Liburan musim panas seharusnya menjadi waktu untuk bersantai bagi para siswa, namun belakangan justru sering muncul kabar tentang remaja yang menghilang. Banyak dari mereka ternyata diperdaya dan dibawa ke Asia Tenggara untuk terlibat dalam penipuan daring (telekomunikasi). Korban termuda tercatat baru berusia 14 tahun. Perkembangan kasus ini terus memanas dan menarik perhatian besar dari berbagai kalangan masyarakat.
EtIndonesia. Baru kurang dari dua bulan masa liburan musim panas, setidaknya tujuh remaja di Tiongkok daratan telah dilaporkan tertipu dan dibawa ke kawasan penipuan seperti di Myanmar dan Kamboja. Banyak dari mereka sempat putus kontak dengan keluarga, bahkan ada yang mengalami pemerasan uang tebusan.
Kasus pertama dilaporkan terjadi pada awal Juni, ketika Hu Yixiao (18 tahun), seorang siswa SMA dari Hefei, Anhui, menghilang setelah terbang dari Nanjing menuju Xishuangbanna, Yunnan. Ayahnya, Hu Zongbing, berkeliling ke berbagai provinsi untuk mencari anaknya, serta terus mengunggah informasi pencarian lewat media sosial. Berkat berbagai upaya, Hu Yixiao berhasil kembali ke Tiongkok pada 25 Juli dalam kondisi selamat, meskipun wajahnya tampak sedikit bengkak.
Pada 24 Juni, tiga siswa SMA dari Huanggang, Hubei, berkenalan dengan seseorang yang mereka anggap sebagai “abang besar” di dunia maya. Mereka dibujuk untuk membawa “tanduk badak” ke luar negeri dengan janji akan kembali dalam tiga hari. Lokasi terakhir ponsel mereka terdeteksi di utara Myanmar. Keluarga telah melapor ke polisi dan berusaha mencari sendiri, namun hingga kini belum ada kabar pasti mengenai keberadaan mereka.
Pada 1 Juli, Peng Yuxuan (19 tahun), lulusan SMA dari Hanzhong, Shaanxi, pergi ke Xi’an mencari kerja paruh waktu musim panas. Ia berkenalan dengan seorang wanita lewat aplikasi rekrutmen dan tergoda oleh rayuan “gaji tinggi sebagai penyiar live streaming”, sehingga berangkat ke Lincang, Yunnan, dan kemudian dibawa ke kawasan penipuan di Myanmar. Karena usianya masih muda, pihak pengelola kawasan memutuskan untuk melepaskannya. Peng Yuxuan berhasil kembali ke Tiongkok dengan selamat pada 20 Juli, menjadikannya salah satu dari sedikit kasus yang berhasil lolos.
Masih di Juli, Zhang Yuxi (21 tahun), mahasiswa dari Jining, Shandong, menghilang setelah pergi mencari kerja musim panas pada 5 Juli, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Dua remaja dari Puning, Guangdong — masing-masing berusia 14 dan 16 tahun — juga dibujuk dengan iming-iming “kerja di luar negeri dengan gaji tinggi” untuk pergi ke Myanmar. Geng penjahat bahkan menuntut uang tebusan sebesar 250.000 yuan dari keluarga korban. Saat ini, remaja 14 tahun telah berhasil diselamatkan, sementara yang berusia 16 tahun masih hilang.
Pada 13 Juli, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dari Distrik Guanshanhu, Guiyang, menghilang setelah mengatakan akan mengunjungi rumah temannya. Baru pada malam 21 Juli, orang tua menerima telepon dari anaknya dan memastikan bahwa ia telah berada di kawasan penipuan daring.
Berbagai kasus ini menunjukkan pola yang sama: sindikat kejahatan secara sengaja menargetkan remaja yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit dan minim pengalaman sosial. Mereka menggunakan rayuan seperti “gaji besar”, “penggantian biaya perjalanan”, dan “liburan ke luar negeri” untuk menipu para pelajar. Setelah korban tiba di lokasi, mereka dikurung dan dipaksa ikut serta dalam kegiatan penipuan.
Le Kaian, seorang aktivis oposisi dari Jiangsu, menyatakan bahwa kasus-kasus ini hanyalah “puncak gunung es”. Ia mengatakan, “Di Tiongkok saat ini, persaingan kerja bagi kaum muda sangatlah kejam, seperti gelanggang gladiator. Yang lebih menakutkan, ketika menghadapi pengangguran, penipuan, hilangnya orang, atau bahkan seolah menghilang dari dunia ini — respon dari pemerintah bukanlah tanggung jawab, tetapi justru diam membisu. Ini bukan tragedi individu, melainkan penyakit sosial yang muncul di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok.” (Hui/asr)
Laporan oleh Tian Xin, NTD Television


