EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja kini telah memasuki hari ketiga, dan menjadi eskalasi militer terburuk antara kedua negara sejak konflik perbatasan 2008–2011. Korban jiwa terus bertambah, dengan setidaknya 33 orang dilaporkan tewas—20 di pihak Thailand, sebagian besar merupakan warga sipil, serta 13 di pihak Kamboja, termasuk 8 warga sipil. Ribuan orang dari desa-desa di sekitar wilayah perbatasan telah dievakuasi demi keselamatan.
Perang Terbuka Gunakan Artileri, Tank, dan Jet Tempur
Konflik ini tak lagi terbatas pada baku tembak kecil di perbatasan. Artileri berat, kendaraan tempur lapis baja, jet tempur F-16, hingga satuan pasukan darat telah dikerahkan oleh kedua belah pihak. Sejumlah titik vital di sepanjang perbatasan, terutama di sekitar Kuil Preah Vihear dan kawasan Segitiga Zamrud, menjadi medan tempur utama.
Pihak militer Thailand menuduh Kamboja secara sengaja menyerang fasilitas sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit darurat. Juru bicara militer menyebut serangan itu sebagai bentuk kejahatan perang dan menuntut investigasi internasional. Sementara itu, pemerintah Kamboja bersikeras bahwa semua tindakan yang dilakukan merupakan bentuk pembelaan diri terhadap serangan awal dari Thailand.
PBB dan ASEAN Bergerak, Malaysia Tawarkan Diri Sebagai Mediator
Situasi yang terus memburuk mendorong Dewan Keamanan PBB mengadakan rapat darurat tertutup pada Sabtu malam waktu New York. Meski belum ada resolusi resmi yang dikeluarkan, sejumlah negara anggota mendesak dihentikannya kekerasan dan meminta agar kedua belah pihak menahan diri.
Malaysia, sebagai anggota aktif ASEAN, mengambil inisiatif dengan menawarkan diri sebagai mediator. Pemerintah Thailand mengaku terbuka terhadap usulan gencatan senjata, namun menuntut bukti konkret bahwa pasukan Kamboja benar-benar mundur dari zona merah konflik sebelum duduk di meja perundingan.
Trump Ultimatum: Siap Kenakan Tarif 36% Jika Konflik Berlanjut
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut turun tangan dengan menghubungi langsung kedua pemimpin negara. Dalam pernyataannya kepada pers di Gedung Putih, Trump mengaku telah memperingatkan bahwa jika konflik terus berlanjut, AS siap memberlakukan tarif impor hingga 36% terhadap produk dari kedua negara mulai 1 Agustus.
Trump bahkan membandingkan situasi ini dengan konflik India–Pakistan, dan mengklaim dirinya memiliki kemampuan untuk menjadi penengah efektif dalam konflik regional. “Ini situasi yang tidak akan saya biarkan memburuk. Kita bisa hentikan ini,” ujarnya tegas.
Isu HAM dan Amunisi Terlarang Jadi Sorotan Global
Seiring meningkatnya intensitas pertempuran, beberapa organisasi hak asasi manusia internasional mulai menyuarakan kekhawatiran atas penggunaan senjata dan amunisi yang diduga tergolong ekstrem, bahkan dilarang dalam hukum perang. Bukti-bukti awal menunjukkan adanya penggunaan ranjau jenis baru dan proyektil pembakar yang menimbulkan kerusakan masif pada area pemukiman warga.
Kawasan sengketa di sekitar Kuil Preah Vihear dan Segitiga Zamrud yang telah lama menjadi sumber ketegangan kembali menjadi titik api konflik. Sengketa wilayah ini pernah menyebabkan bentrokan berdarah pada 2008 hingga 2011, dan kini muncul kembali dalam bentuk yang lebih brutal dan terbuka.
Diplomasi atau Perang Panjang?
Meskipun upaya diplomasi sedang berjalan, belum ada tanda-tanda konkret bahwa kedua belah pihak akan segera mencapai kesepakatan. Ketegangan di lapangan masih tinggi, dan pasukan tambahan dari kedua negara terus bergerak ke wilayah perbatasan.
Pertanyaannya sekarang, apakah tekanan internasional, termasuk dari Trump dan ASEAN, cukup kuat untuk mendorong kedua belah pihak kembali ke jalur damai? Atau, apakah Asia Tenggara sedang memasuki babak baru konflik bersenjata yang berkepanjangan? (***)


