Banjir Terus Melanda, Puluhan Orang Tewas dan Hilang di Gansu, Tiongkok, Kota Zhengzhou Lumpuh Total

EtIndonesia. Beberapa hari terakhir, berbagai daerah di Tiongkok dilanda banjir besar. Hingga  8 Agustus sore, banjir di Kota Lanzhou, Provinsi Gansu, telah menyebabkan sedikitnya 10 orang tewas, puluhan orang hilang dan ribuan orang terjebak. 

Sementara itu, hujan deras yang tiba-tiba mengguyur Kota Zhengzhou, Provinsi Henan, dalam hitungan jam menenggelamkan setengah kota, membuat transportasi lumpuh total. Terowongan Jingguang berubah menjadi sungai dan warga khawatir bencana besar seperti peristiwa 20 Juli empat tahun lalu akan terulang. Topik “Hujan Deras di Zhengzhou” pun segera menjadi trending di internet.

Warga di daerah bencana berkata: “Hujan deras turun di pinggiran barat Zhengzhou. Lihat saja depan rumah saya, lihat Jalan Huaihe — sekarang sudah jadi sungai.”

Warga lain berkata: “Aduh! Zhengzhou banjir lagi. Saya pusing, air meluap seperti lautan, di jalan air sudah setinggi lebih dari satu meter.”

Pada 7 Agustus, meskipun baru saja mengeluarkan peringatan kekeringan oranye, Zhengzhou tiba-tiba diguyur hujan deras yang sangat lebat dan cepat. Menurut laporan, hanya dalam waktu sekitar 8 jam, hujan di Distrik Zhongyuan Zhengzhou sudah setara dengan kapasitas 1,24 kali Danau Xihu di Hangzhou.

Pada hari itu, permukaan air Sungai Jinshui melonjak hingga garis peringatan. Pemerintah kota mengaktifkan tanggap darurat banjir level 3, dan memerintahkan penghentian produksi, kegiatan usaha, sekolah, serta transportasi.

Warga berkata: “Di Stasiun Barat Jalan Jianshe, hujan begitu besar sampai memutus jalan. Mobil-mobil terendam, di sana macet sampai jembatan, di arah sini macet sampai Jalan Qinling. Semua jalan lumpuh.”

Warga lain berkata: “Terowongan Jingguang sudah hampir penuh terendam air, sampai ke Jalan Hanghai.”

Rekaman video menunjukkan pusat kota seperti lautan, jalan berubah menjadi sungai deras, banyak mobil terendam, serta toko dan rumah kebanjiran. Di sekitar Alun-alun Erqi dan Stasiun Kereta Zhengzhou, underpass dan terowongan terputus akibat genangan dalam. Bus dan stasiun metro lumpuh total. Terowongan Jingguang berubah menjadi sungai, membuat warga teringat tragedi Juli 2021 ketika banjir besar merendam jalur metro dan menewaskan ratusan orang.

Warga berkata: “Lihat betapa derasnya air. Bus-bus semua berhenti, tidak berani jalan. Debit airnya mirip sekali dengan banjir 20 Juli dulu.”

Menurut prakiraan cuaca, mulai 8 Agustus pukul 11.00 hingga 9 Agustus pukul 11.00, Zhengzhou masih akan diguyur hujan lebat hingga sangat lebat. Warga mengecam pemerintah yang dianggap tidak belajar dari pengalaman, tata kelola kota tidak membaik, dan khawatir bencana empat tahun lalu akan terulang. Saat itu, hujan lebat di Zhengzhou menewaskan dan menghilangkan sedikitnya 380 orang. Jalur metro tetap beroperasi hingga terendam, menewaskan sedikitnya 14 orang, dan jumlah korban sebenarnya tidak pernah diumumkan secara jelas.

Warga berkata: “Sistem drainase kota Zhengzhou memang bermasalah. Lihat, di Jalur 7 metro ini banyak orang berkumpul. Tidak boleh merekam video, tidak boleh mendekat.”

Warga lain berkata: “Pejabatnya tidak kapok, banjir terjadi berkali-kali. Lihat saja berapa besar kerugian ini!”

Selain Zhengzhou, Kota Lanzhou di Provinsi Gansu juga mengalami hujan lebat yang memicu banjir bandang. Empat kecamatan terkena dampak, termasuk wilayah Pegunungan Xinglong di Kabupaten Yuzhong, di mana lebih dari 4.000 orang terjebak.

Pemerintah menyatakan, hingga 8 Agustus pukul 15.30, banjir telah menyebabkan 10 orang tewas dan 33 orang hilang. Namun, mengingat pemerintah Tiongkok sering menutupi bencana, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

Sebelumnya, Beijing juga dilanda banjir besar dan tanah longsor dengan korban jiwa yang banyak. Warga mengatakan beberapa desa hingga kini belum memulihkan jalan dan listrik, dan korban banjir tidak diizinkan pulang.

Seorang warga Desa Liulimiaozhen, Beijing, bernama Xu berkata: “Air keran masih berwarna kuning, tidak bisa diminum atau dipakai mandi. Jalan-jalan sudah hilang, hampir tidak ada pohon tersisa. Lahan pertanian dan kebun sayur habis tersapu air, tidak ada makanan, bahkan tanahnya hilang. Lereng gunung dipenuhi batu-batu besar akibat longsor. Rumah-rumah runtuh, semua lenyap, tidak ada tempat tinggal.”

Seorang warga Distrik Miyun, Beijing, bernama Zhang berkata: “Kami belum bisa pulang, masih mengungsi di rumah kerabat atau teman. Air di desa tidak bisa diminum.”

Warga menegaskan, banjir di Beijing sebagian besar disebabkan oleh kesalahan manusia akibat pelepasan air bendungan.

Media daratan melaporkan, pada hari terjadinya banjir, termasuk Bendungan Miyun, setidaknya 10 bendungan melepaskan air secara bersamaan. (Hui/asr)

oleh reporter New Tang Dynasty Television  – Tang Rui dan Xiong Bin

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine