Dalam latihan militer multinasional “Talisman Sabre 2025” yang dipimpin Amerika Serikat dan Australia, militer Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya menempatkan rudal hipersonik jarak jauh “Dark Eagle” di kawasan Indo-Pasifik, memicu perhatian luas dunia luar dan kemarahan besar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Para ahli menilai bahwa rudal Dark Eagle merupakan respons AS terhadap perkembangan rudal hipersonik oleh Tiongkok dan Rusia.
EtIndonesia. Rudal hipersonik jarak jauh milik Angkatan Darat AS, “Dark Eagle”, untuk pertama kalinya muncul di kawasan Indo-Pasifik.
Sebagai salah satu sistem serangan presisi jarak jauh andalan Angkatan Darat AS saat ini, sistem rudal hipersonik Dark Eagle mampu menyerang secara presisi dari jarak jauh, dapat terbang di lapisan atas atmosfer untuk menghindari sistem pertahanan udara, dan disebut memiliki kemampuan “mengubah permainan (game changer)”.
“Dark Eagle adalah sistem senjata hipersonik yang dikembangkan bersama oleh Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS,” ujar Blogger militer terkenal, Mark.
“Data publik menunjukkan jangkauannya 2.800 km, tetapi dalam salah satu uji coba, jangkauannya melampaui 3.800 km. Rusia bahkan memperkirakan jangkauan maksimumnya bisa melebihi 5.000 km,” imbuhnya.
Laksamana John Aquilino, Panglima Komando Indo-Pasifik AS, menyatakan bahwa penempatan ini menunjukkan bahwa Angkatan Darat AS mampu melakukan penempatan dan komando-operasi di lingkungan garis depan.
Angkatan Darat AS juga menyatakan bahwa langkah penempatan terbaru ini memperlihatkan komitmen kuat AS untuk membela Australia, serta tekad melawan strategi “anti-akses/penolakan wilayah” (A2/AD) yang diterapkan oleh negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia.
Mark menambahkan: “Jika diperlukan, AS mungkin akan terlebih dahulu menempatkannya di wilayah daratan utama AS atau di Guam sebagai upaya pencegahan strategis.”
“Kalau AS langsung menempatkannya di sekitar Tiongkok, mungkin akan memicu reaksi keras dari Tiongkok dan Rusia. Jadi AS mungkin akan lebih berhati-hati dalam hal ini.”
Pada 2024, setelah latihan militer gabungan AS-Filipina berakhir, AS untuk pertama kalinya menempatkan sistem rudal jarak menengah “Typhon” di bagian utara Pulau Luzon, Filipina. Penempatan itu kemudian menjadi permanen dan memicu ketidakpuasan keras dari pihak PKT. Kali ini, Kementerian Luar Negeri PKT juga secara terbuka mengkritik AS karena merusak keamanan regional.
Mark menjelaskan: “PKT pada tahun 2019 secara terbuka memamerkan rudal Dongfeng-17 yang menggunakan struktur glide body hipersonik. Angkatan Laut mereka juga telah menempatkan rudal hipersonik YJ-21.”
“Rusia juga memiliki rudal hipersonik seperti Zircon dan Avangard.”
“Faktanya, Tiongkok-lah yang pertama kali menempatkan rudal jarak menengah di kawasan Asia-Pasifik, karena selama Perang Dingin, AS dan Uni Soviet menandatangani Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INF Treaty) yang melarang pengembangan rudal balistik jarak menengah berbasis darat.”
“Tapi Tiongkok? Mereka justru gencar mengembangkan rudal semacam itu selama masa berlakunya perjanjian tersebut.”
“Jadi menurut saya, sikap PKT itu seperti maling teriak maling.”
Dalam siaran pers resmi AS disebutkan bahwa Angkatan Laut juga berencana untuk memasang varian dari rudal Dark Eagle ini pada kapal selam serang bertenaga nuklir kelas Virginia versi terbaru, serta pada tiga kapal perusak kelas Zumwalt.
Berdasarkan dokumen anggaran terbaru, Angkatan Laut berharap bisa menyelesaikan pemasangan rudal hipersonik ini pada ketiga kapal tersebut di kuartal terakhir tahun anggaran 2028. (Hui/asr)
Laporan dari wartawan NTD, Wang Ziyi, langsung dari Amerika Serikat


