korban tewas di pihak Thailand mencapai 14 orang — 13 di antaranya warga sipil — dan 46 orang terluka, termasuk 14 tentara. Sekitar 100.000 orang telah mengungsi dari wilayah konflik di sisi Thailand.
Pemerintah Kamboja tidak memberikan rincian korban jiwa atau data evakuasi. Namun, juru bicara Provinsi Oddar Meanchey, Meth Meas Pheakdey, menyebutkan satu warga sipil tewas dan lima lainnya terluka, serta 1.500 keluarga telah dievakuasi.
Sejumlah warga yang mengungsi dari perbatasan Thailand-Kamboja terlihat beristirahat di sebuah pagoda di Provinsi Oddar Meanchey pada 25 Juli.
Seorang jurnalis AFP melaporkan dari Kota Samraong, Kamboja — sekitar 20 km dari perbatasan — bahwa suara artileri terdengar dari kejauhan. Saat terdengar tembakan, warga buru-buru mengemas barang, membawa anak-anak, dan melarikan diri.
Seorang warga bernama Pro Bak (41 tahun) mengatakan kepada AFP, “Rumah kami sangat dekat dengan perbatasan. Tembakan kembali terjadi pukul 6 pagi tadi, kami semua sangat takut.” Ia mengungsi bersama istri dan anak-anak ke kuil, dan berkata, “Saya tidak tahu kapan kami bisa kembali ke rumah.”
Akibat eskalasi konflik, Palang Merah Thailand meningkatkan pasokan darah ke rumah sakit-rumah sakit terdampak. Ribuan warga Thailand berdatangan ke pusat-pusat donor darah. Pada 24 Juli, terkumpul 1.424 kantong darah. Hingga tengah hari 25 Juli, jumlah darah yang terkumpul mencapai 722 kantong.
Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan kepada media di Bangkok, “Meski saat ini baru pada tahap konflik, jika situasi memburuk, bisa berkembang menjadi perang.”
Pemicu terbaru konflik adalah insiden ketika seorang tentara Thailand kehilangan kaki kanannya setelah menginjak ranjau darat yang diduga baru dipasang oleh pasukan Kamboja. Thailand pun segera menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok sebagai tanggapan. Beberapa jam kemudian, konflik pecah. Kamboja membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
Sengketa wilayah perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Pada 24 Juli, kedua belah pihak saling menuduh sebagai pihak yang memicu konflik di wilayah sengketa. Bentrokan yang semula hanya menggunakan senjata ringan dengan cepat meningkat menjadi tembakan artileri berat. Serangan ini mencakup setidaknya enam titik sepanjang perbatasan sepanjang 209 kilometer.
Thailand bahkan mengerahkan enam jet tempur F-16 — salah satunya melakukan serangan udara terhadap target militer di wilayah Kamboja. Pihak Kamboja mengecam tindakan tersebut sebagai “agresi militer yang sembrono dan brutal”.
Foto-foto dari lokasi memperlihatkan militer Kamboja menggunakan peluncur roket BM-21 buatan Rusia, serta truk militer dengan senjata anti-pesawat di Provinsi Oddar Meanchey. Di Thailand, para pengungsi terlihat berlindung di stadion Universitas Rajabhat Surindra, Provinsi Surin.
Sementara itu, antrean panjang warga Thailand tampak di depan Palang Merah untuk mendonorkan darah mereka, sebagai bentuk solidaritas terhadap korban konflik yang terus meningkat. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


