Gedung Runtuh di Bangkok, Thailand Tuntut 23 Orang dan Badan Usaha Termasuk BUMN Tiongkok

Pada Kamis (7/8/2025), jaksa Thailand menuntut 23 individu dan entitas, termasuk seorang taipan konstruksi Thailand dan sebuah perusahaan milik negara PKT. Mereka dituduh melakukan pelanggaran dalam proses pembangunan yang menyebabkan runtuhnya Gedung Kantor Audit Nasional di Bangkok saat terdampak gempa kuat dari Myanmar, menewaskan sedikitnya 89 orang (kebanyakan pekerja konstruksi).

EtIndonesia. Pada 28 Maret, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar dan terasa hingga Thailand. Gedung Kantor Audit Nasional setinggi 30 lantai di Bangkok kemudian runtuh. Ini adalah satu-satunya bangunan di Thailand yang ambruk akibat gempa tersebut, memicu pertanyaan tentang kualitas konstruksi di negara itu.

Kantor Jaksa Agung Thailand pada Kamis menyatakan, kasus ini telah diajukan ke pengadilan pidana dan diperkirakan akan diputuskan dalam beberapa bulan ke depan.

“Penyidik sepakat untuk menuntut 23 individu dan badan hukum atas tuduhan pelanggaran profesional dan pemalsuan dokumen,” ujar pernyataan Kantor Jaksa Agung.

Gedung tersebut dibangun bersama oleh salah satu perusahaan konstruksi terbesar Thailand, Italian-Thai Development dan anak perusahaan China Railway No.10 Engineering Group (China Railway 10th Bureau) di Thailand, yang merupakan BUMN Tiongkok.

Dakwaan melibatkan 16 individu dan 7 perusahaan, termasuk nama-nama perwakilan perusahaan yang menjadi terdakwa. Mereka dituduh melanggar peraturan bangunan dan menyebabkan kematian karena kelalaian.

Juru bicara Kantor Jaksa Agung, Sakkasem Nisaiyok, menyebut bahwa terdakwa termasuk Presiden Italian-Thai Development, Premchai Karnasuta, serta seorang eksekutif China Railway No.10 Engineering Group (Thailand).

Karnasuta dan 14 orang lainnya, saat ditangkap polisi pada Mei lalu terkait runtuhnya gedung tersebut, membantah semua tuduhan.

Kepala Kepolisian Metropolitan Bangkok (MPB), Siam Boonsom, sebelumnya mengatakan bahwa hasil penyelidikan awal dan keterangan saksi menunjukkan desain bangunan yang runtuh tidak memenuhi peraturan atau standar industri.

Penyidik menemukan posisi dinding poros lift tidak berada di tengah bangunan, melainkan di bagian belakang. Ketidaksesuaian ini menyebabkan pusat puntir struktur bergeser dari pusat geometrisnya. Saat gempa mengguncang, dinding poros lift dan pilar pondasi runtuh hampir bersamaan, membuat bangunan jatuh vertikal dengan cepat.

Selain itu, sampel semen dari reruntuhan tidak memenuhi standar, dan pemeriksaan baja tulangan menunjukkan penyimpangan dari rencana konstruksi yang telah disetujui. Kantor Forensik Kepolisian juga mengkonfirmasi tanda tangan seorang insinyur profesional di dokumen resmi adalah palsu dan tidak sesuai dengan sampel tulisan tangan yang terverifikasi. (Hui/asr)

Artikel ini mengacu pada laporan Reuters dan AFP

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine