EtIndonesia. Keputusan dramatis diambil pemerintah India: seluruh kilang minyak milik negara secara resmi menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Langkah ini langsung mengguncang pasar energi global dan menandai perubahan besar dalam peta aliran minyak dunia. Hanya dalam waktu singkat, Tiongkok kini menjadi satu-satunya pembeli besar minyak Rusia yang tersisa.
Alasan Utama: Diskon Mengecil & Tekanan AS
Menurut analisis berbagai media internasional, setidaknya ada dua faktor kunci di balik langkah tegas India ini. Pertama, diskon harga minyak Rusia yang selama ini dinikmati importir India kini sudah sangat minim, bahkan mendekati harga pasar global. Kedua, tekanan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara terbuka mengancam akan menjatuhkan sanksi berat bagi negara mana pun yang masih membeli minyak dari Rusia di tengah perang Rusia-Ukraina.
Dalam laporan eksklusif Reuters pada 30 Juli, India disebut sebagai importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia, sekaligus pembeli terbesar minyak Rusia lewat jalur laut sejak konflik Ukraina meletus. Namun dalam seminggu terakhir, empat perusahaan raksasa—Indian Oil Corporation, Hindustan Petroleum, Bharat Petroleum, dan Mangalore Refinery—tidak lagi mengajukan pesanan minyak Rusia. Keempat BUMN tersebut menguasai lebih dari 60% kapasitas kilang nasional, yaitu 5,2 juta barel per hari.
Impor Minyak India Beralih ke Timur Tengah dan Afrika
Sumber industri mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan ini sebelumnya menjadi pelanggan setia minyak murah Rusia. Kini, mereka secara bertahap beralih ke minyak mentah dari Timur Tengah dan Afrika, seperti Murban dari Abu Dhabi. Sementara itu, kilang swasta seperti Reliance Industries dan Nayara Energy masih membeli minyak Rusia, tetapi dalam volume yang jauh lebih kecil.
Situasi ini menjadi titik balik pertama dalam hubungan perdagangan minyak antara India dan Rusia sejak pecahnya perang Ukraina. Dalam beberapa tahun terakhir, India memang menjadi penopang finansial terbesar bagi ekspor minyak Rusia, memanfaatkan harga diskon untuk menopang kebutuhan energinya. Namun, dinamika itu kini berubah drastis.
Trump Ancam Sanksi, Eropa Perketat Embargo
Media terkemuka India, India Today, melaporkan bahwa Presiden Trump telah mengancam akan mengenakan tarif hingga 100% bagi negara yang tetap membeli minyak Rusia, dan menerapkan tarif 25% untuk seluruh produk ekspor India ke AS mulai 1 Agustus. Tekanan tersebut, dipadukan dengan semakin tipisnya margin keuntungan akibat diskon yang menipis, membuat impor minyak Rusia tak lagi menarik bagi India.
Selain tekanan Amerika, India juga menghadapi risiko dari sanksi Uni Eropa. Paket sanksi ke-18 yang akan segera diberlakukan oleh Uni Eropa secara tegas melarang masuknya produk hasil olahan atau “pencucian” minyak Rusia ke pasar Eropa, sehingga ruang gerak bagi ekspor ulang minyak Rusia dari India semakin sempit.
Tak hanya itu, beberapa perusahaan India yang memiliki kerja sama erat dengan Rusia pun kini mulai masuk ke dalam daftar sanksi AS. Gabungan tekanan ekonomi dan risiko reputasi inilah yang akhirnya membuat pemerintah dan BUMN minyak India “menginjak rem” dan menghentikan seluruh pembelian minyak dari Rusia.
Tiongkok: Penopang Terakhir Minyak Rusia
Dengan hengkangnya India, kini perhatian dunia beralih ke Tiongkok. Akankah Beijing tetap menjadi penopang utama ekspor minyak Moskow? Ketika ditanya soal kemungkinan Tiongkok akan dikenai tarif 100% jika terus membeli minyak Rusia, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sempat bergurau.
“Tiongkok tidak suka dicampuri urusan dalam negerinya. Tapi jika mereka ngotot, tarif 100% juga menanti,” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, saat melakukan kunjungan ke Eropa secara terbuka menyatakan dukungan bagi Rusia. Menurut Wang, jika Rusia sampai tumbang, maka seluruh perhatian dan tekanan negara Barat akan langsung beralih ke Tiongkok. Hal ini menegaskan posisi Beijing yang masih tetap ingin menjaga kestabilan “mitra strategis”-nya tersebut, meskipun harus menghadapi konsekuensi ekonomi yang tidak ringan.
Namun, para analis mengingatkan, di balik pergeseran peta energi dunia ini, beban terberat justru harus dipikul oleh rakyat kedua negara. Pasalnya, ketegangan geopolitik dan sanksi ekonomi bisa memicu lonjakan harga minyak dunia, inflasi, hingga gejolak ekonomi yang berlarut-larut.


