Fokus Epoch Times
Fokus Hari Ini: Mega proyek bernilai triliunan renminbi mulai dikerjakan, namun kurangnya data kunci memicu kontroversi. Mengapa proyek hidroelektrik di hilir Sungai Yalung Zangbo ini diprediksi bakal menjadi proyek gagal?
Kurangnya Data Kunci Memicu Kontroversi Terhadap Mega Proyek PLTA yang Mulai Dikerjakan
Pada 19 Juli 2025 di Beijing, “China Yajiang Group”, sebuah badan usaha milik partai mengumumkan berdirinya perusahaan sekaligus meresmikan dimulainya proyek pembangunan PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo yang bertempat di Kota Linzhi, Tibet, Tiongkok.
Kantor Berita Xinhua menyebutkan bahwa proyek ini terutama menggunakan metode pengembangan pelurusan tikungan dan pengalihan air melalui terowongan, dengan membangun 5 buah stasiun turbin yang total investasinya berkisar sekitar RMB 1,2 triliun.
Yang menarik perhatian adalah, selain total investasi proyek, media corong Partai Komunis Tiongkok (PKT) belum memberikan data teknis apa pun terkait pembangunan PLTA ini, terutama kapasitas terpasang dan pembangkitannya. Hal ini tidak konvensional dan melanggar praktik proyek hidroelektrik dunia.
Hanya majalah Caijing yang menyebutkan dalam artikelnya: pakar industri memperkirakan bahwa proyek PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo di masa mendatang akan menghasilkan kapasitas terpasang antara 60 hingga 70 juta kilowatt, kira-kira tiga kali lipat total kapasitas terpasang Bendungan Tiga Ngarai.
Namun, ini hanyalah perkiraan dari rekan-rekan sesama industri, bukan data resmi dari pihak proyek.
Wang Weiluo, pakar konservasi air asal Tiongkok yang kini tinggal di Jerman, menunjukkan bahwa data ini terutama berasal dari Yan Zhiyong, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Power Construction Corporation of China, pada tahun 2020. Yan mengatakan: “Kapasitas terpasangnya kira-kira setara dengan tiga kali lipat Bendungan Tiga Ngarai, yang setiap tahunnya dapat menyediakan hampir 300 miliar kWh listrik.”
Lalu apanya yang tidak beres? Mari kita telusuri mulai dari proyek PLTA tersebut:
Tiongkok adalah produsen sekaligus konsumen listrik terbesar di dunia. Dalam “Laporan Perkembangan Pasar Listrik Tiongkok Tahun 2024” disebutkan bahwa total pembangkitan listrik Tiongkok pada tahun 2024 adalah 10,09 triliun kWh, sementara total konsumsi listrik cuma mencapai 9,85 triliun kWh. Dengan kata lain, kapasitas listrik yang tersedia jauh melebihi konsumsinya. Surplus listrik pada tahun 2024 tercatat sekitar 240 miliar kWh.
Jadi, apa arti surplus listrik 240 miliar kWh? Mari kita bandingkan: Pada tahun 2023, Bendungan Tiga Ngarai menghasilkan 80,3 miliar kWh listrik. Ini berarti surplus listrik pada tahun 2024 akan mencapai hampir tiga kali lipat dari produksi tahunan Bendungan Tiga Ngarai.
Sebagai contoh lain, pada tahun 2024, 6 stasiun pembangkit listrik tenaga air cascade, termasuk Wudongde, Baihetan, Xiluodu, Xiangjiaba, Tiga Ngarai, dan Gezhouba yang total akan menghasilkan daya listrik sebesar 295,9 miliar kWh. Ini berarti sebagian besar listrik yang dihasilkan oleh keenam pembangkit listrik tenaga air ini sudah melebihi kebutuhan.
Dengan kata lain, Tiongkok saat ini tidak kekurangan listrik. Sehingga dapat dikatakan bahwa peluncuran proyek PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo tidak ada hubungannya dengan kekurangan listrik.
Lalu timbullah pertanyaan: apa signifikansi dari peluncuran proyek PLTA Yarlung Zangbo?
Menurut pidato Wakil Perdana Menteri Zhang Guoqing ketika meresmikan “Yajiang Group” pada 19 Juli, ia dengan tegas mengatakan bahwa pembentukan group ini merupakan keputusan besar yang dibuat oleh pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping dari perspektif strategis dan keseluruhan.
Wang Weiluo yakin bahwa proyek PLTA hilir Sungai Yarlung Zangbo ini adalah proyek politik Xi Jinping yang bertujuan untuk mengembalikan status Tiongkok sebagai negara terdepan di dunia dalam bidang hidroelektrik.
Awal tahun ini, Wang Weiluo menulis sebuah artikel untuk Radio France Internationale yang isinya menyebutkan bahwa tujuan politik dari pembangunan proyek-proyek PLTA Tiongkok di bawah pemerintahan PKT adalah untuk meraih nomor satu dunia di bidang hidroelektrik. Sebagaimana dalam menetapkan ketinggian tampungan air dan kapasitas pembangkit listrik Bendungan Tiga Ngarai pada saat perencanaan dulu, semua dimaksudkan untuk mengungguli Bendungan Itaipu yang terletak di perbatasan antara Brasil dan Paraguay yang masuk terbesar di dunia pada saat itu.
Singkatnya, selama bertahun-tahun, Bendungan Tiga Ngarai dan Bendungan Itaipu bersaing ketat untuk memperebutkan gelar pemimpin dunia.
Sebelum tahun 2014, pembangkit listrik tahunan Bendungan Itaipu melampaui Bendungan Tiga Ngarai, dan menduduki posisi teratas dunia. Pada tahun 2014, Bendungan Tiga Ngarai menghasilkan 98,8 miliar kWh listrik, melampaui 87,8 miliar kWh Bendungan Itaipu dan mengamankan kepemimpinan dunia. Namun, pada tahun 2015 dan 2016, Bendungan Itaipu kembali melampaui Bendungan Tiga Ngarai, dan mengamankan kepemimpinan dunia. Setelah penyesuaian intensif, Bendungan Tiga Ngarai melampaui Bendungan Itaipu dalam hal pembangkitan listrik antara tahun 2017 dan 2023.
Sementara segelintir orang Tiongkok bersorak gembira atas dominasi global berkelanjutan dari Bendungan Tiga Ngarai Tiongkok, tahu-tahu Bendungan Grand Inga muncul secara diam-diam dengan 6 bendungan sekaligus di Sungai Kongo Afrika, yang menghasilkan total kapasitas terpasang sebesar 44 juta kilowatt dan pembangkitan listrik tahunan sebesar 300 miliar kWh. Dengan kata lain, baik kapasitas terpasang maupun pembangkitan listrik tahunan Bendungan Grand Inga jauh melampaui Bendungan Tiga Ngarai.
Begini Wang Weiluo menulis dalam artikelnya: “Tugas utama dalam membangun proyek PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo tidak lain adalah untuk mempertahankan 2 pencapaian pertama PKT di dunia dalam proyek hidroelektrik.”
Jadi, berapa sebenarnya kapasitas pembangkit listrik proyek hilir Sungai Yarlung Zangbo? Meskipun pejabat PKT belum memberikan angka spesifik, kiranya angka tersebut tidak sulit untuk kita kalkulasi.
Berdasarkan data hidrologi dari Kota Pai, Tiongkok yang merupakan titik awal proyek tersebut, rata-rata debit tahunan adalah 60,1 miliar meter kubik, dan perbedaan ketinggian dengan Medog County adalah sekitar 2.350 meter. Jika kita menggunakan rumus perhitungan energi hidrolik, rata-rata kapasitas tenaga air di wilayah ini adalah 35,78 juta kilowatt. Tentu saja, ini hanyalah kapasitas teoritis sumber daya tenaga air. kapasitas yang dapat dieksploitasi secara teknis dan ekonomis biasanya lebih rendah karena terjadi penyusutan.
Jika generator berkapasitas 35,78 juta kilowatt beroperasi selama 24 jam sehari sepanjang tahun, maka tenaga listrik tahunan yang dihasilkan maksimum adalah 35,78 juta kilowatt x 24 x 365 hari, atau sekitar 313,4 miliar kWh. Dengan asumsi pembangkitan daya tahunan Bendungan Tiga Ngarai mencapai tiga perempat dari kapasitas maksimumnya, rata-rata pembangkitan daya tahunan proyek PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo adalah 313,4 miliar kWh x 3/4 = 235,05 miliar kWh.
Angka ini jauh dari 60-70 juta kilowatt kapasitas terpasang dan 300 miliar kWh pembangkitan daya yang dilaporkan dalam publisitas awal media, dan jelas tidak dapat dibandingkan dengan PLTA Inga di Afrika.
Menurut Wang Weiluo, upaya politik PKT terhadap pembangunan PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo selain mengaburkan kapasitas daya sebenarnya tetapi juga menyembunyikan potensi risiko kerusakan lingkungan yang bakal ditimbulkannya.
Pertanyaan yang paling mendesak adalah apakah 60 miliar meter kubik air limpasan di muara Sungai di Kota Pai akan dialihkan seluruhnya ke terowongan, atau sebagian tetap dialirkan lewat alur sungai berbentuk U yang asli?
Ada media yang memberitakan bahwa metode ramah lingkungan akan diterapkan terhadap proyek tersebut, dengan melestarikan 30% alur sungai alami. Jika ini sebagai patokan, maka kapasitas pembangkit listrik tahunan maksimum PLTA di hilir ini cuma: 235,05 miliar kWh x 70%, atau sekitar 164,5 miliar kWh. Angka ini jauh berada di bawah PLTA Great Inga, Afrika.
Lebih lanjut, terlepas dari bagaimana air diambil, pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga air berskala besar di lanskap alam paling unik Sungai Yarlung Zangbo ini niscaya akan menyebabkan kerusakan serius pada lingkungan ekologis setempat.
Menurut laporan media publik, lokasi proyek terletak di inti Simpul Tektonik Himalaya Timur di ujung timur Sabuk Orogenik Himalaya, wilayah ini memiliki fitur geomorfik yang sangat kompleks dan pergerakan tektonik yang aktif. Dan terowongan sepanjang 50 kilometer ini harus melintasi 12 zona patahan aktif, menciptakan medan tegangan yang kompleks dan sangat bervariasi. Kedalaman maksimumnya mencapai 1.200 meter, setara dengan membangun gedung 400 lantai di bawah tanah. Seiring penggalian terowongan yang semakin dalam, bahaya dari rekayasa seperti pecahnya batu dan deformasi yang terjadi terhadap batuan lunak yang disebabkan oleh tekanan tanah yang sangat tinggi sangatlah serius.
Menanggapi hal ini, Wang Weiluo mengungkapkan bahwa proyek politik PKT ini belum didemonstrasikan atau dibahas secara publik. Pada 18 Oktober 2022, Insinyur Fan Xiao menerbitkan sebuah artikel tulisannya yang berjudul “Ketidaklayakan Pengembangan PLTA di Grand Canyon Yarlung Zangbo dari Perspektif Risiko Geologi” tetapi artikel tersebut tidak berumur panjang, alias langsung diblokir otoritas berwenang.
Sebagai contoh lainnya, yaitu pada Maret 2022, Zhao Jindong, anggota Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok dan akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, menyatakan bahwa bagian tengah dan hilir Sungai Yarlung Zangbo di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet bagian tenggara memiliki lanskap alam yang langka, membentuk inti dari Hotspot Keanekaragaman Hayati Global Himalaya Timur, dan memiliki nilai ekologis unik kelas dunia. Akademisi Zhao Jindong mengusulkan penguatan konservasi keanekaragaman hayati di kawasan Grand Canyon Yarlung Zangbo dan pembentukan taman nasional di sana.
Namun, tindakan PKT bertentangan dengan rekomendasi para ahli ini. Wang Weiluo menunjukkan bahwa pembangunan PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo melanggar serangkaian hukum lingkungan Tiongkok, termasuk Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Republik Rakyat Tiongkok, Undang-Undang Perlindungan Ekologi Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, dan Peraturan Cagar Alam. Pembangunan ini juga melanggar hukum internasional, termasuk Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Konvensi Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia.
Mengapa Proyek PLTA yang Menelan Biaya Triliunan Yuan ini Dicurigai Bakal Gagal?
Apakah proyek PLTA ini tidak akan gagal dengan begitu banyaknya masalah yang dihadapi?
Kepada media Epoch Times Wang Weiluo mengatakan bahwa proyek PLTA tersebut berpotensi menjadi proyek gagal itu bergantung pada definisi tentang bagaimana masyarakat menilainya. Misalnya, jika sebuah proyek dianggarkan sebesar satu triliun yuan tetapi pada kenyataannya total investasinya mencapai empat triliun yuan, apakah proyek tersebut tidak dinilai gagal? Jika sebuah proyek bertujuan menghasilkan rata-rata 300 miliar kWh listrik per tahun, tetapi setelah proyek selesai hanya menghasilkan tidak lebih dari 250 miliar kWh listrik per tahun, apakah proyek tersebut tidak dinilai gagal? Jika jawabannya adalah ya, maka dapat dipastikan sekarang bahwa PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo adalah sebuah proyek gagal, bukan?!
Wang He, seorang pakar urusan Tiongkok mengatakan kepada Epoch Times bahwa banyak indikasi menunjukkan Xi Jinping secara pelan tapi pasti sedang kehilangan kendali efektif atas kekuasaan tertinggi PKT sejak April 2024. Dengan latar belakang ini, jika kepemimpinan baru bermaksud menjauhkan diri dari “era Xi”, maka proyek PLTA tersebut bisa saja diabaikan. Dengan kata lain, apakah proyek tersebut akan ditinggalkan atau tidak bergantung pada bagaimana keputusan kepemimpinan baru yang menangani proyek tidak jelas ini.
Lebih lanjut, Wang He berpendapat bahwa posibilitas runtuhnya rezim PKT sedang meningkat. Jika PKT runtuh nanti, rezim baru diharapkan mau meninjau ulang dan menyesuaikan arah perencanaan proyek PLTA tersebut, dengan lebih menghormati nasihat profesional dan fokus pada perlindungan ekologi.
Pada saat itu, rencana kompromi yang menyeimbangkan perlindungan ekologi dan pengembangan tenaga air mungkin saja muncul. Apa pun hasil akhirnya, fanatisme politik yang diusung Xi Jinping, yang mengabaikan realitas dan mengejar tujuan “no.1 di dunia”, tidak akan ada lagi.
Akhirnya, izinkan penulis menjelaskan secara singkat konsep desain awal dari proyek PLTA di hilir Sungai Yarlung Zangbo: Sebuah terowongan pengalihan air bawah tanah berdiameter 10 meter dan sepanjang kurang lebih 50 kilometer akan digali dari Kota Pai, Milin. Terowongan ini serupa dengan kanal bawah tanah, utamanya akan memanfaatkan headfall hidrolik untuk menghasilkan listrik. Oleh karena itu, lima pembangkit listrik tenaga air bertingkat akan dibangun di dalam terowongan, masing-masing dengan headfall sekitar 400 meter.
Tidak seperti pembangkit listrik tenaga air tipe bendungan tradisional, PLTA di Sungai Yarlung Zangbo ini 90% strukturnya tersembunyi di bawah tanah, dengan setiap pembangkit listrik tertanam di dalam gunung. Jadi model “klaster rekayasa bawah tanah” ini sangat kontras dengan skala Bendungan Tiga Ngarai yang menenggelamkan lahan seluas 632 kilometer persegi. (***)


