Warga Beijing: Bukan Hanya Panti Jompo, Tapi Juga Panti Asuhan “Tersapu Habis” Diterjang Banjir

Beberapa bendungan di Beijing melakukan pelepasan air atau pembukaan pintur air secara tiba-tiba tanpa peringatan, yang menyebabkan bencana besar. Warga sipil mencurigai bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyembunyikan jumlah korban sebenarnya.  Pemerintah hanya mengumumkan bahwa sebuah panti jompo mencatat 31 korban jiwa, namun warga mengungkap bahwa beberapa panti asuhan juga “tersapu habis.” Bahkan seorang pengacara tidak percaya atas laporan angka-angka  korban yang dipublikasikan pemerintah. 

EtIndonesia. Menurut pemerintah Beijing, hingga 31 Juli pukul 12.00 siang, banjir hanya menyebabkan 44 kematian dan 9 orang hilang. Di antaranya, 31 orang meninggal di pusat perawatan lansia di Distrik Miyun, Kota Taishitun, yang tenggelam akibat banjir.

Pemerintah menyatakan bahwa Taishitun adalah wilayah terdampak paling parah. Namun, pejabat lokal sebelumnya menganggap wilayah pusat kota tersebut aman dan tidak memasukkannya dalam daftar evakuasi.

Namun kenyataannya, banjir tetap menyerang tanpa adanya langkah pencegahan.

Seorang warga Beijing bermarga Li mengatakan kepada Epoch Times bahwa ada beberapa panti asuhan juga terendam, tetapi informasi ini ditutup-tutupi oleh pemerintah.

Banjir merupakan ancaman mematikan bagi lansia di panti jompo maupun anak-anak di panti asuhan. Namun situasinya berbeda: jika lansia tewas, pemerintah harus menghadapi tekanan dari keluarga korban, tetapi panti asuhan tidak memiliki keluarga yang bisa menuntut pertanggungjawaban.

Li, yang bekerja dan berhubungan dengan panti asuhan di Beijing, mengatakan bahwa dalam grup sosial panti asuhan, ia melihat bahwa beberapa panti asuhan tersapu habis oleh banjir.

“Bukan cuma panti jompo. Panti jompo masih bisa dilaporkan. Tapi panti asuhan? Ada beberapa, dan kamu bahkan tak bisa laporkan. Semua komentar internal mereka dilarang beredar,” ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa wilayah yang terkena dampak besar antara lain adalah area yang banyak terdapat penginapan dan tempat wisata, seperti di Miyun, yang biasanya ramai saat liburan Mei dan Oktober. Para pelaku bisnis pariwisata, peternak, dan pengusaha lokal semuanya terdampak hebat, bahkan banyak yang mengalami kerugian total.

Seorang pengacara dari Tiongkok, bermarga Zheng, juga mengatakan kepada Epoch Times bahwa ia tidak percaya laporan angka korban resmi. 

“Bukan cuma saya, saya kira banyak orang Tiongkok yang juga tidak percaya. Lihat saja kasus banjir di Zhengzhou pada 20 Juli (2021), awalnya juga dibilang hanya sedikit korban. Tapi setelah Li Keqiang turun tangan, ditemukan lebih dari 300 korban. Jadi sebenarnya, jumlah korban jauh lebih besar dari yang diumumkan pemerintah,” katanya. 

Sedikitnya 10 Bendungan Melepaskan Air, Pemerintah Tutupi Fakta Sebenarnya

Laporan resmi pemerintah tentang banjir di Beijing hanya menyebutkan hujan lebat, tanpa menyebutkan pelepasan air dari bendungan.

Menurut penelusuran Epoch Times pada 27 Juli dari berbagai media daratan Tiongkok, setidaknya 10 bendungan, termasuk Bendungan Miyun, melakukan pelepasan air:

  • Di perbatasan Miyun dan Huairou: Bendungan Qinglongxia.
  • Di Huairou: tiga bendungan—Huairou, Beitaishang, Dashuiyu.
  • Di Pinggu: lima bendungan—Haizi, Xiyu, Huangyu, Yangjiatai, dan Huayu.

Pembukaan pintur air dari Bendungan Miyun dimulai pada 27 Juli pukul 03.00 pagi, saat warga desa masih tertidur. Praktik pelepasan air tanpa peringatan pada malam hari seperti ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Banyak yang menuding pemerintah sengaja melakukan ini agar masyarakat tidak bisa mengumpulkan bukti dan menuntut pertanggungjawaban.

Banjir bandang akibat hujan deras, ditambah pelepasan air besar-besaran dari berbagai bendungan, menyebabkan kerusakan parah di empat distrik Beijing: Miyun, Huairou, Pinggu, dan Yanqing. Banjir juga berdampak parah di banyak daerah di Hebei dan Tianjin, menenggelamkan desa-desa dan menyebabkan banyak warga hilang.

Banyak desa terisolasi tanpa listrik dan jaringan komunikasi. Desa-desa ini sepenuhnya terputus dari dunia luar.

Relawan di daratan Tiongkok melaporkan bahwa hingga pukul 20.30 malam padal 30 Juli, sebuah desa di Kabupaten Xinglong, Kota Chengde, Hebei—Desa Douziyu—masih dalam kondisi tidak bisa dihubungi, dan kondisi korban jiwa belum diketahui.

Postingan warga Beijing di media sosial menyebutkan bahwa di bagian timur laut Distrik Miyun, dekat perbatasan Kabupaten Xinglong, Hebei, terdapat Bendungan Huangyankou. Bendungan itu sudah tua dan rusak, seharusnya warga sudah dipindahkan ke Desa Beizhuang sejak lama, namun hal itu tidak dilakukan. Akibatnya, rumah-rumah warga di sekitar bendungan hancur dan banyak orang hilang.

Warga Hebei lainnya juga mengungkap:“Teman saya dari Chengde. Di atas desa mereka ada beberapa bendungan. Saat musim kemarau, mereka harus bayar untuk mendapat air. Tapi saat hujan deras turun, bendungan-bendungan itu malah melepas air.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine