Situasi aneh terus muncul di kalangan pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Kini, perpecahan di tingkat atas kini telah menjadi terbuka. Pada 30 Juli, media resmi PKT akhirnya mengumumkan bahwa Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 PKT akan diselenggarakan pada Oktober mendatang di Beijing.
EtIndonesia. Kantor berita milik partai komunis Tiongkok, Xinhua, melaporkan bahwa rapat Biro Politik Komite Sentral PKT telah digelar pada 30 Juli. Rapat tersebut memutuskan bahwa Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 PKT akan diadakan di Beijing pada Oktober. Agenda utama rapat itu adalah Biro Politik menyampaikan laporan kerja kepada Komite Sentral dan membahas penyusunan usulan Rencana Lima Tahun ke-15.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa rapat itu juga menganalisis dan membahas situasi ekonomi saat ini serta menyusun agenda kerja ekonomi untuk paruh kedua tahun ini. Rapat mengakui bahwa saat ini perekonomian Tiongkok masih menghadapi banyak risiko dan tantangan. Selain itu, rapat juga membahas berbagai hal lainnya.
Sidang Pleno Keempat PKT ke-20 seharusnya digelar pada musim gugur 2024, namun ditunda selama satu tahun penuh dan baru dipastikan akan berlangsung musim gugur tahun ini. Penundaan ini pun menjadi sorotan publik.
Pengamat politik, Yue Shan, menyatakan kepada NTD bahwa keputusan untuk menggelar Sidang Pleno pada Oktober ini—yang berarti tertunda setahun penuh—terjadi karena pengaruh krisis internal dan eksternal. Meskipun rapat ini mengusung topik ekonomi, pada dasarnya merupakan rapat politis yang kemungkinan akan menyisipkan informasi terkait pembersihan internal, seperti kasus Miao Hua dan He Weidong, serta kemungkinan penanganan terhadap sejumlah pejabat tinggi lainnya yang bisa diumumkan menjelang atau setelah sidang tersebut.
Menurut Yue Shan, apakah berbagai rumor seputar perebutan kekuasaan di tingkat tinggi PKT akan terbukti atau tidak bisa dilihat dari hasil rapat ini. Apakah akan terjadi perubahan besar atau hanya pertarungan tanpa perpecahan, masih perlu diamati lebih lanjut. Selanjutnya, para pemimpin senior PKT akan ‘menghilang’ secara kolektif ke Beidaihe. Hasil dari pertarungan serta kompromi internal mungkin akan sangat menentukan.
Selama 13 tahun Xi Jinping menjabat, ekonomi Tiongkok terus mengalami kemunduran. Banyak investasi asing hengkang, sektor properti menghadapi risiko kehancuran, tingkat pengangguran tetap tinggi, konsumsi lemah, dan berbagai sektor industri mengalami kemerosotan. Khususnya, kebijakan “nol-COVID” selama tiga tahun yang dikomandoi langsung oleh Xi Jinping telah memberikan pukulan berat terhadap perekonomian dan memicu kemarahan rakyat.
Selain itu, perebutan kekuasaan di kalangan elite PKT makin memanas. Setelah Kongres Nasional ke-20 PKT, banyak pejabat tinggi partai, pemerintahan, dan militer yang diberhentikan atau menghilang.
Yang paling mencolok adalah jatuhnya Qin Gang, Menteri Luar Negeri sekaligus orang kepercayaan Xi, serta Jenderal Miao Hua, Kepala Departemen Politik Tentara. Sementara itu, setelah pertemuan dua sesi (Lianghui) tahun ini, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, He Weidong, juga hilang hingga kini.
Perubahan aneh dalam konstelasi politik PKT ini juga menarik perhatian publik.
Seorang komentator independen, Du Zheng, mengungkapkan dalam artikelnya di media Taiwan pada Juni bahwa ia menerima informasi dari seorang tokoh tua anti-Xi yang cukup terkenal di Beijing, yang mengatakan, “Tunggu saja sebentar, akan ada perubahan di musim gugur; Oktober akan terlihat lebih jelas.” Seorang lainnya, anak dari perwira tinggi militer yang sudah wafat, menyatakan, “Akhir-akhir ini dunia birokrasi di Beijing sangat tidak biasa,” namun ia enggan memberikan detail lebih lanjut.
Pada 16 Juli, Hudson Institute—sebuah lembaga think tank terkemuka di Washington, AS—menerbitkan laporan berjudul “Tiongkok Pasca-Komunis: Bersiap untuk Era Setelah PKT”, yang ditulis oleh Direktur pusat tersebut, Miles Yu.
Laporan itu menegaskan bahwa runtuhnya PKT bukanlah soal “apakah itu akan terjadi”, melainkan “kapan” itu akan terjadi. Bahkan, lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan bahwa kejatuhan PKT tidak akan terjadi secara perlahan, tetapi bisa saja terjadi secara tiba-tiba dalam semalam.
Laporan tersebut berpendapat bahwa meskipun rezim PKT pernah lolos dari berbagai krisis, namun kejatuhan yang mendadak tetap merupakan kemungkinan nyata yang harus diantisipasi.
Seorang purnawirawan Jenderal dari Angkatan Udara AS, Blaine Holt sebelumnya juga menulis dalam Newsweek bahwa PKT berada di ambang kehancuran. Ia menyebutkan Xi Jinping kemungkinan akan menjadi pemimpin terakhir dari rezim tersebut. (Hui/sr)
oleh: Li Enzhen | Li Quan – NTD


