Jin Ran
Saat perang Rusia-Ukraina memanas dan Korea Utara ikut terlibat, NATO juga aktif bersiap perang. Banyak orang merasa bahwa Perang Dunia Ketiga bisa meledak kapan saja, dan semua tahu: kalau perang dunia benar-benar pecah, Amerika pasti terlibat. Sekarang, dua pemimpin negara pemilik tombol nuklir, yaitu Amerika dan Rusia, tak hanya saling lempar retorika, tapi sudah mulai bergerak secara militer.
Masih ingat sebelumnya saya bahas pernyataan provokatif mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev? Biasanya Trump hanya akan menanggapi dengan unggahan atau peringatan. Tapi kali ini, Trump benar-benar ambil tindakan.
Beberapa hari lalu, Presiden Trump menulis di media sosial bahwa ia kembali menyebut Medvedev secara langsung dan memerintahkan dua kapal selam nuklir strategis menuju perairan dekat Rusia. Dalam unggahannya, Trump menulis:
“Berdasarkan pernyataan Medvedev yang sangat provokatif, saya telah memerintahkan dua kapal selam nuklir dikerahkan ke wilayah yang relevan — untuk berjaga-jaga kalau omong kosong ini berubah menjadi aksi nyata. Perkataan seseorang sangat penting, seringkali bisa memicu konsekuensi tak terduga. Saya sangat berharap kali ini tidak akan sampai ke arah itu.”
Perlu diketahui, sebelumnya Medvedev menyebut bahwa peringatan sanksi Trump terhadap Rusia adalah ‘langkah menuju perang’, bahkan ia menyebut sistem “Tangan Hari Kiamat” era Soviet — sistem balasan nuklir otomatis yang akan meluncurkan rudal jika para pemimpin Rusia dimusnahkan.
Melihat pernyataan semacam itu, saya sempat curiga Medvedev ini waktu muda pernah kena pengaruh Beijing — bukan belajar yang baik, malah mirip preman kecil dari gang sempit Beijing: begitu ketemu lawan yang keras, mundur sambil mengancam paling keras.
Dan, sekarang, dia benar-benar berhadapan dengan yang keras — Trump. Dua kapal selam yang dikirim Trump bukan kapal selam serang taktis biasa, melainkan senjata pemusnah strategis: kapal selam nuklir kelas Ohio, dijuluki “Hantu Bawah Laut”.
Jumat malam, ketika seorang pembawa acara TV bertanya apakah kapal-kapal selam ini sudah mendekati Rusia, Trump menjawab dengan jelas:
“Ya, mereka sekarang sedang mendekati Rusia.”
Mengapa Trump memilih kapal selam nuklir sebagai respons? Alasannya sederhana: kapal selam nuklir adalah kartu truf Angkatan Laut AS, dan kapal selam kelas Ohio adalah senjata pemusnah paling kuat di dunia saat ini. Setiap kapal bisa membawa 24 rudal balistik antar-benua Trident II D5, dan setiap rudal dapat membawa hingga 14 hulu ledak nuklir.
Dalam 15 menit, satu kapal selam bisa menghancurkan 300 kota besar di dunia. Rusia sendiri hanya punya sekitar 216 kota besar dan sedang.
Ada video simulasi yang menunjukkan dampak menyeramkan jika satu rudal Trident D5 menghantam Moskow. Setelah menonton video ini, semua orang sadar bahwa dalam perang nuklir modern, tidak ada pemenang — hanya kehancuran umat manusia.
Jangan lupa, satu kapal selam Ohio bisa bawa lebih dari 300 hulu ledak nuklir. AS punya 14 kapal selam jenis ini, dan 4 lainnya telah dimodifikasi untuk membawa rudal jelajah Tomahawk dan pasukan khusus. Rudal yang menghancurkan fasilitas nuklir Iran beberapa waktu lalu diluncurkan dari salah satu kapal ini. Dan kini, Trump mengirim dua kapal ke perairan dekat Rusia.
Teknologi senyap kapal selam Ohio sangat canggih, bisa bersembunyi hingga 80 hari pada kedalaman 240 meter, dengan tingkat kebisingan hanya 95 desibel, hampir menyatu dengan suara latar laut — makanya disebut “Hantu Bawah Laut”. Sebanyak 70% dari seluruh hulu ledak nuklir AS disimpan di kapal selam ini.
Sekadar informasi, kapal selam generasi berikutnya kelas Columbia akan diluncurkan tahun 2027 dan mulai bertugas pada 2031 untuk menggantikan 14 kapal Ohio saat ini. Kapal ini lebih besar, lebih senyap, dan lebih otomatis — bahkan sebelum beroperasi, para penggemar militer sudah menjulukinya: “Raksasa Hantu.”
Setelah Trump mengumumkan pengiriman kapal selam nuklir, Kremlin tampaknya belum sadar bahaya yang mereka hadapi, masih berani sesumbar pada wartawan:
“Tidak perlu merespons. Rusia sudah mengendalikan wilayah laut yang dituju dua kapal selam AS.”
Kalau ini dikatakan sebelum perang Ukraina, mungkin orang masih percaya. Tapi setelah perang dimulai, kemampuan militer Rusia sudah terkuak habis-habisan, jadi omongan besar semacam itu malah jadi bahan tertawaan. Trump hanya membalas singkat:
“Kami sudah siap sepenuhnya untuk (perang nuklir).”
Yang mengejutkan, Putin malah ikut memanaskan situasi, mengatakan:
“Kalau AS mengerahkan kapal selam nuklir, saya akan mengerahkan rudal Oreshnik.”
Pada 1 Agustus, Putin mengumumkan rudal hipersonik Oreshnik produksi massal pertama telah diserahkan kepada militer Rusia. Bagi saya, yang paling menakutkan adalah ketika dua negara besar terus saling lempar ancaman, makin lama makin keras, dan akhirnya tidak ada ruang untuk mundur. Saat itu terjadi, kita hanya bisa berdoa agar tidak terjadi kesalahan atau salah tembak.
Jadi apa itu rudal Oreshnik? Dijuluki juga sebagai rudal “Hazel”, rudal hipersonik jarak menengah ini diumumkan Putin pada akhir Juni baru masuk tahap produksi massal. Kecepatan maksimal mencapai Mach 11, sulit dicegat, jangkauan 5.500 km, dan bisa membawa 3 hingga 6 hulu ledak independen (MIRV).
Dikatakan bahwa rudal ini pertama kali digunakan secara eksperimen tahun lalu untuk menyerang sebuah pabrik di Dnipro, Ukraina. Saat itu, hulu ledaknya adalah tiruan atau tidak aktif, lebih untuk mengumpulkan data dan menakut-nakuti lawan.
Putin mengklaim “tidak ada senjata di dunia yang bisa mencegat rudal ini”, tapi pakar militer AS mengatakan: memang kecepatannya tinggi, tapi rudal ini masih tergolong jarak menengah, biaya mahal, stok terbatas, dan baru mulai dikerahkan, jadi tidak mungkin mengubah konstelasi militer global, bahkan tidak bisa mengubah jalannya perang di Ukraina.
Beberapa penggemar militer bingung: Rusia baru mengoperasikan kapal selam nuklir generasi baru di Armada Utara. Tapi kenapa Putin justru membalas pengiriman kapal selam nuklir AS dengan rudal jarak menengah, bukan kapal selam nuklir juga?
Analisis para ahli: bisa jadi kapal selam baru Rusia belum siap tempur, atau terjadi sesuatu yang tidak diberitahukan publik.
Hari ini, foto satelit menunjukkan bahwa gempa besar di Kamchatka beberapa hari lalu merusak pangkalan kapal selam nuklir Rusia. Bagian bawah laut belum jelas, tapi dermaga dan kapal tampak geser dan rusak.
Ada penggemar militer yang bercanda:
“Pantas saja Trump kirim kapal selam, karena kapal Rusia rusak parah, jadi Trump sekalian ganti jaga.”
Hari ini, Duta Besar AS untuk NATO mengumumkan bahwa Trump akan mulai menjatuhkan “sanksi ekonomi mematikan” kepada Rusia mulai 8 Agustus, termasuk sanksi sekunder yang keras terhadap negara-negara yang membeli minyak dari Rusia.
Trump menyatakan:
“Rusia tidak akan punya teman maupun mitra dagang.”
Belum lama setelah pernyataan itu, Tiongkok menyatakan tidak akan patuh pada sanksi AS dan akan terus membeli minyak dari Rusia dan Iran. Dengan demikian, Tiongkok, Iran, Rusia, dan Korea Utara resmi membentuk “poros baru.”
Saat Trump mengkritik Tiongkok dan India karena membeli minyak Rusia, drone Ukraina menyerang kilang minyak di wilayah Samara, Rusia, yang berjarak 1.000 km dari perbatasan. Ledakan dan kebakaran besar menerangi langit malam.
Sementara itu, Rusia menjatuhkan bom FAB-3000 seberat 3 ton di sebuah jembatan di Kherson, Ukraina, memutuskan koneksi dua wilayah secara total.
Saat Rusia dan Ukraina saling menyerang, video mengejutkan muncul: Pasukan Kavaleri Kedua Angkatan Darat AS dikerahkan ke dekat perbatasan Polandia-Ukraina, langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat dukungan AS terhadap Ukraina dan kesiapan menghadapi konfrontasi langsung dengan Rusia.
Namun, satu peristiwa lain bisa menjadi pemicu langsung konflik NATO-Rusia:
Rusia mengklaim telah menangkap seorang “perwira tinggi Inggris” dalam operasi rahasia di wilayah Ukraina.
Dan di saat itulah, **Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov tiba-tiba menyatakan: “Perang Dunia Ketiga sudah dimulai.”**
Kalau menurut Anda situasinya sudah cukup kacau, tunggu sampai dengar kabar berikut: Iran mendadak mengancam bahwa jika konflik baru pecah, mereka akan menyerang Israel dengan rudal strategis dalam waktu 48 jam. (Hui/asr)


