Banjir Guangdong: Ribuan Rumah Terendam, Pemerintah Tega ‘Korbankan’ Warga demi Proyek Elit?”

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, Provinsi Guangdong, Tiongkok,  kembali diterpa bencana banjir besar yang memporak-porandakan berbagai wilayah. Musibah ini tidak hanya menyebabkan kepanikan luar biasa di tengah masyarakat, tapi juga memunculkan gelombang kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengantisipasi, bahkan dianggap memperparah dampak bencana. 

Berikut ulasan lengkap kondisi terkini, deretan fakta di lapangan, serta kontroversi yang menyelimuti penanganan banjir di Guangdong.

Banjir Mendadak di Malam Hari, Warga Tak Siap Menyelamatkan Diri

Pada 4 Agustus 2025 sekitar pukul 20 : 00 waktu setempat, hujan deras tiba-tiba mengguyur Distrik Duanzhou dan Dinghu, Kota Zhaoqing. Dalam hitungan menit, air meluap dan membanjiri berbagai wilayah, termasuk kampus Universitas Bisnis Zhaoqing, Universitas Zhaoqing, kawasan Beilingshan, hingga kawasan wisata Dinghushan. Air bah begitu kuat hingga menerobos lobi hotel, menyeret banyak orang ke tengah arus deras.

Beberapa korban tewas tersetrum listrik, sementara yang lain masih berjuang menyelamatkan diri. Banjir juga menyebabkan gua-gua di perbukitan jebol, menghantam rumah-rumah warga. Di tengah malam yang gelap dan mencekam, warga hanya bisa bertahan semampunya sambil berharap air segera surut.

Seorang warga tampak mencoba menenangkan diri di atas mobil yang sudah terendam. Pada bagian depan mobilnya tertulis kalimat penuh harap: “Guangzhou Patu Winery, bertahanlah!” Banyak warga memilih berlari mencari tempat aman saat air surut, namun gelombang banjir terus datang silih berganti.

Kebijakan Pemerintah Dinilai Malah Memperburuk Situasi

Seperti bencana sebelumnya, pemerintah daerah turun ke lapangan dan menutup akses jalan di beberapa terowongan yang rawan. Namun langkah ini justru menuai kritik keras: air berlumpur dari gunung malah mengalir deras ke kedua sisi, menghancurkan deretan toko dan usaha warga.

Seorang pemilik toko menuturkan kekecewaannya: “Dua toko saya, dengan stok barang lebih dari satu miliar rupiah, semua terendam. Seumur hidup baru kali ini mengalami bencana separah ini.”

Kondisi kota pun semakin kacau—mobil-mobil terendam, suara klakson bersahutan tiada henti, dan pemandangan malam berubah menjadi kepanikan massal.

Viral di Media Sosial, Tapi Tak Masuk Trending

Menurut laporan Jimu News, sejak pagi hingga malam tanggal 4 Agustus 2025, hujan deras hingga ekstrem terus mengguyur Zhaoqing dan sekitarnya. Banyak kawasan tergenang, toko-toko terendam, dan aktivitas lumpuh total. Anehnya, di platform media sosial seperti Weibo, musibah sebesar ini justru tak masuk trending topic nasional. Banyak netizen mempertanyakan mengapa banjir terparah dalam 100 tahun terakhir ini justru “disembunyikan” dari sorotan utama.

Pemerintah Tiongkok dinilai tak benar-benar peduli pada rakyat yang kehilangan rumah dan harta benda. Banyak isu besar seperti ini “dikunci” dari pemberitaan utama, sementara isu-isu sepele justru dimunculkan ke permukaan.

Dongguan dan Shenzhen: Kota Industri Tak Luput dari Terjangan Banjir

Keesokan harinya, 5 Agustus 2025, video-video viral menunjukkan Kota Dongguan juga dikepung banjir semalam suntuk. Salah satu caption video bahkan menyindir: “Semalam masih baik-baik saja, pagi-pagi bangun sudah tak bisa keluar rumah.” 

Bus kota terendam, dan meski kondisi parah, banyak warga tetap memaksakan diri berangkat kerja. Para kurir makanan tetap mengantar pesanan di tengah genangan air—potret kerasnya hidup rakyat Tiongkok yang harus menghadapi bencana tanpa perlindungan.

Dongguan selama ini dikenal sebagai kota makmur, namun sistem drainasenya dinilai gagal total. Mobil-mobil pribadi dan kendaraan umum terendam, warga merugi besar karena pemerintah tidak juga memperbaiki infrastruktur. 

“Semuanya habis, bahkan tikus pun tak ada tempat berlindung,” keluh salah satu warga.

Kondisi serupa terjadi di Shenzhen. Pada 5 Agustus 2025 pagi, jalanan berubah jadi sungai, pabrik dan toko pakaian terendam, aktivitas ekonomi lumpuh. Pemerintah Shenzhen bahkan mengeluarkan peringatan merah untuk hujan deras, yang terakhir kali terjadi pada 2018.

Pelepasan Air Bendungan Diam-diam: Kebiasaan yang Mengundang Petaka

Yang mengejutkan, musibah banjir tahun ini juga dipicu oleh kebiasaan buruk pemerintah: pelepasan air bendungan tanpa peringatan. Di sepanjang Sungai Shima, 15 bendungan kecil di Dongguan sekaligus membuka pintu air di malam hari, menyebabkan kawasan industri, pabrik, hingga perumahan warga terendam habis-habisan.

Pak Xie, pemilik pabrik, kepada media asing menuturkan : “Semalam hujan deras, tiba-tiba bendungan-bendungan dibuka, semua banjir. Dua mobil saya tenggelam, saya baru sadar ketika air sudah naik setinggi badan. Puluhan juta rupiah lenyap, hasil kerja bertahun-tahun habis sudah.”

Pak Chen, pekerja pabrik di Fenggang, juga mengatakan : “Hujan deras mulai jam tiga pagi, tak ada info bendungan akan dibuka. Setengah empat air sudah naik drastis, lantai satu penuh lumpur, semua mobil terendam, tak ada tempat tidur lagi.”

Bahkan alarm banjir baru dinyalakan setelah listrik padam dan rumah sudah tergenang air, menambah kesan bahwa pemerintah sengaja “mengorbankan” rakyat.

Banjir Bukan Sekadar Musibah Alam, tapi Juga Akibat Kelalaian Pemerintah

Musim hujan selalu menjadi momok di Tiongkok, namun yang paling memprihatinkan adalah kebiasaan pemerintah yang berulang kali melepaskan air bendungan tanpa peringatan, bahkan hingga dini hari. Tindakan ini dianggap banyak pihak sebagai bentuk pengabaian terhadap keselamatan warga, bahkan disebut setara dengan “mengorbankan nyawa rakyat.”

Sebuah video viral memperlihatkan seorang pejabat berkata : “Tidak mungkin pelepasan air bendungan diumumkan lebih dulu. Kalau diberitahu, rakyat pasti menuntut ganti rugi. Tapi kalau dilepas diam-diam, bisa diklaim sebagai bencana alam. Setelah itu, cukup berikan mie instan ke korban, mereka akan berterima kasih.”

Tragedi Serupa Berulang, Pemerintah Tak Pernah Belajar

Dari tragedi banjir Zhengzhou tahun 2021, Hebei 2023, hingga Guangdong kali ini, pola penanganan pemerintah selalu sama: abai, menutupi fakta, dan minim tanggung jawab. Bahkan, ada laporan pemerintah mengirim pekerja untuk membobol tanggul di tengah malam, meski warga menolak keras. Akibatnya, desa-desa sekitar tenggelam dalam sekejap.

Semua ini hanya demi menyelamatkan proyek mercusuar seperti Xiong’an dan kawasan prioritas lain, dengan mengorbankan wilayah-wilayah lain yang dianggap kurang penting. Ironisnya, Tiongkok adalah negara dengan bendungan terbanyak di dunia—lebih dari 80 ribu unit—namun rakyatnya selalu jadi korban, baik saat musim kering maupun musim hujan.

Rakyat Tiongkok Mulai Sadar, Propaganda Tak Lagi Menenangkan

Kini, tindakan pelepasan air bendungan secara sembarangan terjadi di banyak daerah, tanpa mempertimbangkan keselamatan jiwa dan harta rakyat. Pemerintah terus menebar janji manis dan propaganda, namun di balik layar, mereka dinilai semakin dingin dan tak punya belas kasihan. Perlahan tapi pasti, rakyat mulai sadar bahwa air mata dan darah mereka selama ini hanyalah “harga” yang dianggap wajar oleh penguasa.

Kesimpulan:  Banjir besar di Guangdong sekali lagi membuka mata publik akan lemahnya tanggap darurat dan minimnya kepedulian pemerintah terhadap rakyat kecil. Musibah ini menjadi potret buram penanganan bencana di Tiongkok, di mana nyawa manusia seolah tak lebih berharga dari proyek-proyek pemerintah. Tragedi demi tragedi pun terus berulang, sementara rakyat hanya bisa bertahan di tengah kepedihan dan keputusasaan.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine