Industri kuliner di Tiongkok tengah mengalami masa sulit. Dari hotel bintang lima hingga warung makan biasa, semua berupaya menyelamatkan bisnis mereka dengan berbagai cara. Semakin banyak restoran mulai meninggalkan ruang VIP yang sebelumnya menjadi sumber utama keuntungan. Sejumlah pemilik restoran mengeluh bahwa, sejak diberlakukannya larangan konsumsi alkohol, omzet harian dari ruangan VIP anjlok hingga 90%.
EtIndonesia. Laporan dari Red Food Network (红餐网) menyebutkan ruang VIP yang dahulu sangat menguntungkan kini justru menjadi beban bagi para pemilik restoran. Semakin banyak restoran yang memilih untuk menyingkirkan ruang VIP mereka.
Di sebuah restoran di Shandong yang memiliki 10 ruang VIP, hanya dua atau tiga meja yang terisi setiap harinya. Sebuah restoran waralaba di Hefei yang memiliki lebih dari 40 ruang VIP rata-rata hanya menerima belasan tamu per hari. Bahkan ada restoran dengan 7 ruang VIP yang hampir selalu kosong, dengan tingkat reservasi di bawah 20%.
Ada pula restoran yang mengalami penurunan omzet harian hingga 90%. Salah satu pemilik berkata dengan nada putus asa, “Kalau terus seperti ini dua bulan lagi, kami akan mempertimbangkan untuk tutup.”
Selama ini, konsep “meja biasa untuk menarik keramaian, ruang VIP untuk keuntungan” merupakan aturan tak tertulis dalam dunia bisnis kuliner di Tiongkok. Konsumsi di ruang VIP, yang umumnya digunakan untuk jamuan bisnis, dulunya menjadi sumber keuntungan utama bagi restoran kelas menengah ke atas.
Namun dalam dua bulan terakhir, bisnis ruang VIP di banyak restoran merosot tajam. Semakin banyak restoran mulai berpikir untuk menghapus ruang VIP sepenuhnya.
Zhang Jun (nama samaran), pemilik sebuah restoran khas Anhui (Hui cuisine) di Hefei, menghabiskan 2 juta yuan untuk membuka restoran dengan 7 ruang VIP. Sejak Mei lalu, omzet restoran anjlok dari 7.000–10.000 yuan per hari (Rp 16 juta- Rp 23 juta) menjadi hanya 800–2.000 yuan ( Rp 1.8 juta- Rp 4,5 juta). Penurunan ini mencapai 90%.
Pemilik restoran lainnya, Li Mao (nama samaran), dua tahun lalu membuka restoran Sichuan bergaya privat di Chengdu yang hanya menyediakan ruang VIP. Dalam sebulan terakhir, jumlah tamu menurun drastis dan pendapatan turun sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya.
Li Mao menyebut bahwa di daerahnya, restoran yang mengandalkan ruang VIP mengalami penurunan omzet lebih dari 30%.
Wang Ning (nama samaran), yang mengelola restoran Chaozhou di Foshan, mengatakan bahwa banyak restoran yang mengandalkan jamuan bisnis dan ruang VIP kini kesulitan mempertahankan bisnis, dengan omzet turun 20–30%, bahkan ada yang turun hingga setengahnya.
“Tanda paling nyata adalah pesta kelulusan dan jamuan untuk guru menurun drastis. Biasanya Juni dan Juli adalah musim ramai untuk acara-acara seperti itu, tapi tahun ini hampir tidak terdengar,” ujar Wang Ning.
Seorang resepsionis hotel besar di Shaanxi, yang memakai nama samaran Xiao Yi, mengatakan bahwa biasanya sebelum dan sesudah ujian masuk universitas (gaokao), ia bisa menerima banyak pesanan untuk pesta kelulusan dan jamuan guru. Namun tahun ini, hampir tidak ada pesanan sama sekali.
“Ruang VIP juga sangat sepi. Dulu malam hari hampir selalu penuh. Sekarang, kalau sedang ramai pun, siang hari hanya ada satu atau dua meja. Kalau sedang sepi, tidak ada satu pun. Malam hari juga sama,” kata Xiao Yi.
Untuk menyiasati penurunan bisnis yang drastis ini, banyak restoran mulai melakukan pemotongan gaji dan PHK.
Xiao Yi mengungkapkan bahwa juru masak yang bertugas di bagian ruang VIP di hotel tempatnya bekerja kini berada dalam kondisi “setengah cuti, setengah kerja”, bahkan beberapa dari mereka mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan lain.
“Ambil contoh saya sendiri, gaji saya pada Juni turun hampir setengah. Untuk jangka pendek masih bisa bertahan, tapi tidak ada yang tahu kapan bisa kembali normal,” ujarnya dengan nada kecewa.
Xu Zhi (nama samaran), yang menjalankan restoran Kanton di Zhejiang, baru-baru ini mem-PHK tiga pelayan dan dua juru masak.
Zhang Jun juga memecat tiga dari enam staf dapur, dan memberhentikan 30% staf di bagian depan. Sisanya mengalami pemotongan gaji sebesar 20%.
Zhang Jun berkata, “Kalau pendapatan harian kami masih di kisaran seribu dua ribu yuan, paling lama dua bulan lagi kami akan pertimbangkan untuk tutup.”
Zhang Jun juga mengungkapkan bahwa sebuah restoran privat dekat tempat usahanya sudah tutup sejak akhir Mei.
Terkait penyebab merosotnya bisnis ruang VIP, banyak pelaku industri kuliner menduga hal ini erat kaitannya dengan “larangan konsumsi alkohol” yang baru-baru ini diberlakukan. Larangan ini dianggap sebagai pukulan telak bagi restoran kelas atas yang mengandalkan jamuan resmi dan ruang VIP.
Seorang manajer restoran seafood Kanton di Distrik Nanshan, Shenzhen, mengatakan, “Dalam dua minggu pertama setelah ‘larangan konsumsi alkohol’ diberlakukan, jumlah pemesanan ruang VIP langsung anjlok 80%.”
Baru-baru ini, restoran besar dan hotel bintang lima di wilayah seperti Anhui, Shaanxi, Jiangsu, Zhejiang, Sichuan, dan Henan yang biasanya mengandalkan ruang VIP, mulai turun ke jalan dan bergabung dalam “pasar kaki lima”.
Banyak pelaku industri mengakui bahwa berjualan di kaki lima dianggap sebagai “penurunan derajat”, bahkan kadang mereka merugi, namun tetap dilakukan demi menjaga keberadaan di benak pelanggan.
“Tujuan kami buka lapak bukan untuk mengejar sedikit arus kas, tapi agar pelanggan masih ingat kami,” kata seorang manajer hotel di Hefei kepada Red Food Network. “Begitu kami tutup total, pegawai bubar, tim hancur, maka restoran itu benar-benar ‘mati’.” (Hui/asr)
Laporan oleh Luo Tingting / Wen Hui – NTD


