Terungkap Strategi Xi Jinping Menghadapi Kiamatnya Kekuasaan

Epochtimes.com

Profesor Yuan Hongbing, seorang cendekiawan hukum yang tinggal di Australia, dalam wawancara eksklusifnya dengan media Taiwan baru-baru ini, ia secara panjang lebar membeberkan analisisnya tentang strategi politik, militer dan diplomatik Partai Komunis Tiongkok (PKT) saat ini.

 Ia tidak hanya mengungkap perebutan kekuasaan di internal rezim Xi Jinping, dan tujuan sebenarnya dari strategi Taiwan yang dirancang, tetapi juga secara mengejutkan mengungkap strategi kiamatnya kekuasaan PKT untuk menghadapi perubahan internasional.

Profesor Yuan juga mengungkap soal pembelotan pejabat Kementerian Luar Negeri PKT dan pembersihan pejabat tinggi militer, yang mendapat perhatian besar dari dunia luar. 

Diplomat Tiongkok Membelot: Rencana Perang Rusia-Ukraina Terbongkar

Saat mengunjungi Eropa Juli lalu, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengungkapkan kepada Kaja Kallas, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, bahwa Beijing tidak mampu menanggung kegagalan Rusia dalam perang Ukraina dan khawatir Amerika Serikat akan mengalihkan fokus strategisnya ke PKT. Setelah South China Morning Post mengungkap pernyataan langka Wang Yi, hal tersebut menarik perhatian luas dari komunitas internasional.

Dalam wawancara eksklusifnya di program “Garis Depan Politik dan Ekonomi” Taiwan baru-baru ini, Profesor Yuan Hongbing mengatakan bahwa di balik pernyataan publik Wang Yi di Eropa adalah untuk mengekspresikan “kesetiaan” PKT terhadap Rusia. Ia menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena pada  Mei tahun ini, seorang pejabat tingkat satu di Kementerian Luar Negeri Tiongkok membelot ke Rusia karena konflik dengan atasannya, dan membawa serta sejumlah besar dokumen rahasia, termasuk rencana PKT untuk menangani kegagalan perang Rusia-Ukraina yang akan merugikan Rusia.

Yuan Hongbing mengungkapkan insiden ini kepada media “Vision Times” bulan ini, yang menarik perhatian publik di luar negeri. 

Ia lebih lanjut menunjukkan bahwa Rusia sangat tidak puas dengan hal ini dan mengajukan protes kepada PKT melalui nota diplomatik, bahkan menggertak PKT bahwa kekuatan nuklir Rusia dan posisi strategisnya yang kuat jangan diremehkan.

Insiden ini, jelas Yuan, menyebabkan kepanikan strategis yang luar biasa di antara para pemimpin tinggi PKT, karena Rusia merupakan pangkalan logistik energi dan kedalaman strategis yang penting untuk Perang Selat Taiwan. Langkah Wang Yi bertujuan untuk menenangkan pihak Rusia secara terbuka dan menegaskan kembali dukungannya. Segera setelah itu, pihak Rusia memulangkan para diplomat PKT yang membelot.

Standar “Kesetiaan Mutlak” yang Dituntut Xi Jinping

Yuan Hongbing berpendapat bahwa meskipun secara de jure kendali atas militer masih di tangan Xi Jinping, sehingga ia melakukan kontrol pribadi yang ketat terhadap para petinggi militer, menggunakan wewenang atas sistem pengarsipan Kantor Ketua Komisi Militer Pusat, dan menggunakan aturan polisi rahasia mencoba untuk terus mengendalikan militer, tetapi secara de facto kendali atas militer PKT sudah lepas dari genggamannya. Hal ini tercermin dari standar “kesetiaan mutlak” yang dituntut Xi Jinping terhadap para perwira militer.

Yuan Hongbing menekankan bahwa Xi Jinping memiliki dua standar inti untuk menilai apakah seorang perwira benar-benar loyal terhadap dirinya: Pertama, apakah perwira bersangkutan setuju dengan strategi “Perang Penentuan Selat Taiwan” yang diusung Xi Jinping? Kedua, apakah ia setuju dan mendukung strategi besar dasarnya Xi Jinping untuk menyerang Taiwan dan bersedia ikut dalam perang hidup-mati melawan Amerika Serikat?

Dengan mengambil contoh Liu Yazhou, Profesor Yuan mengatakan bahwa Liu Yazhou disingkirkan dari militer justru karena ia tidak setuju dengan strategi di atas. Bahkan Miao Hua, yang dipromosikan sendiri oleh Xi Jinping pun, pernah meragukan kemenangan perang Selat Taiwan dapat diraih oleh PKT. Dalam kasus Miao Hua, Miao Hua dan asistennya mengakui lebih dari 3.000 orang pejabat yang tidak loyal kepada Xi Jinping, termasuk kolusi dengan fraksi Jiang Mianheng.

Yuan Hongbing mengungkapkan bahwa dalam 13 tahun sejak Xi Jinping berkuasa, ia telah menyingkirkan sekitar 700.000 orang pejabat senior partai, pemerintah, dan militer PKT, termasuk lebih dari 100 orang berpangkat jenderal. 

Strategi Besar “Kegilaan Kiamat”: Mempersiapkan Perang Selat Taiwan dan Tujuan Memerintah Seumur Hidup

Yuan Hongbing yakin bahwa semua yang dilakukan Xi Jinping saat ini adalah untuk mempersiapkan diri melancarkan perang di Selat Taiwan. Xi Jinping sangat yakin bahwa pertempuran yang menentukan dengan Amerika Serikat di Selat Taiwan tidak hanya akan menyelesaikan semua kesulitan politik, ekonomi, dan budaya yang dihadapi Xi Jinping. Tetapi, juga memberikan kontribusi abadi bagi tirani PKT dan sekaligus menjadikan Amerika Serikat sebagai negara regional kelas dua. Ambisi strategis “Timur Bangkit Barat Merosot” ini adalah hasrat batinnya, bukan serangan terhadap Siberia yang dispekulasikan oleh para profesor Universitas Harvard.

Profesor Yuan menekankan bahwa tujuan akhir dari Xi Jinping adalah memerintah PKT seumur hidup dan mati di puncak kekuasaan tertinggi seperti Mao Zedong, alih-alih hanya terpilih kembali untuk beberapa periode. Mao adalah seorang diktator yang tidak akan mempertimbangkan mundur, karena mundur berarti kehilangan segalanya.

Demi mencapai tujuan ini, kata Yuan, Mao mendorong ekonomi ke arah militerisme, meningkatkan belanja militer dan persenjataan secara signifikan, menambah jumlah senjata nuklir, dan membentuk badan-badan pengambil keputusan serta koordinasi untuk meningkatkan efisiensi kediktatoran pribadi.

Tantangan yang Dihadapi Umat Manusia: Bagaimana Menghadapi Tirani PKT

Yuan Hongbing akhirnya menyimpulkan bahwa umat manusia saat ini sedang menghadapi badan politik kediktatoran terpusat yang sangat kuat, yaitu tirani PKT. PKT mengendalikan 1,4 miliar penduduk, sumber daya alam yang melimpah, senjata nuklir, teknologi kapal induk, dan tidak merahasiakan ambisinya untuk ekspansi global. Komunitas internasional harus mempertimbangkan secara serius bagaimana menghadapi bencana besar bagi umat manusia di abad ke-21 ini. 

Ia menekankan bahwa perang sebenarnya telah dimulai dan merupakan perang kognitif yang komprehensif. Ia menyerukan kepada semua lembaga pemikir, cendekiawan, dan politisi untuk memfokuskan pemikiran mereka terhadap masalah bagaimana mengalahkan tirani PKT yang jahat ini, daripada mengharapkan PKT runtuh dengan sendirinya. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine