Peduli pada Orang Lain, dan Toleran dalam Hidup

EtIndonesia. Setelah membaca kisah ini, kamu akan sadar—apa yang perlu kita ubah dalam hidup?

Jawabannya sederhana: Sedikit lebih peduli pada orang lain, dan sedikit lebih lapang dada terhadap hidup.

Cerita ini dimulai begini:

Sebuah keluarga sedang sibuk menyiapkan kue khas Tahun Baru. Setelah seharian bekerja keras, akhirnya kue-kue itu selesai juga. Sang menantu meletakkannya di lantai dapur untuk didinginkan.

Tak disangka, sang suami pulang kerja dan—tanpa sengaja—menginjak kue tersebut.

Dia langsung menarik kakinya yang penuh adonan dan berkata dengan malu: “Maaf sekali… aku benar-benar tidak sengaja!”

Belum sempat suasana canggung menyebar, adik perempuannya langsung menyahut: “Salahku juga. Tadi saat aku masuk, aku hampir menginjaknya. Kalau saja waktu itu aku memindahkannya, ini takkan terjadi.”

Lalu sang menantu buru-buru menimpali: “Ah, ini salahku. Setelah membuat kue, seharusnya aku meletakkannya di tempat yang lebih aman.”

Sang ibu mertua pun ikut berkata:”Tadinya lampu dapur menyala. Aku yang mematikannya karena ingin menghemat listrik. Justru malah menyebabkan kerugian yang lebih besar.”

Dan terakhir, sang ayah mertua pun berkata dengan tenang: “Tidak, tidak. Aku sudah beberapa kali masuk dapur hari ini. Seharusnya aku sadar dan mengambil tindakan pencegahan. Ini kesalahan aku juga.”

Satu insiden kecil—menginjak kue— Tapi semua anggota keluarga saling menyalahkan diri sendiri, saling memahami, saling peduli. Suasana itu begitu hangat dan menyentuh.

Dan saat itu… apakah kuenya masih bisa dimakan atau tidak, rasanya sudah tak lagi penting.

Tapi… bagaimana jika ceritanya berbeda?

Bayangkan kalau suami itu langsung marah dan berteriak: “Siapa sih yang naruh ini di sini? Gimana sih?!”

Kira-kira, bagaimana akhir ceritanya? Yang ada hanyalah saling menyalahkan, suasana tegang, dan hati yang saling menyimpan luka.

Dalam Hidup Sehari-hari…

Kita semua adalah pejuang di negeri orang—entah karena pekerjaan, tanggung jawab, atau kehidupan. Lelah, gelisah, dan emosi menjadi hal yang biasa.

Kita memang tidak selalu bisa mengubah nasib atau keadaan, Tapi kita selalu bisa mengubah sikap dan cara pandang kita.

Dan ini bukan berarti kita menyerah pada kehidupan, tapi memberi ruang bagi diri kita sendiri untuk menjalani hari dengan lebih ringan dan lebih bahagia.

Penutup

Sedikit kesabaran, sedikit pengertian, sedikit kelembutan hati…

Seringkali, justru itu yang menyelamatkan hubungan, dan membuat kehidupan jauh lebih damai.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine