Putaran ketiga perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang digelar di Turki pada Rabu 23 Juli, hanya berlangsung kurang dari sejam dan berakhir tanpa hasil. Ukraina berharap dapat mengadakan pertemuan antara para pemimpin kedua negara sebelum batas waktu gencatan senjata yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yaitu akhir Agustus. Namun demikian, harapan tersebut belum mendapat tanggapan positif dari Rusia. Hingga kini, belum ada terobosan nyata dalam upaya mencapai gencatan senjata.
EtIndonesia. Asap hitam membumbung di luar gedung apartemen, beberapa mobil hangus terbakar, dan warga berhamburan menyelamatkan diri.
Seorang warga Kharkiv, Oksana, mengatakan, “Bom menghantam gudang di sana. Kami tinggal di dekatnya. Astaga.”
Pada Kamis dini hari, bom luncur Rusia yang sangat dahsyat menghantam sebuah permukiman di Kota Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina. Serangan ini menyebabkan sedikitnya 33 orang terluka, termasuk beberapa anak-anak dan seorang bayi berusia 28 hari.
Sementara itu, di selatan Ukraina, wilayah bersejarah pusat Kota Odessa juga diserang oleh drone Rusia. Pasar makanan Prevoz yang dikenal sebagai “Jantung Odessa” terbakar hebat, menyisakan kesedihan mendalam bagi warga setempat.
Di satu sisi, Rusia terus melancarkan serangan; di sisi lain, perwakilannya mengadakan pembicaraan damai dengan delegasi Ukraina di Istanbul. Namun, perundingan ini—yang baru pertama kali digelar dalam tujuh minggu terakhir—berlangsung hanya 40 menit dan berakhir tanpa kemajuan.
Masih tersisa lebih dari sebulan dari ultimatum 50 hari yang sebelumnya diberikan Presiden Trump kepada Rusia. Pada 14 Juli lalu, Trump memperingatkan Presiden Putin bahwa jika tidak ada gencatan senjata dalam waktu 50 hari, Amerika Serikat akan menjatuhkan sanksi berat.
Atas dasar itu, Ukraina mengusulkan agar pertemuan antara Presiden Zelensky dan Presiden Putin dapat digelar sebelum batas waktu tersebut sebagai langkah untuk benar-benar mengakhiri perang.
Ketua delegasi Ukraina, Rustem Umerov, menyampaikan, “Kami mengusulkan agar pertemuan antara para pemimpin digelar sebelum akhir Agustus. Kami siap melakukan gencatan senjata dan memulai perundingan damai yang substansial.”
Namun, Rusia menanggapi bahwa pertemuan antar pemimpin hanya bisa dilakukan untuk menandatangani kesepakatan akhir, setelah semua isu utama sudah disepakati sebelumnya.
Seperti telah diprediksi oleh banyak pihak, putaran ketiga perundingan ini kembali gagal menghasilkan kemajuan konkret terkait gencatan senjata.
Ketua delegasi Rusia, Vladimir Medinsky, hanya menyatakan bahwa “Kami sepakat untuk dalam waktu dekat menukar setidaknya 1.200 tawanan perang di antara kedua pihak.”
Pada hari yang sama dengan perundingan, kelompok tawanan perang terbaru dari Ukraina dan Rusia telah kembali ke negara masing-masing.
Sementara itu, pada Rabu di Kyiv, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Ukraina, Oleksandr Merezhko, bertemu dengan anggota parlemen Inggris sekaligus mantan pemimpin Partai Konservatif, Iain Duncan Smith. Pertemuan itu berfokus pada dukungan Tiongkok terhadap Rusia.
Keduanya sepakat bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menopang ekonomi Moskow, memungkinkan Rusia terus melanjutkan perang. Mereka menekankan pentingnya memperketat sanksi terhadap entitas yang terkait dengan PKT. (Hui/asr)
oleh Yi Jing – NTDTV


