Pada 1 Agustus 2025, terjadi gempa bumi di wilayah Rancagua, Chili Tengah, yang menyebabkan sebagian dari tambang bawah tanah tembaga terbesar di dunia runtuh. Insiden ini mengakibatkan 1 orang tewas di tempat, 5 orang lainnya terjebak, serta 9 orang mengalami luka-luka. Setelah tim penyelamat membersihkan terowongan bawah tanah sepanjang lebih dari 20 meter, kelima korban yang terjebak ditemukan telah meninggal dunia.
EtIndonesia. Laporan Reuters menyebutkan, jaksa wilayah O’Higgins, Aquiles Cubillo, menyatakan pada 3 Agustus sore bahwa jenazah korban kelima yang terjebak akibat tambang bawah tanah runtuh telah ditemukan. Termasuk 1 korban yang meninggal dunia pada malam kejadian 31 Juli, jumlah korban tewas dalam insiden ini mencapai 6 orang.
Perusahaan tambang tembaga milik negara Chili, Codelco, menemukan jenazah korban pertama pada 2 Agustus, dan tiga jenazah lainnya ditemukan pada 3 Agustus pagi.
Tambang El Teniente (yang berarti “Letnan”) terletak sekitar 100 kilometer di selatan ibu kota Santiago, tepatnya di wilayah Rancagua. Saat runtuhan terjadi, para pekerja berada di kedalaman lebih dari 900 meter di bawah tanah.
Gempa yang mengguncang Chili pada 31 Juli awalnya dilaporkan berkekuatan magnitudo 4,2. Namun, menurut data dari United States Geological Survey (USGS), gempa tersebut sebenarnya berkekuatan magnitudo 5,0 dan tergolong dangkal, dengan pusat gempa berada sekitar 35 kilometer dari Rancagua, yang juga berjarak sekitar 100 kilometer di selatan Santiago.
Tambang ini telah beroperasi sejak awal abad ke-20 dan memiliki lebih dari 4.500 kilometer jaringan terowongan bawah tanah. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


