Banjir Hebat di Beijing dan Hebei Jelang Pertemuan Beidaihe, Warga Terpaksa Mengungsi ke Atap untuk Minta Pertolongan

EtIndonesia. Menjelang pertemuan rahasia elit Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Beidaihe, banjir besar melanda sejumlah provinsi di Tiongkok. Sejak Kamis (24 Juli), beberapa wilayah kota Beijing mulai tergenang banjir, sementara Provinsi Hebei mengalami hujan deras yang sangat ekstrem dan disebut sebagai bencana historis. Di Kota Zhuozhou, jalanan berubah menjadi sungai, banyak kendaraan terendam air, dan warga terpaksa naik ke atap rumah untuk meminta pertolongan.

 “Sudah banjir besar! Ini seperti hukuman langit bagi Hebei. Halaman rumah sudah seperti di tepi laut!” kata seorang warga setempat. 

Pada 24–25 Juli, Kabupaten Yixian di Kota Baoding, Provinsi Hebei, dilanda hujan ekstrem dengan curah hujan mencapai 362,6 mm dalam waktu 24 jam—memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di wilayah itu. Di Desa Renyizhuang, Kecamatan Tanghu, curah hujan bahkan mencapai 448,7 mm, menyebabkan banjir parah di dalam kota.

Komentar warga:  “Jalan ini sekarang sudah tidak bisa dilewati, dan jalan di sana sudah ambles habis.”

Hari itu, Jembatan Yihezhuang di Yixian juga dihanyutkan oleh arus banjir. Pihak berwenang mengevakuasi 1.697 orang dan mengklaim tidak ada korban jiwa, namun kondisi sebenarnya tidak diketahui secara pasti.

Warga menyebut bahwa pelepasan air dari bendungan di hulu memperparah banjir.

Warga:  “Lihat ini, Sungai Juma meluap! Bendungan di atas sana melepaskan air, lihat arus air ini!”

Beberapa warga membagikan video sambil menangis, memperlihatkan rumah dan jalanan yang sudah tenggelam oleh banjir. Mereka menunggu berjam-jam di tengah hujan deras namun tak kunjung mendapat bantuan.

Warga lainnya berkata:  “Saya sudah menunggu perahu penyelamat sejak tadi di sini.”

“Air sudah sampai ke desa kecil ini, seluruh keluarga kami ada di atap rumah. Lihatlah air ini, tidak bisa keluar, tidak ada jalan keluar!”

Pada hari yang sama, Kota Zhuozhou di Hebei juga mengalami hujan lebat. Sampai pukul 9 pagi, curah hujan rata-rata mencapai 137,2 mm. Status darurat banjir di kota ini dinaikkan dari Level IV menjadi Level III. Daerah seperti Jembatan Huayang, Jembatan Guanyun, ruas Huatian di Jalan Tol Jinggang’ao, dan sekitar Stasiun Kereta Cepat mengalami genangan air paling parah, dan banyak kendaraan terendam.

Keluhan warga lokal:  “Dua tahun terakhir ini, setiap kali hujan pasti banjir. Tahun ini juga sama, Zhuozhou lagi-lagi kebanjiran.”

Sementara itu, Beijing juga meningkatkan status siaga banjir dengan mengeluarkan peringatan hujan lebat level kuning dan mengaktifkan tanggap darurat banjir tingkat tiga.

Pada 25 Juli pagi, warga Beijing membagikan video yang menunjukkan seluruh jalanan tergenang air sejak mereka bangun pagi. Banyak mobil terendam air, orang-orang terpaksa berjalan menerobos air yang di beberapa tempat sudah setinggi pinggang. Sungai Liangshui di Beijing mengalami kenaikan air secara drastis, warga mengingatkan satu sama lain untuk berhati-hati demi keselamatan.

Berdasarkan pengamatan cuaca, dalam tiga hari ke depan, hujan akan terus mengguyur Beijing, dengan intensitas meningkat, khususnya di daerah pegunungan dan wilayah tenggara yang berpotensi tinggi mengalami banjir bandang dan longsor.

Sebelumnya, provinsi lain seperti Guangdong, Shandong, dan Yunnan juga sudah lebih dahulu dilanda banjir besar. Sejumlah bendungan melepaskan air secara bersamaan, menyebabkan sungai meluap dan banjir besar yang berdampak parah di banyak desa dan kota kecil.

Seorang warga Distrik Laiwu, Shandong, bermarga Qi berkata:  “Hujannya sangat deras disertai petir. Tiga bendungan di hulu melepaskan air. Tahun ini airnya luar biasa besar. Sepanjang tepi sungai belum pernah terlihat air sebesar ini. Banjir sudah sampai ke jalan, dan jalanan ditutup. Rumah-rumah sudah kemasukan air dan penuh lumpur.”

Warga yang terdampak menyampaikan bahwa setelah air surut, pemandangan di lingkungan mereka porak-poranda dan sangat memilukan.

Seorang pedagang di Kabupaten Weixin, Provinsi Yunnan, bermarga Li berkata:  “Hujan lebat, pelepasan air bendungan, banjir bandang, tanah longsor… semuanya membuat kacau balau. Semua tempat dipenuhi lumpur. Ini bencana kedua. Yang pertama baru saja kami bersihkan selama dua tiga hari, sekarang semuanya kembali rusak seperti semula. Benar-benar sia-sia, kerugiannya tak terbayangkan.”

Seorang warga desa, Nyonya Wang, dari Weixin juga berkata:  “Sekarang tidak ada tim penyelamat sama sekali. Dulu di sini ada lubang pembuangan air besar, tapi sepertinya sudah tersumbat. Air tidak bisa keluar. Ini kombinasi antara bencana alam dan kelalaian manusia.”

Pertemuan tahunan rahasia PKT, yang dikenal sebagai Pertemuan Beidaihe, biasanya diadakan pada awal Agustus. Namun hingga kini, meski banjir sudah meluas dan menyebabkan kerusakan parah, tidak ada satu pun pejabat tinggi PKT dari Zhongnanhai yang terlihat turun ke lokasi bencana. Hal ini memicu kemarahan dan kecaman dari publik. (Hui/asr)

Laporan oleh Tang Rui dan Xiong Bin untuk NTD 

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine