Operasi terkoordinasi di seluruh Italia menargetkan klan kriminal yang dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba, eksploitasi tenaga kerja dan seksual, pemalsuan, serta pencucian uang.
EtIndonesia. Polisi Italia menangkap 13 orang dalam operasi besar-besaran di seluruh negeri terhadap kelompok kejahatan terorganisir asal Tiongkok, yang disebut pihak berwenang sebagai “pukulan ganda” terhadap jaringan kriminal yang dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba, eksploitasi tenaga kerja dan prostitusi, serta pencucian uang.
Beberapa operasi terkoordinasi dilakukan di total 25 provinsi, termasuk Milan, Roma, Florence, Prato, dan Catania, menargetkan klan-klan Tiongkok yang beroperasi dengan gaya intimidasi ala mafia dan kontrol teritorial, menurut pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Italia dan pernyataan pejabat kepolisian anti-kejahatan terorganisir, Andrea Olivadese.
“Di satu sisi, Kepolisian Negara melakukan aksi ‘berdampak tinggi’ di 24 provinsi Italia yang menargetkan kelompok kriminal Tiongkok yang telah mengakar dan terlibat dalam perdagangan ilegal, eksploitasi prostitusi dan tenaga kerja, pemalsuan produk, peredaran narkoba, dan pencucian uang internasional,” kata Kementerian Dalam Negeri dalam pernyataannya.
Ratusan bisnis komersial dan kendaraan diperiksa, dan lebih dari 1.900 calon tersangka berhasil diidentifikasi, tambahnya.
Selain penangkapan, polisi menyita 550 gram—setara sekitar 5.500 dosis—metamfetamin kristal yang secara lokal dikenal sebagai “shabu,” serta sejumlah senjata dan uang tunai, ungkap Olivadese. Sebanyak 31 orang lainnya dilaporkan ke otoritas kehakiman namun tidak ditahan.
Operasi lainnya yang dipimpin oleh Guardia di Finanza berhasil membongkar jaringan penipuan pajak senilai $3,9 miliar, menyita dana sebesar $858 juta, menutup 266 perusahaan fiktif, dan membekukan 400 rekening bank di wilayah Marche, Lombardia, dan Piemonte, menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri.
“Tindakan terkoordinasi ini menunjukkan bahwa aktivitas mafia Tiongkok bukan sekadar masalah lokal, tetapi merupakan realitas kriminal transnasional yang mampu menggerakkan miliaran dan menyusup ke dalam struktur ekonomi,” kata Menteri Dalam Negeri Matteo Piantedosi dalam pernyataan kementerian.
Ia memuji “profesionalisme dan keteguhan luar biasa” para penyelidik dalam melindungi “warga negara yang jujur dan kesehatan ekonomi negara.”
Penumpasan ini terjadi di tengah pengawasan yang meningkat terhadap pengaruh Tiongkok di Italia, termasuk penyelidikan terhadap “kantor polisi luar negeri” yang dioperasikan oleh otoritas Tiongkok. Kelompok HAM Safeguard Defenders melaporkan pada tahun 2022 bahwa Italia menjadi tuan rumah bagi jumlah pusat gelap semacam itu terbanyak—sebanyak 11 pusat—yang tersebar di kota-kota seperti Roma, Milan, Venesia, Florence, Sisilia, dan Prato.
Pejabat Italia membantah telah mengizinkan keberadaan pusat-pusat tersebut dan berjanji akan meningkatkan pengawasan. Piantedosi menyatakan pada Desember 2022 bahwa sanksi akan dijatuhkan jika ditemukan tindakan ilegal. Italia sebelumnya pernah melakukan patroli bersama dengan polisi Tiongkok, namun kerja sama tersebut dihentikan pada tahun 2022 karena kekhawatiran terhadap catatan hak asasi manusia Beijing dan potensi penyalahgunaan fasilitas tersebut untuk memantau para pembangkang terhadap rezim Tiongkok.
Komisi Anti-Mafia Parlemen Italia juga telah memperluas mandatnya untuk menyelidiki kejahatan terorganisir asal Tiongkok dan dugaan keterkaitannya dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Para analis, termasuk mantan Direktur Yayasan Perguruan Tinggi Pertahanan NATO Giuseppe Morabito, telah memperingatkan bahwa geng-geng Tiongkok di Eropa kerap beroperasi dalam simbiosis dengan aktor-aktor yang terkait negara, sehingga mengaburkan batas antara kejahatan terorganisir dan pengaruh asing.
Operasi besar-besaran Italia ini merupakan hasil dari penyelidikan selama bertahun-tahun terhadap jaringan perbankan bawah tanah Tiongkok yang dituduh menyalurkan miliaran euro hasil dari barang palsu, prostitusi, dan penghindaran pajak kembali ke Tiongkok.
Laporan internasional juga menyoroti jangkauan kejahatan terorganisir Tiongkok di luar Eropa.
Sebuah investigasi bersama oleh ProPublica dan The Frontier pada tahun 2024 menggambarkan hubungan antara diplomat Tiongkok dan tokoh-tokoh kejahatan terorganisir di Amerika Serikat, sementara studi lainnya melacak peran triad Tiongkok dalam memasok kartel Meksiko dengan bahan prekursor untuk fentanyl.
Laporan ini disusun oleh Liang, Olivia Li, dan Reuters
Sumber : Theepochtimes.com


