Pada Kamis (24 Juli), bentrokan militer paling berdarah dalam lebih dari satu dekade meletus di perbatasan Thailand dan Kamboja. Kedua negara saling menarik duta besar mereka dan menutup perbatasan secara total. Pejabat lokal melaporkan bahwa serangan mengenai SPBU dan minimarket, dengan sebagian besar korban jiwa adalah pelajar. Dewan Keamanan PBB akan mengadakan rapat darurat untuk membahas konflik ini.
EtIndonesia. Laporan kantor berita AFP menyebutkan konflik terbaru ini menandai eskalasi tajam dalam sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Kedua pihak mengerahkan tank, artileri, dan pasukan darat, dengan korban tewas setidaknya mencapai 14 orang.
Pada 24 Juli, kedua negara saling menuduh pihak lain memulai tembakan di dekat dua kompleks candi di perbatasan. Kamboja meluncurkan roket dan artileri ke arah Thailand, sementara militer Thailand membalas dengan serangan udara menggunakan jet tempur F-16 yang menyasar pangkalan militer Kamboja.
Pihak Thailand menuduh Kamboja menyerang fasilitas sipil. Kementerian Kesehatan Thailand melaporkan bahwa satu prajurit dan setidaknya 11 warga sipil tewas, sebagian besar akibat serangan roket di dekat SPBU di Provinsi Sisaket, Thailand Timur Laut.
Minimarket di SPBU tersebut terbakar hebat. Pejabat provinsi menyatakan bahwa sebagian besar korban tewas adalah pelajar yang sedang berada di dalam toko saat kejadian. Selain itu, 35 orang lainnya terluka.
Sebuah rumah sakit dengan 30 tempat tidur di Distrik Phanom Dong Rak, Provinsi Surin, juga terkena serangan artileri. Kaca jendela pecah dan sebagian atap runtuh.
Seorang tentara yang berjaga di pintu masuk rumah sakit mengatakan kepada AFP: “Kami mendapat informasi intelijen bahwa Kamboja akan menyerang.”
Prajurit tersebut menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan. Rumah sakit ini juga pernah terdampak bentrokan besar antara Thailand dan Kamboja pada tahun 2011, sebagian staf telah dievakuasi sejak 23 Juli sebagai langkah antisipasi.
Reaksi Internasional
Sejak 2008, perbatasan Thailand dan Kamboja memang kerap mengalami insiden kekerasan sporadis. Bentrokan besar terjadi pada 2011. Pada Mei lalu, kedua pihak kembali terlibat kontak senjata singkat, menewaskan seorang tentara Kamboja.
Baru-baru ini, Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau di wilayah perbatasan yang disengketakan, menyebabkan lima tentaranya terluka. Thailand pun memanggil pulang duta besarnya dari Kamboja dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok. Pada 24 Juli, Kamboja juga menurunkan hubungan diplomatiknya dengan Thailand ke tingkat paling rendah dan mengusir diplomat Thailand dari Phnom Penh.
Sumber diplomatik kepada AFP mengatakan bahwa Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan darurat tertutup pada 25 Juli pukul 15.00 waktu setempat, atas permintaan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, untuk membahas konflik mematikan di perbatasan.
Amerika Serikat, Prancis, Uni Eropa, dan Tiongkok (sekutu dekat Kamboja) menyerukan dialog damai antara Thailand dan Kamboja. Kamboja sendiri adalah bekas koloni Prancis.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan: “Amerika Serikat mendesak agar permusuhan segera dihentikan, warga sipil dilindungi, dan konflik diselesaikan secara damai.”
Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, menyatakan bahwa Thailand tidak menyatakan perang terhadap Kamboja. Ia menuduh Kamboja menggunakan senjata berat menyerang wilayah Thailand tanpa target yang jelas dan menyebabkan korban jiwa di kalangan sipil.
Ia menambahkan bahwa selama pertempuran di perbatasan belum berhenti, perundingan dengan Kamboja tidak mungkin dilakukan. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


