Dua Kebiasaan Ini pada Anak Laki-laki Bisa Jadi Tanda Dia Tak Akan Berbakti, Para Orangtua Waspadalah!

EtIndonesia. Setiap orangtua tentu berharap anak laki-lakinya kelak tumbuh menjadi pribadi yang berbakti dan tahu diri. Namun kenyataannya, sikap berbakti tidak datang secara alami—itu adalah hasil dari kebiasaan yang dibentuk sejak kecil.

Ada beberapa perilaku yang mungkin terlihat sepele, namun diam-diam menjadi sinyal apakah anak akan menghargai orangtuanya kelak atau tidak.

Sebagai orangtua, jangan hanya melihat nilai sekolah anak yang bagus atau manisnya ucapan di mulut—perhatikanlah kebiasaannya sehari-hari.

Jika anak laki-laki memiliki dua kebiasaan ini, besar kemungkinan dia akan sulit berbakti saat dewasa. Dan perlu diingat, kebiasaan buruk ini bukan terbentuk dalam semalam—jika tidak segera dikoreksi, orangtua bisa menyesal ketika semuanya sudah terlambat.

Kebiasaan Pertama: Egois dan Hanya Mementingkan Diri Sendiri

Contohnya adalah kisah Bu Zhang dan anak laki-lakinya. Sejak kecil, anak itu selalu dimanjakan. Segala makanan enak selalu untuknya lebih dulu. Mainan tidak boleh disentuh orang lain. Jika keinginannya tidak dipenuhi, dia langsung berkata: “Aku mau!” atau “Berikan padaku!”

Saat makan bersama, makanan favorit langsung dia tarik ke depannya. Ketika orangtuanya hendak mengambil sedikit, dia langsung marah.

Ketika ibunya sakit dan meminta tolong diambilkan air, dia malah menjawab: “Aku lagi sibuk main game, ambil sendiri aja.”

Bahkan setelah bekerja dan punya gaji, seluruh uang habis untuk dirinya sendiri. Tak pernah terpikir memberi sedikit pun untuk orangtua. 

Katanya: “Uang kalian toh nantinya jadi milik aku juga.”

Awalnya, Bu Zhang masih berpikir : “Anak masih kecil, nanti juga akan mengerti.” 

Tapi hingga anaknya menginjak usia 30-an, sikapnya tetap sama—memandang pengorbanan orangtua sebagai hal yang lumrah dan tak perlu dibalas.

Barulah saat itu Bu Zhang sadar: “Anak yang sejak kecil dibiasakan egois, mana mungkin bisa paham makna berbakti?”

Egoisme adalah batu sandungan terbesar bagi bakti anak kepada orangtua. Anak yang hanya memikirkan dirinya sendiri tak akan bisa belajar tentang empati, berbagi, dan rasa syukur. Dia terbiasa menganggap bahwa semua yang dilakukan orangtua untuknya adalah kewajiban. Maka ketika dewasa, dia tak akan merasa perlu untuk membalas, apalagi merawat.

Orangtua yang lelah mengurus cucu? Itu dianggap biasa. Orangtua yang membantu keuangan rumah tangga? Itu dianggap semestinya.

Anak semacam ini tak pernah menempatkan orangtuanya di hati. Bahkan bisa berkata: “Apa yang kalian lakukan belum cukup.”

Jika egoisme tak dikikis sejak dini, anak akan tumbuh dengan pola pikir yang keliru: bahwa kasih sayang orangtua tak perlu dihargai—dan berbakti itu bukan kewajiban.

Kebiasaan Kedua: Bersikap Kasar dan Tidak Hormat kepada Orang Tua

Contoh lain datang dari anak tetangga yang sejak kecil tidak pernah berbicara sopan kepada orangtuanya.

Setiap kali tak sesuai keinginannya, dia langsung membentak:

“Masakanmu nggak enak! Aku nggak mau makan!”
“Katanya mau beliin yang ini, kenapa salah beli? Dasar nggak berguna!”

Orangtuanya hanya menanggapi: “Namanya juga anak-anak, nanti juga sadar sendiri.” 

Tapi mereka tidak pernah menegur atau memperbaiki sikap tersebut.

Hasilnya? Setelah dewasa, anak itu semakin menjadi-jadi.

Ketika ditanya soal pekerjaannya, dia menjawab ketus: “Udah, nggak usah ikut campur. Toh kalian juga nggak ngerti.”

Saat diingatkan agar menjaga kesehatan, dia malah membalas: “Urus aja diri kalian sendiri!”

Orang sekitar mulai khawatir dan menasihati: “Didik anakmu, jangan dibiarkan seperti ini.” 

Tapi pasangan suami istri itu terlalu memanjakan. Akhirnya, ketika keduanya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, sang anak jarang sekali menjenguk. Penyesalan datang terlambat.

Ketika anak terbiasa berbicara kasar kepada orangtua, ketika tidak ada rasa hormat, maka tak akan ada pula rasa ingin berbakti.

Bakti berakar dari rasa hormat. Anak yang membentak dan meremehkan orangtua sejak kecil, tak mungkin tumbuh menjadi anak yang peduli dan tulus merawat di hari tua.

Ia terbiasa membuang rasa hormat, menyimpan emosi buruk, dan melampiaskan amarah justru kepada orang yang paling menyayanginya. Lama-lama, ketidakhormatan itu berubah menjadi ketidakpedulian:

  • Orangtua butuh perhatian = dianggap merepotkan.
    – Orangtua butuh teman bicara = dianggap cerewet.

Kebiasaan merendahkan orangtua adalah bibit dari sikap tidak berbakti yang akan tumbuh dan menyakitkan di masa depan.

Catatan Terakhir: Ajarkan Anak untuk Mengerti dan Bersyukur

Jika anak laki-laki menunjukkan dua kebiasaan ini—yaitu egois dan tidak hormat—maka besar kemungkinan dia akan sulit berbakti ketika dewasa.

Kebiasaan ini adalah cerminan nilai yang tertanam di dalam diri anak. Maka, satu-satunya jalan adalah membentuk dan memperbaiki sejak dini.

Bakti itu bukan bawaan lahir, melainkan hasil pendidikan orangtua.

Jangan memanjakan anak hingga jadi egois—ajarkan pentingnya berbagi dan memberi. Jangan membiarkan anak berlaku kasar—tanamkan nilai rasa hormat dan empati.

Tugas orangtua bukan hanya membesarkan anak secara fisik, tapi juga membentuk karakternya.  Ajarkan bahwa kasih sayang dari orangtua harus dihargai, dan bahwa berbakti adalah kewajiban moral sebagai manusia.

Hanya dengan mendidik anak seperti itu sejak kecil,  barulah ketika usia menua, orangtua akan merasa tenang dan punya sandaran yang bisa diandalkan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine