Misteri Kematian Lebih dari 5 Miliar Bintang Laut Akhirnya Terungkap 

EtIndonesia  — Para ilmuwan mengatakan mereka akhirnya berhasil memecahkan misteri yang menyebabkan kematian lebih dari 5 miliar bintang laut di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara dalam sebuah wabah yang berlangsung selama satu dekade.

Bintang laut—yang juga dikenal sebagai starfish—biasanya memiliki lima lengan, namun beberapa spesies memiliki hingga 24 lengan. Warna mereka beragam, mulai dari oranye polos hingga corak oranye, ungu, cokelat, dan hijau.

Sejak tahun 2013, sebuah penyakit misterius yang disebut penyakit wasting pada bintang laut memicu kematian massal dari Meksiko hingga Alaska. Wabah ini menghancurkan lebih dari 20 spesies dan masih berlangsung hingga kini. Spesies yang paling terdampak adalah bintang laut matahari (sunflower sea star), yang kehilangan sekitar 90 persen populasinya dalam lima tahun pertama wabah.

“Ini benar-benar mengerikan,” kata Alyssa Gehman, ahli ekologi penyakit laut di Hakai Institute di British Columbia, Kanada, yang membantu mengidentifikasi penyebabnya.

Bintang laut yang sehat memiliki “lengan-lengan montok yang mencuat lurus keluar,” katanya. Tetapi penyakit wasting menyebabkan mereka mengembangkan luka, dan bahkan lengan-lengannya benar-benar lepas.

Apa penyebabnya? 

Bakteri, yang juga menginfeksi kerang-kerangan, menurut sebuah studi yang dipublikasikan Senin (5/8/2025)  di jurnal Nature Ecology and Evolution.

Temuan ini “memecahkan pertanyaan lama tentang penyakit laut yang sangat serius,” kata Rebecca Vega Thurber, ahli mikrobiologi laut dari University of California, Santa Barbara, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Butuh waktu lebih dari satu dekade bagi para peneliti untuk mengidentifikasi penyebab penyakit ini, dengan banyak petunjuk palsu serta lika-liku yang rumit sepanjang perjalanan.

Penelitian awal mengindikasikan bahwa penyebabnya mungkin adalah virus, namun ternyata densovirus yang awalnya difokuskan para ilmuwan sebenarnya merupakan penghuni normal dalam tubuh bintang laut yang sehat dan tidak berkaitan dengan penyakit, kata Melanie Prentice dari Hakai Institute, salah satu penulis studi baru ini.

Upaya lain gagal mengungkap penyebab sebenarnya karena para peneliti hanya meneliti sampel jaringan dari bintang laut yang sudah mati, yang mana tidak lagi mengandung cairan tubuh yang mengelilingi organ-organ mereka.

Namun studi terbaru ini menyertakan analisis mendalam terhadap cairan tersebut, yang disebut cairan koelomik (coelomic fluid), di mana ditemukan bakteri Vibrio pectenicida.

“Sangat sulit melacak sumber penyakit lingkungan, apalagi yang terjadi di bawah air,” kata Blake Ushijima, ahli mikrobiologi dari University of North Carolina, Wilmington, yang juga tidak terlibat dalam penelitian. Ia menyebut kerja detektif tim ini sebagai “sangat cerdas dan signifikan.”

Kini setelah para ilmuwan mengetahui penyebabnya, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengambil tindakan demi membantu bintang laut.

Prentice mengatakan bahwa ilmuwan kini bisa menguji bintang laut yang tersisa untuk mengetahui mana yang masih sehat—dan mempertimbangkan apakah perlu direlokasi atau dibudidayakan dalam penangkaran untuk kemudian dilepas kembali ke wilayah yang telah kehilangan hampir semua populasi bintang laut mataharinya.

Ilmuwan juga bisa menguji apakah beberapa populasi memiliki kekebalan alami, dan apakah pengobatan seperti probiotik bisa membantu meningkatkan sistem kekebalan terhadap penyakit ini.

Upaya pemulihan ini penting bukan hanya untuk bintang laut, tapi juga bagi seluruh ekosistem Pasifik, karena bintang laut yang sehat membantu mengontrol populasi landak laut, kata para peneliti.

Bintang laut matahari “terlihat tidak berbahaya saat dilihat, tetapi mereka memakan hampir semua makhluk yang hidup di dasar laut,” kata Gehman. “Mereka pemakan rakus.”

Dengan jumlah bintang laut yang jauh berkurang, populasi landak laut—yang biasanya menjadi mangsa mereka—meledak. Bahkan, dalam waktu satu dekade memakan sekitar 95 persen hutan rumput laut (kelp) di California Utara. Hutan kelp ini menyediakan makanan dan habitat bagi berbagai hewan laut seperti ikan, berang-berang laut, dan anjing laut.

Para peneliti berharap bahwa temuan baru ini akan memungkinkan mereka untuk memulihkan populasi bintang laut. Selain itu, menumbuhkan kembali hutan kelp yang oleh Thurber disebut sebagai “hutan hujan laut.”

Ditulis oleh Christina LarsonSumber : The Associated Press

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine