Semakin Rendah Tingkat Kognisi Seseorang, Semakin Sok Tahu Segalanya

EtIndonesia. Pernahkah kamu bertemu orang seperti ini? Belum banyak membaca, tapi selalu merasa paling tahu dan gemar berkomentar di segala situasi. Baru menonton beberapa video sains populer, langsung merasa diri sudah sangat berilmu dan ingin pamer ke mana-mana. Begitu mendengar pendapat yang berbeda dengan dirinya, langsung menolak mentah-mentah dan bahkan ingin “mengajari” orang lain.

Semua itu sangat tepat menggambarkan kalimat dari penulis Shuimu Ran: “Orang yang merasa bisa segalanya, justru seringkali adalah yang paling tidak tahu apa-apa.”

Mereka pikir sudah tahu banyak, padahal sejatinya tingkat kognisinya sangat rendah.

1. Pengetahuan Serpihan Tak Membuatmu Cerdas

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan akademisi Bao Pengshan: “Pengetahuan yang terfragmentasi, bukanlah pengetahuan sejati.”

Tapi sayangnya, banyak orang justru gemar menyerap informasi secara instan dan tidak utuh— Nonton film hanya lewat ringkasan 3 menit, baca buku hanya lewat kutipan, dan merasa sudah memahami dunia.

Mereka mengumpulkan potongan informasi tak utuh seperti mozaik, lalu merasa layak untuk membahas berbagai topik—padahal, apa yang mereka ketahui tak bisa benar-benar dipakai.

Akun edukasi @Qiaomi pernah membagikan pengalamannya.

Dulu, dia sering belajar hanya dengan membaca timeline media sosial dan nonton video pendek. Saat itu, dia merasa sangat hebat: bisa bahas politik global, teknik basket, tren industri—semuanya seperti di luar kepala.

Tapi saat berdiskusi tentang sastra, dan seseorang bertanya tentang sejarah aliran puisi, dia langsung terdiam. Dia tak bisa menjawab satu hal pun.

Inilah bahayanya pengetahuan instan: Informasi dangkal dan serampangan tak akan pernah bisa membentuk pemahaman mendalam dan sistem berpikir yang solid.

Profesor Zhao Dongmei dari Universitas Peking mengatakan: “Tanpa sistem pengetahuan yang utuh, kamu hanya akan jadi korban dari informasi yang tidak utuh.”

Pengetahuan yang terpotong-potong membuat pikiran menjadi kabur dan membingungkan. Alih-alih memperkaya jiwa, informasi seperti itu justru mengikis kemampuan berpikir yang sehat.

Seperti kata kolumnis David Brooks: “Internet tidak membuat manusia jadi lebih tahu, justru menciptakan era baru: era ketidaktahuan yang tersembunyi.”

Hanya dengan belajar secara sistematis dan berpikir mendalam, seseorang bisa lolos dari jebakan pengetahuan palsu.

2. Semakin Tidak Tahu, Semakin Keras Bicara

Peneliti sejarah Li Yunsheng dari Anhui pernah menceritakan pengalaman menarik.

Suatu hari dia naik bus dan mendengar seorang pemuda memperkenalkan Kota Hefei kepada temannya dari luar kota.

 “Dulu Hefei namanya Luzhou, sayang banget ya diganti,” kata si pemuda.

Li Yunsheng yang mendengar, lalu menyela: “Maaf, Hefei dan Luzhou itu wilayah yang berbeda, tidak bisa disamakan.”

Tapi si pemuda langsung membalas dengan nada mengejek: “Yang kamu maksud mungkin Luzhou di Sichuan. Yang saya bilang ini adalah Luzhou, nama lama dari Hefei. Kamu ngerti nggak sih?”

Li Yunsheng hanya menggeleng dan pergi.

Kemudian dalam artikelnya, dia menjelaskan: “Nama Hefei sudah muncul sejak Dinasti Qin, sementara Luzhou baru ada di Dinasti Sui, beda 800 tahun. Dalam sejarah, keduanya memang sempat eksis bersamaan, tapi wilayah administratifnya berbeda.”

Banyak orang di sekitar kita bersikap seperti pemuda itu: Mereka yakin bahwa apa yang mereka tahu adalah kebenaran mutlak, dan merasa paling pintar di ruangan.

Padahal, di mata orang yang benar-benar berilmu, mereka hanya tampak seperti badut yang percaya diri berlebihan.

Contoh lain datang dari atlet bola voli profesional @Jingxi.

Suatu kali, dia mengunjungi lapangan milik temannya dan melihat sekelompok siswa sedang latihan voli. Dia pun ikut bermain dan memberi sedikit bimbingan.

Namun salah satu orangtua yang melihat berkata: “Kamu sudah terlalu tua buat belajar teknik yang benar. Saya lihat gerakanmu juga nggak standar. Kamu pasti belajar otodidak, ya?”

Jingxi hanya tersenyum dan mengangguk.

Temannya yang melihat itu kesal dan bertanya kenapa dia tak menjelaskan bahwa dia atlet profesional.

Tapi Jingxi menjawab: “Dilihat dari sikapnya, dia juga tak akan mengerti. Jadi buat apa dijelaskan.”

Fenomena ini mengingatkan pada “teori terowongan”:

Seseorang yang berada dalam terowongan hanya bisa melihat ruang sempit di depan dan belakangnya. Begitu keluar dari terowongan, barulah dunia terlihat luas.

Orang dengan wawasan sempit hanya bisa memahami realitas dari sudut pandang kecil mereka. Mereka pun jadi mudah menolak dan meremehkan semua hal yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka.

Padahal, dunia ini jauh lebih luas dari yang mereka kira.

3. Sok Tahu = Menghancurkan Diri Sendiri

Dalam serial komedi Korea High Kick (2006), ada satu adegan yang sangat mengesankan.

Suatu hari, Haemi mengajak mertuanya, Sunjae dan Moonhee, ke rumah temannya dari luar negeri. Karena khawatir mertuanya tak bisa bahasa Inggris, dia menawarkan diri untuk menemani.

Tapi Sunjae, yang gengsi tinggi, langsung menolak: “Tenang saja, saya ngerti Inggris kok, dikit-dikit.”

Akhirnya mereka berdua pergi lebih dulu. Tuan rumah menyapa mereka dalam bahasa Inggris, bertanya apakah mereka pembantu yang dipekerjakan.

Sunjae tak mengerti, tapi karena tak ingin terlihat bodoh, dia hanya menjawab “Yes” berkali-kali.

Akhirnya, mereka disuruh membersihkan rumah dan memijat si tuan rumah. Baru setelah Haemi datang, kesalahpahaman itu dijelaskan.

Inilah akibat dari pura-pura tahu—malu yang ditanggung sendiri.

Sastrawan Zhou Guoping pernah berkata: “Keinginan untuk pamer itu muncul karena rasa rendah diri, tapi hasilnya malah jadi bahan tertawaan.”

Orang yang tingkat kognisinya rendah cenderung takut terlihat bodoh, tapi justru karena itulah, mereka makin sering mempermalukan diri sendiri.

Sutradara Gu Xiaogang juga pernah bercerita. Saat muda, dia mengikuti pelatihan fotografi. Suatu hari, dosen menjelaskan teknik pemotretan yang sangat teknis dan jarang dikenal.

Meski dia tak benar-benar mengerti, dia tetap berdiri dan memaksakan penjelasan seolah-olah paham—lengkap dengan istilah teknis.

Teman-temannya pun memberi tepuk tangan.

Namun, dosennya hanya menjawab: “Orang yang pura-pura tahu, selamanya akan jadi orang yang tak berguna.”

Sejak saat itu, Gu Xiaogang berjanji: kalau tak paham, akan mengaku tak paham.

Pembicara publik Luo Zhenyu pernah berkata: “Kalau sedang berhadapan dengan orang hebat, bersikaplah apa adanya. Jangan pura-pura, karena mereka bisa langsung tahu.”

Banyak orang yang demi gengsi, memaksakan untuk terlihat pintar. Tapi di hadapan orang yang benar-benar paham, itu hanyalah lelucon yang mudah dibaca.

Sastrawan Han Yu pernah menulis : “Ilmu punya tingkatan, keahlian punya spesialisasi.”

Artinya, setiap orang pasti memiliki batasan pengetahuan. Bahkan pakar pun punya hal-hal yang tidak ia ketahui.

Maka, di hadapan dunia yang kompleks ini, berkata “saya tidak tahu” bukanlah kelemahan—justru langkah awal menuju pemahaman sejati.

Penutup: Semakin Banyak Tahu, Semakin Tahu Bahwa Kita Tidak Tahu

Filsuf Yunani Zeno pernah berkata: “Pengetahuan manusia itu seperti lingkaran. Semakin besar lingkarannya, semakin luas pula yang tak diketahuinya di luar sana.”

Semakin kamu tahu, semakin kamu sadar banyak hal yang belum kamu ketahui.

Hanya dengan menyadari celah dalam pengetahuanmu sendiri, kamu bisa tumbuh dan memperluas lingkaran itu.

Jangan terlalu cepat merasa tahu segalanya. Karena merasa tahu adalah musuh utama dari proses belajar. Dan belajar—itulah satu-satunya jalan untuk benar-benar tumbuh. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine